Rekolonisasi dan Pemantauan Laut Dalam, Cara AMMAN Menjaga dan Merawat Ekosistem Sumbawa Barat

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:22 WIB
Tim peneliti dan akademisi tengah menyiapkan media eksperimen Studi Rekolonisasi ekosistem laut dalam di wilayah operasional AMMAN, Sumbawa Barat, guna mengamati pemulihan alami biota laut di atas material tailings. (IST/LOMBOK POST)
Tim peneliti dan akademisi tengah menyiapkan media eksperimen Studi Rekolonisasi ekosistem laut dalam di wilayah operasional AMMAN, Sumbawa Barat, guna mengamati pemulihan alami biota laut di atas material tailings. (IST/LOMBOK POST)

LombokPost-Di atas hamparan endapan tailings di area operasional PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), alam seolah sedang menulis kisahnya sendiri.

Kisah tentang kehidupan yang perlahan kembali, tentang organisme kecil yang beradaptasi dengan lingkungannya, dan tentang ekosistem yang terus bergerak mencari keseimbangannya.

Dari kedalaman laut Sumbawa Barat itulah, Studi Rekolonisasi kemudian merekam satu pesan sederhana, di tempat yang tampak sunyi, kehidupan ternyata terus menemukan jalannya.

Apa yang berlangsung di dasar laut itu tak hanya menjadi cerita tentang kehidupan yang tumbuh kembali. Sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi kemudian menaruh perhatian, pada jejak-jejak perubahan yang terekam melalui pemantauan ilmiah.

Studi Rekolonisasi yang dilakukan di area operasional AMMAN, memperlihatkan adanya kemampuan biota laut untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Baca Juga: Sebelum Bahaya Menjadi Bencana, AMMAN Membaca Risiko dengan Teknologi

Ini bertujuan untuk menguji kemampuan pemulihan alami ekosistem laut melalui pendekatan eksperimental. Dalam pelaksanaannya, wadah terkontrol ditempatkan di dasar laut untuk memantau bagaimana organisme laut merespons dan tumbuh kembali di atas material tailings yang berada di area tersebut. 

“Program rekolonisasi bentos di substrat tailing milik PT AMNT, hasil pengamatan menunjukkan ditemukannya berbagai organisme dasar perairan pada sampel yang diteliti,” tegas M Mukhlis Kamal, akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Diterangkannya, kemunculan organisme seperti udang, cacing laut, dan kerang ternyata berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal. Hal ini mengindikasikan bahwa proses adaptasi dan pemulihan alami komunitas bentos di atas substrat tailing berjalan dengan sangat baik.

Ia juga menambahkan, temuan mengenai keberhasilan rekolonisasi bentos ini sejalan dengan sejumlah studi serupa yang sebelumnya dilakukan oleh AMMAN di lokasi yang sama pada periode tahun 2002, 2005, dan 2009.

Konsistensi data selama lebih dari dua dekade tersebut memberikan dasar ilmiah yang kuat bahwa operasional AMMAN yang dilakukan dengan standar ketat memungkinkan biota laut, khususnya organisme bentos, untuk kembali tumbuh dan hidup secara alami di atas lapisan endapan tailing.

Pandangan serupa juga disampaikan Prof Joni Safaat Adiansyah, akademisi lingkungan hidup dari Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT).

Menurutnya, pendekatan berbasis pemantauan ilmiah dapat memberikan informasi penting dalam memahami interaksi antara aktivitas industri dan kondisi lingkungan.

Data yang tersedia dapat menjadi salah satu referensi dalam menilai bagaimana pengelolaan lingkungan dilakukan serta dampaknya terhadap ekosistem.

“Perlindungan keanekaragaman hayati yang dijalankan perusahaan secara berkala merupakan langkah nyata dalam menjaga potensi ekonomi maritim bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat untuk jangka panjang,” jelasnya.

Baca Juga: AMMAN Bawa AI Ready ASEAN ke Unram, Literasi AI NTB Naik Kelas

Di balik tenangnya laut itu, ada aktivitas industri yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Dari fasilitas pengolahan bijih Batu Hijau, material sisa pengolahan atau tailing dialirkan menuju laut dalam melalui sistem yang telah digunakan PT AMMAN.

Sejak 1999, perusahaan menggunakan sistem penempatan tailing laut dalam atau Deep Sea Tailing Placement (DSTP). Tailing dari fasilitas pengolahan bijih Batu Hijau dialirkan melalui jaringan pipa dan dilepaskan pada kedalaman sekitar 125 meter di hulu Ngarai Senunu.

Dari sana, material tersebut mengikuti kontur alami ngarai hingga mencapai laut dalam dengan kedalaman lebih dari 3 ribu meter. 

Vice President Corporate Communications AMMAN Kartika Octaviana mengatakan, seluruh tailing dari fasilitas pengolahan bijih Batu Hijau dikelola melalui sistem DSTP.

“Pelaksanaannya mengacu pada persetujuan lingkungan dan ketentuan pemerintah yang berlaku,” jelasnya.

Volume tailing yang dihasilkan pun tidak selalu sama. Jumlahnya mengikuti volume bijih yang diolah di fasilitas pengolahan.

Namun, seluruh tailing hasil pengolahan tersebut dikelola melalui sistem penempatan laut dalam. Bagi AMMAN, perjalanan tailing dari daratan hingga ke laut dalam tidak berhenti ketika material itu memasuki jaringan pipa.

Sistem pengelolaannya, kata Kartika, dibarengi dengan pengendalian kualitas sejak dari fasilitas pengolahan, pemantauan kondisi dan integritas perpipaan, hingga pemantauan lingkungan laut secara berkala. 

Pemantauan dilakukan pada berbagai wilayah, mulai dari area penempatan tailing, zona pencampuran, hingga wilayah di luar zona tersebut. Pengawasan juga mencakup kondisi perairan pesisir, sedimen, serta biota laut. 

“Kami melakukan pemantauan secara berkala dan hasilnya dilaporkan kepada pemerintah. Secara periodik, pengelolaan ini juga ditinjau oleh lembaga maupun tenaga ahli independen,” ujar Kartika. 

Parameter yang dipantau pun beragam. AMMAN melakukan pemantauan terhadap kualitas fisik dan kimia tailing, kualitas air laut, hingga kondisi oseanografi. Kehidupan di laut juga menjadi bagian dari pemantauan, mulai dari plankton, bentos, ikan, kerang, hingga kandungan logam terlarut dan logam yang terdapat dalam jaringan biota. 

Frekuensi pemantauan disesuaikan dengan jenis parameter. Ada yang dipantau secara harian atau berkelanjutan, sementara lainnya dilakukan secara bulanan, triwulanan, hingga melalui kajian laut dalam secara periodik.

Seluruh pemantauan dilakukan, pada titik dan zona yang telah ditetapkan dalam persetujuan lingkungan.

Baca Juga: Smelter AMMAN Perkuat Hilirisasi, Ekspor NTB Tak Lagi Andalkan Konsentrat

Pengawasan tersebut, menjadi bagian dari upaya memastikan sistem penempatan tailing tetap berjalan sesuai dengan rancangan dan ketentuan yang berlaku.

Jika dalam proses pemantauan ditemukan ketidaksesuaian, perusahaan wajib melakukan evaluasi dan mengambil tindakan korektif. 

Di sisi lain, AMMAN terus mengembangkan berbagai upaya untuk memperkuat pengelolaan tailing.

Penguatan integritas infrastruktur dan pemantauan berbasis data menjadi salah satu fokus perusahaan. Upaya lain dilakukan melalui peningkatan kualitas mineral recovery agar kandungan mineral berharga yang tersisa dalam tailing dapat semakin ditekan. 

Kajian ilmiah jangka panjang mengenai distribusi tailing dan kondisi ekosistem dasar laut juga terus dilakukan.

Salah satunya melalui Studi Rekolonisasi Bentos yang mengamati kemampuan organisme dasar laut untuk tumbuh dan beradaptasi di atas substrat tailing. 

Selain itu, perusahaan menambah infrastruktur perpipaan agar peningkatan kapasitas pengolahan bijih tetap diikuti dengan sistem pengelolaan tailing yang aman dan terkendali. 

Sementara terkait kemungkinan pemanfaatan kembali tailing sebagai material yang memiliki nilai ekonomi, Kartika mengatakan AMMAN saat ini masih memprioritaskan upaya memaksimalkan perolehan mineral dalam proses pengolahan.

“Tujuannya agar kandungan mineral berharga yang tersisa dalam tailing dapat terus diminimalkan,” kata dia.

AMMAN juga terus mengikuti perkembangan kajian dan teknologi mengenai pemanfaatan material sisa tambang.

Namun, setiap rencana pemanfaatan tailing harus terlebih dahulu melalui kajian teknis, lingkungan, keselamatan, dan kepatuhan terhadap regulasi.

Karena itu, perusahaan belum dapat menyampaikan adanya pemanfaatan tailing secara komersial tanpa didukung hasil kajian dan persetujuan yang memadai. 

Menurut Kartika, keamanan pengelolaan tailing tidak dinilai hanya dari satu hasil pengujian. Ada sejumlah indikator yang digunakan, mulai dari kepatuhan terhadap baku mutu dan persetujuan lingkungan, keandalan infrastruktur, hasil pemantauan air laut, sedimen, dan biota, hingga kesesuaian distribusi tailing dengan zona yang telah disetujui. 

Baca Juga: Perputaran Uang di Pasar Rakyat Tembus Rp 300 Juta

Penilaian tersebut juga memperhatikan tidak adanya dampak material di luar area yang telah diperkirakan. Seluruh indikator kemudian diperkuat melalui pelaporan kepada pemerintah, audit, kajian ilmiah, dan evaluasi independen. 

“Penilaiannya tidak hanya didasarkan pada satu hasil pengujian, tetapi pada rangkaian data jangka panjang dan pengawasan yang berlapis,” jelas dia.

Pengawasan terhadap laut juga berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada perairan, terutama nelayan dan masyarakat pesisir.

AMMAN melakukan pemantauan kualitas lingkungan laut secara rutin, termasuk kajian terhadap ikan dan biota laut. 

Keterlibatan masyarakat serta mekanisme pengaduan terbuka juga menjadi bagian dari pendekatan yang dilakukan perusahaan.

Setiap kekhawatiran yang muncul dapat ditangani melalui komunikasi, verifikasi lapangan, dan kajian teknis apabila diperlukan. 

Apabila hasil pemantauan maupun pengaduan menunjukkan adanya dampak yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan, AMMAN berkewajiban melakukan tindak lanjut melalui tindakan korektif sesuai peraturan dan mekanisme yang berlaku. 

Melalui pengawasan berlapis itu, AMMAN berupaya menjaga agar kegiatan pertambangan tetap berjalan dengan menghormati mata pencaharian, keselamatan, dan hak masyarakat pesisir.

Karena itu, menjaga laut tidak cukup hanya dengan melihat apa yang tampak di permukaannya. Di balik birunya perairan, berbagai proses terus berlangsung dan perlu dipahami melalui pengamatan yang panjang dan terukur.

Selain studi rekolonisasi, AMMAN secara rutin melakukan studi laut dalam (deep sea study) yang melibatkan kolaborasi lintas institusi. Program pemantauan ini melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup (LH), Kementerian Pertahanan, serta Politeknik Ahli Usaha Perikanan KKP.

Keterlibatan berbagai institusi negara dan akademisi independen ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh proses pemantauan lingkungan yang dilakukan AMMAN.

Baca Juga: Kanwil Kemenkum NTB Gencarkan Perlindungan Merek UMKM di Sumbawa Barat, Gandeng PT Amman dan Polres

Mulai dari pengambilan data, analisis, hingga evaluasi yang berjalan secara transparan, akuntabel, dan memenuhi standar ilmiah internasional.

“Sinergi antara AMMAN dan dunia akademik ini diharapkan terus menghasilkan data yang akurat guna memastikan bahwa kemajuan industri pertambangan di Sumbawa Barat tetap berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan laut yang berkelanjutan,” tandasnya. 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
lingkungan Amman teknologi laut ekosistem