Mengenal Sisi Unik Desa Sade: Jejak Kearifan Leluhur yang Tetap Hidup di Tengah Ujian

Chia • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 14:33 WIB
KENANGAN WISATAWAN SAAT BERKUNJUNG: Seorang wisatawan membagikan kenangan saat berkunjung ke Desa Sade, beberapa bulan lalu.
KENANGAN WISATAWAN SAAT BERKUNJUNG: Seorang wisatawan membagikan kenangan saat berkunjung ke Desa Sade, beberapa bulan lalu.
 

LombokPost – Duka kebakaran yang melanda Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, menyisakan kepedihan mendalam. Di balik arsitektur tradisional dan abu yang tersisa, perkampungan suku Sasak ini menyimpan sederet keunikan tradisi dan fakta menarik yang telah bertahan lebih dari 15 generasi:

1. Lantai Bale Berbalut Kotoran Kerbau
Salah satu tradisi paling ikonik di Desa Sade adalah ritual mengepel lantai rumah (bale) menggunakan kotoran kerbau atau sapi segar. Alih-alih menimbulkan bau busuk, campuran kotoran dan tanah liat ini justru membuat lantai menjadi keras, bebas debu, sejuk, serta dipercaya efektif mengusir nyamuk dan serangga.

2. Arsitektur Ramah Lingkungan Tanpa Paku Logam
Bangunan khas Sade, seperti Bale Tani, Bale Kodong, dan lumbung, dibangun menggunakan material alami:

  • Struktur: Kayu dan bambu yang dirangkai menggunakan tali ijuk tanpa paku besi.
  • Atap: Alang-alang kering tebal yang berfungsi menjaga suhu ruangan tetap sejuk di siang hari dan hangat saat malam.

Baca Juga: Penonton Peresean HUT Mataram Galang Dana untuk Warga Sade

3. Pintu Rendah Lambang Penghormatan
Pintu masuk rumah adat dibuat sengaja rendah, mengharuskan setiap orang menundukkan kepala saat melangkah masuk. Struktur ini merupakan simbol sopan santun dan penghormatan kepada pemilik rumah serta nilai-nilai leluhur.

4. Tradisi Menenun sebagai Syarat Menikah
Bagi perempuan di Sade, menenun kain songket (kembaq) bukan sekadar keahlian ekonomi, melainkan syarat adat menuju pernikahan. Seorang perempuan belum diperkenankan menikah jika belum menguasai teknik menenun tradisional yang diwariskan turun-temurun.

5. Tradisi Kawin Culik (Merariq)
Prosesi pernikahan masyarakat Sade mempertahankan tradisi Merariq, di mana calon pengantin pria membawa lari calon mempelai wanita ke rumah kerabatnya sebelum proses lamaran resmi (nyelabar) dilakukan oleh pihak keluarga.

Nilai-nilai kultural dan kearifan lokal inilah yang menjadikan Desa Adat Sade lebih dari sekadar deretan bangunan fisik, melainkan warisan budaya hidup yang kini menjadi fokus utama dalam rencana rekonstruksi pascakebakaran.
 
Editor : Kimda Farida
Sumber : internet
sade kebakaran desa wisata sade lombok tengah Sade NTB Desa Wisata Sade