LombokPost – Krisis air bersih di Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), mulai memukul keras denyut pariwisata. Sedikitnya 300 wisatawan memilih check out lebih awal setelah pasokan air bersih terhenti sejak Kamis (3/9) lalu.
Kondisi ini terjadi saat Gili Trawangan memasuki periode ramai kunjungan wisatawan. Dalam kondisi normal, lebih dari 3.000 wisatawan berada di kawasan tersebut setiap hari.
Di tengah tekanan tersebut, Pemprov NTB mulai menyiapkan langkah untuk memulihkan suplai air bersih. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan, pemerintah tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan sejumlah pihak terkait.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak sederhana. Gangguan suplai air bersinggungan dengan persoalan regulasi, lingkungan, hingga proses hukum.
"Pemerintah tidak ingin persoalan tersebut membuat kebutuhan dasar masyarakat dan aktivitas pariwisata terhenti," kata Miq Iqbal saat mengunjungi Gili Meno bersama Putri Mahkota Swedia Victoria Ingrid Alice Desiree, Minggu (6/9).
Baca Juga: Darurat Air Bersih Gili Tramena, Pemprov NTB Cari Jalan Keluar di Tengah Isu Pidana Lingkungan
Pemprov NTB, kata dia, telah meminta ruang diskresi agar jaringan air yang sudah tersedia bisa kembali dioperasikan sementara. Opsi tersebut menjadi jalan keluar transisi sembari persoalan regulasi dan hukum diselesaikan.
"Dua hari lalu saya sudah berbicara langsung dengan Pak Menteri Lingkungan Hidup untuk menjelaskan situasi kedaruratan ini. Suplai air harus tetap berjalan karena menyangkut kehidupan masyarakat, pelayanan publik, dan keberlangsungan sektor pariwisata," ujar Iqbal.
Dia menyebut, Menteri Lingkungan Hidup telah menyatakan komitmennya membantu mencarikan solusi.
"Kami akan segera mencarikan jalan keluarnya. Kami akan berkomunikasi dengan pihak swasta dan menyelesaikan berbagai persoalan regulasi yang terkait untuk memastikan air bisa segera mengalir kembali," katanya.
Pemprov NTB menargetkan jaringan air bersih dapat kembali beroperasi dalam satu hingga dua hari ke depan.
Sambil menunggu jaringan kembali normal, Pemkab Lombok Utara melakukan dropping air untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan wisatawan.
Miq Iqbal juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, pelaku usaha pariwisata, dan wisatawan yang terdampak.
"Kami mohon maaf kepada masyarakat, pelaku pariwisata, dan para wisatawan yang terganggu. Pemerintah berkomitmen untuk segera menyelesaikan persoalan ini," ujarnya.
Gubernur menegaskan, mengalirkan kembali jaringan yang sudah tersedia merupakan opsi paling memungkinkan untuk jangka pendek. Namun, langkah tersebut hanya bersifat sementara.
"Penyelesaian permanen harus dibangun dengan kepastian hukum serta tetap memperhatikan aspek perlindungan lingkungan dan kepentingan masyarakat," katanya.
Baca Juga: Pemda KLU Siapkan BTT untuk Memenuhi Pasokan Air Bersih di Gili
Sementara itu, pelaku usaha pariwisata mengaku tidak ingin persoalan air bersih kembali berulang tanpa kepastian penyelesaian.
Sebelumnya, Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB Lalu Kusnawan, mengungkapkan ratusan wisatawan terpaksa meninggalkan Gili Trawangan lebih cepat karena kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi.
"Ya, catatan kita ada 300 orang sudah memilih check out lebih awal keluar dari Gili Trawangan," ujar Kusnawan.
Pasokan air bersih dilaporkan terhenti total sejak Kamis (3/9) sekitar pukul 00.00 Wita. Kondisi tersebut membuat sejumlah hotel dan akomodasi kelimpungan memenuhi kebutuhan sanitasi tamu.
Berbagai cara darurat ditempuh. Bahkan, sejumlah hotel disebut sampai menguras kolam renang untuk memenuhi kebutuhan air sanitasi.
Pelaku usaha juga berupaya mendatangkan air dari daratan Pulau Lombok. Namun, cara ini bukan solusi mudah. Biaya operasional pengangkutan air sangat tinggi, sementara volume yang bisa dibawa ke Gili Trawangan terbatas.
Kusnawan mengaku, khawatir jika gangguan tersebut berlangsung lebih lama. Sebab, persoalan serupa bukan kali pertama terjadi.
"Kami tidak tahu kondisi ini sampai kapan. Tapi kalau seminggu masih begini, kami tidak tahu lagi, karena kejadian ini bukan kali ini saja terjadi," tegas Kusnawan yang juga Ketua Asosiasi Hotel Gili Trawangan
Kusnawan mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemkab Lombok Utara dan Pemprov NTB. Bahkan, asosiasi menyiapkan langkah membawa persoalan tersebut langsung ke pemerintah pusat.
"Kami dalam waktu dekat akan bersurat ke Presiden untuk menyampaikan persoalan air bersih di Gili ini. Drafnya sudah kami siapkan dan tinggal dikirim ke Jakarta," katanya.
Editor : Jelo JSumber : Lombok Post