Butuh Rp 250 Juta untuk Display Museum Sade

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 09:30 WIB
BERANGSUR PULIH: Tumpukan kayu menandai tahap awal pembangunan kembali Desa Adat Sade, Lombok Tengah beberapa waktu lalu. (DEWI/LOMBOK POST)
BERANGSUR PULIH: Tumpukan kayu menandai tahap awal pembangunan kembali Desa Adat Sade, Lombok Tengah beberapa waktu lalu. (DEWI/LOMBOK POST)

LombokPost-Pembangunan Museum Sade masih dalam tahap persiapan, Pemprov NTB mulai menyiapkan konsep dan koleksi yang akan ditampilkan.

“Kami sudah menyusun RAB-nya. Dan saat ini sudah tahapan penyusunan naskah akademik dan sudah sampai pada tahapan mengidentifikasi koleksi apa yang sesuai dengan naskah akademik,” terang Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam, Kamis (17/9).

Tahapan pembentukan Museum Sade yang telah disusun tersebut, dilaporkan kepada Ketua Satgas Rekonstruksi Desa Sade, Asisten II Setda NTB Lalu Mohammad Faozal. Museum NTB mengusulkan anggaran mencapai Rp 250 juta.

Baca Juga: Yayasan Cili Community House Trauma Healing Warga Kampung Sade dengan Jalan-jalan

Museum NTB berperan dalam menyiapkan dan men-display koleksi. “Nanti pengelolaannya diserahkan ke masyarakat, bukan bagian dari museum NTB,” ujarnya.

Nuralam mengatakan, kesiapan Museum Sade untuk dinikmati wisatawan saat Motogp Mandalika bergantung pada penyelesaian bangunan.

Setelah bangunan final, pihaknya baru dapat menyesuaikan penataan koleksi dengan ukuran dan pembagian ruang yang tersedia.

“Final bangunan itu kita harus lihat luas bangunannya seberapa, tinggi bangunan seberapa, terus pembagian dimensi dari tema-tema itu,” jelasnya. 

Rancangan sementara, bangunan Museum Sade berukuran sekitar 8x10 meter. Dengan ukuran tersebut, jumlah benda yang akan ditampilkan diperkirakan 30-50 koleksi. “Seperti museum desa,” tandasnya.

Pamong Budaya Madya Museum NTB Bunyamin mengatakan, konsep utama museum mengangkat tema Jejak Kehidupan dari Desa Sade, dibagi menjadi lima subtema.

Baca Juga: MotoGP Jadi Penyemangat Warga Sade Percepat Pembangunan Rumah

Yakni jejak leluhur, ruang dan budaya Sade, selanjutnya Sade mendunia, peristiwa ketika api menghanguskan Sade, serta Sade bangkit dan menyongsong masa kejayaan. 

Sejumlah informasi mengenai sejarah dan benda tertentu akan disajikan melalui infografis. Bunyamin mengatakan, koleksi leluhur seperti pusaka dan naskah kuno sebenarnya masuk dalam rencana untuk ditampilkan karena masyarakat menyebut asal-usul Sade terekam dalam naskah kuno. 

Namun, benda-benda tersebut tidak dapat dikeluarkan. “Itu harus ditampilkan sebetulnya tapi mereka (masyarakat, Red)  tidak berani mengeluarkan benda sejarahnya itu,” jelasnya.

Pada subtema ruang dan budaya Sade, koleksi yang akan ditampilkan antara lain alat rumah tangga, alat upacara, dan alat pertanian.

Untuk menggambarkan peristiwa kebakaran Sade, Museum NTB juga menyiapkan diorama sederhana berukuran sekitar 1 x 1 meter yang menggambarkan, benda-benda terbakar dan abu bekas kebakaran. 

Baca Juga: Pemkab Loteng Bantu Perlengkapan Sekolah Anak Sade

Bunyamin mengatakan, sebagian besar materi museum sudah tersedia, termasuk konsep infografis. Namun, materi audiovisual masih dalam tahap pencarian.

Materi tersebut nantinya dapat memuat kronologi kebakaran serta pandangan masyarakat, tokoh adat, dan pemerintah mengenai masa depan Sade.

“Itu yang mungkin akan kami cari lagi informasinya, sehingga nanti menggunakan layar, jadi tidak hanya gambar, tapi juga ada audiovisualnya,” tandas Bunyamin.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan 6
naskah kuno infografis museum Sade koleksi