LombokPost–Pemprov NTB mulai merumuskan master plan rekonstruksi kawasan Desa Adat Sade, Lombok Tengah. Di tengah proses perencanaan lintas sektor tersebut, warga setempat sudah mulai membangun kembali rumah adat secara mandiri dengan tetap mempertahankan atap ilalang.
“Warga memang sudah mulai membangun rumahnya, dan memasang atap ilalang,” terang Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) NTB Muhammad Ihwan, Rabu (23/9).
Meski pembangunan dilakukan saat master plan belum rampung, Ihwan memastikan pekerjaan warga tidak akan mubazir. Pembangunan tetap mengikuti fondasi rumah sebelumnya dan dilakukan sesuai kesepakatan serta petunjuk yang diberikan pemerintah.
“Tidak ada yang mubazir. Itu berarti sudah sesuai dengan fondasi rumah yang sebelumnya. Iya, sama,” kata Ihwan.
Baca Juga: LPS Salurkan Sembako dan APAR untuk Warga Sade melalui MIM Foundation
Pemasangan atap ilalang dilakukan karena material tersebut sudah dibeli warga. Jika terlalu lama dibiarkan, ilalang berisiko rusak akibat terkena hujan. Karena itu, pemasangan dilakukan lebih dulu pada sejumlah rumah.
Kendati demikian, pembangunan rumah tetap harus mempertahankan karakter rumah adat Sade. Warga diarahkan mengikuti bentuk dan proses pembangunan rumah sesuai adat setempat, termasuk penggunaan ilalang sebagai material atap.
Di sisi lain, pemerintah masih menyusun master plan sebagai acuan penataan kawasan secara menyeluruh. Penyusunan tersebut menjadi bagian dari proses rehabilitasi dan rekonstruksi setelah pemerintah sebelumnya melakukan penanganan pada tahap tanggap darurat. “Rehabilitasi dan rekonstruksi itu perlu study,” ujarnya.
Menurut Ihwan, master plan tidak hanya mengatur pembangunan rumah adat. Penataan juga mencakup lingkungan dan berbagai fasilitas pendukung di kawasan Sade, termasuk air, sanitasi, pemadam, hingga mitigasi bencana.
Baca Juga: Warga Sade Percepat Bangun Hunian, Begini Tanggapan Bupati Loteng
Master plan tersebut disusun secara kolaboratif dengan melibatkan Pemprov NTB, Pemkab Lombok Tengah dan sejumlah stakeholder, termasuk Universitas Mataram (Unram). “Karena ini kerja kolaborasi,” kata dia.
Konsep penataan yang disiapkan juga diarahkan untuk membangun Sade sebagai kawasan kebudayaan. Dengan begitu, rekonstruksi tidak sebatas mengembalikan bangunan rumah adat, tetapi juga menjaga ekosistem kebudayaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
“Jadi tidak hanya masalah rumahnya saja. Tapi ekosistem yang di dalamnya,” jelas Ihwan.
Ia menyebut unsur kebudayaan serta ritual adat tetap menjadi bagian yang dipertahankan. Begitu pula dengan aktivitas ekonomi dan industri kebudayaan yang berkembang di kawasan tersebut.
“Sebuah kawasan yang memang kita kembangkan lagi. Kita ingatkan lagi bahwa di situ sebenarnya yang hidup itu kebudayaannya,” ujarnya.
Dari sisi pembiayaan, pembangunan yang dilakukan pemerintah tetap harus mengikuti prosedur penggunaan anggaran APBD maupun APBN.
Ihwan menyebut anggaran pemerintah telah masuk untuk sejumlah kebutuhan, termasuk pembangunan museum dan kegiatan pembangunan perumahan.
Baca Juga: Butuh Rp 250 Juta untuk Display Museum Sade
Ihwan menargetkan penyusunan master plan rampung bulan ini. Setelah itu, pembangunan kawasan ditargetkan mulai November. Pelaksanaannya akan dilakukan lintas sektor sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
“Seluruh stakeholder akan dilibatkan sesuai dengan kebutuhan pembangunan masing-masing, jadi keroyokan,” tandasnya.
Editor : Rury Anjas AnditaSumber : Liputan