LombokPost-Pemprov NTB memperbanyak penanganan jalan rusak di lebih dari 20 titik, dengan alokasi anggaran Rp 6 miliar di APBD Perubahan 2026.
“Ada di Pulau Lombok juga, tapi paling banyak yang kita perbaiki ruas jalan di Pulau Sumbawa,” tegas Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) NTB Lalu Kusuma Wijaya, Kamis (22/10).
Anggaran itu menambah alokasi sekitar Rp 9 miliar pada APBD murni, sehingga total dana untuk penanganan jalan tersebut mencapai sekitar Rp 15 miliar.
Namun, tambahan anggaran dan rencana penanganan tersebut belum sepenuhnya bisa diikuti percepatan pekerjaan di lapangan.
Pasokan aspal dari penyedia masih belum normal, sehingga sejumlah pekerjaan berpotensi tertunda.
“Jadi, ada kemungkinan sedikit keterlambatan kalau jadwal pekerjaan bertepatan dengan pasokan atau pendistribusian aspal yang masih belum normal,” jelasnya.
Baca Juga: Pelaksana Proyek SPALDT Kota Mataram Jamin Kembalikan Jalan Seperti Semula
Menurut dia, kondisi tersebut juga terjadi di tengah pasokan semen yang belum sepenuhnya pulih hingga tingkat pengecer kecil.
Sementara untuk aspal, penyedia belum dapat memenuhi kebutuhan secara normal karena produksi di Asphalt Mixing Plant (AMP) juga belum berjalan seperti biasa.
Dia memperkirakan distributor besar, berpotensi mendahulukan pemenuhan kontrak pekerjaan yang memiliki konsekuensi hukum apabila terlambat diselesaikan.
Kondisi itu bisa memengaruhi pekerjaan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota yang sama-sama membutuhkan pasokan aspal.
“Feeling saya, distributor besar ini akan mendahulukan perikatan mereka karena berkonsekuensi hukum masalahnya,” katanya.
Meski demikian, Kusuma berharap pasokan aspal kembali normal pada November.
Dia menilai, penanganan jalan yang direncanakan Pemprov NTB sebenarnya bisa segera dikerjakan karena sebagian besar berupa perbaikan pada titik-titik tertentu, bukan pekerjaan dalam volume besar.
“Kalau dari sisi volume, penanganan-penanganannya tidak terlalu banyak, cuma titiknya yang banyak dan kita juga butuh segera,” ujarnya.
Baca Juga: Adu Nyali di Aspal Mandalika: 106 Starter Siap Menggila, Kelas Junior Jadi Magnet Baru
Kusuma menegaskan, pekerjaan perbaikan jalan tidak bisa dituntaskan hanya dengan memperbaiki bagian yang rusak tanpa menutupnya kembali menggunakan aspal.
Jika tidak segera dilapisi, kondisi jalan berisiko kembali rusak dan memicu keluhan masyarakat.
“Kalau misalnya kita mau perbaiki jalan, kita tidak langsung tutup dengan aspal, rasanya seperti tidak diperbaiki. Sama-sama tetap rusak, tetap keropos, protes lagi,” jelasnya.
Karena itu, ketersediaan aspal menjadi faktor penting agar penanganan di titik-titik kerusakan dapat segera diselesaikan.
“Harapan kami, distribusi segera pulih sehingga rencana perbaikan jalan yang telah disiapkan tidak terkendala lebih lama,” tandasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan