Grand Design Sapi Potong NTB Petakan Masalah Pakan hingga Bibit

Yuyun Kutari • Dipublikasikan Senin, 26 Oktober 2026 | 12:30 WIB
Kepala Disnakeswan NTB Muhamad Riadi (dua dari kanan), berdiskusi dengan tim gabungan, saat meninjau langsung kandang sapi milik warga di Bima, Sabtu lalu (17/10). (DISNAKESWAN NTB FOR LOMBOK POST)
Kepala Disnakeswan NTB Muhamad Riadi (dua dari kanan), berdiskusi dengan tim gabungan, saat meninjau langsung kandang sapi milik warga di Bima, Sabtu lalu (17/10). (DISNAKESWAN NTB FOR LOMBOK POST)

LombokPost-Keterbatasan pakan dan air saat kemarau, minimnya pejantan unggul, hingga rendahnya tingkat kesuburan sapi hasil persilangan menjadi persoalan yang ditemukan dalam penyusunan Grand Design Sapi Potong NTB. 

“Kami memetakan persoalan tersebut melalui kunjungan lapangan, sebagai dasar merumuskan kebijakan peternakan yang lebih tepat sasaran,” jelas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB Muhamad Riadi.

Kunjungan lapangan dilakukan bersama dengan tim ahli gubernur, dan akademisi Universitas Mataram (Unram) yang melihat langsung kondisi peternakan di Sumbawa Barat, Sumbawa, serta sejumlah desa potensial di Bima.

Baca Juga: Pathul-Nursiah Dorong Peternak Lokal Naik Kelas, Perdana Gelar Kontes Sapi Lombok 2026

Kegiatan diawali pada Sabtu (17/10), tim gabungan meninjau sejumlah desa, yakni Belo di Kecamatan Palibelo, Rabakodo di Kecamatan Woha, serta Mpuri dan Bolo di Kecamatan Madapangga. 

Kunjungan dilakukan untuk menilai kondisi lahan, aksesibilitas, sumber air, serta ketersediaan sarana dan prasarana pendukung.

“Kawasan pembibitan diharapkan dapat dikembangkan secara terstruktur, untuk menghasilkan bibit sapi potong berkualitas,” jelasnya.

Upaya ini juga memerlukan sinergi dengan pemerintah daerah setempat untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat populasi ternak, dan mendukung kesejahteraan peternak. 

Selanjutnya, turun ke Sumbawa Barat pada Rabu (21/10). Kunjungan itu melihat langsung kondisi kelompok peternak. Di Kelompok Lang Glampok, Desa Beru, Kecamatan Jereweh, tim menemukan persoalan ketersediaan pakan hijauan dan air saat musim kemarau.

Kelompok pembibitan yang beranggotakan 15 orang tersebut memelihara sekitar 300 ekor sapi. Kekurangan pakan dan air berpotensi mengganggu produktivitas sekaligus kesehatan ternak. 

Persoalan berbeda, kata Riadi, ditemukan di Kelompok Budi Sari, Desa Kokarlian, Kecamatan Poto Tano yang dipimpin I Nengah Penre.

“Kelompok ini menjalankan usaha pembibitan sekaligus penggemukan dengan sekitar 70 ekor indukan,” ujarnya.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Veda Ega, dari Parkiran Pasar Sapi Gunung Kidul Menuju Panggung Dunia MotoGP

Pedet jantan dari usaha pembibitan dimanfaatkan sebagai ternak penggemukan untuk usaha mereka sendiri. Namun, ketersediaan pejantan unggul masih menjadi kendala. Peternak banyak mengandalkan inseminasi buatan (IB).

“Persilangan sapi Bali lokal dengan ras eksotik dilaporkan memiliki tingkat keberhasilan kebuntingan atau kesuburan sekitar 50 persen,” kata dia.

Berikutnya, Kamis (22/10), tim melanjutkan peninjauan ke Sumbawa. Dalam koordinasi dengan pemda setempat, tim mencatat sistem identifikasi digital dan ketertelusuran ternak belum berjalan optimal.

“Padahal, sistem ini dibutuhkan untuk memantau perdagangan sapi antardaerah, memperbaiki pendataan populasi, serta mencegah penghitungan ganda,” bebernya.

Di Desa Limung, Kecamatan Moyo Utara, peternak mengintegrasikan pemeliharaan sapi dengan pertanian jagung. Kelobot dan tongkol jagung disimpan sebagai cadangan pakan untuk musim kemarau.

Peternak juga memiliki kesepakatan sosial yang memperbolehkan sapi memanfaatkan sisa tanaman setelah panen hingga masa tanam berikutnya. 

Sementara itu, di Desa Sukadamai, Kecamatan Labangka, usaha penggemukan berbasis hijauan lamtoro mengalami perubahan setelah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK).

“Penurunan harga sapi membuat minat peternak melemah,” ungkap mantan kepala Biro Umum Setda NTB tersebut.

Sebagian kebun lamtoro dialihkan kembali menjadi lahan jagung.  Peternak kini lebih berfokus pada pembibitan dengan rata-rata kepemilikan delapan hingga 10 ekor sapi per orang.

Tetapi keterbatasan pejantan unggul masih menjadi masalah. Penggunaan pejantan yang belum cukup umur oleh salah seorang peternak menyebabkan anak sapi tumbuh kerdil. Dari 12 pedet yang lahir, sembilan di antaranya mati.

Baca Juga: JANGAN DILEWATKAN! Pemkab Loteng Gelar Kontes Sapi, Berhadiah Rp 75 Juta  

Berbeda dengan kondisi tersebut, peternak di Desa Budisari, Sepayung, Kecamatan Empang, masih mempertahankan usaha penggemukan berbasis lamtoro.

Rata-rata setiap keluarga memiliki kebun hijauan seluas satu hektare, sekaligus menjalankan pembibitan. Peternak juga menyiapkan pejantan khusus untuk kelompok ternaknya agar perkawinan tidak dilakukan secara sembarangan. 

Kendati demikian, ketersediaan air bersih masih menjadi kendala. Sumur bor di wilayah tersebut menghasilkan air dengan rasa pahit sehingga diperlukan intervensi pemerintah untuk penyediaan sumur gali atau sumber air permukaan. 

Seluruh temuan dari Bima, Sumbawa Barat, dan Sumbawa akan dikaji bersama. Hasilnya menjadi dasar penyusunan Grand Design Sapi Potong NTB agar kebijakan yang dirumuskan menjawab persoalan nyata di tingkat peternak.

Penyusunan Grand Design Sapi Potong NTB bersama tim gabungan, ditargetkan rampung awal Desember mendatang. Meski anggarannya baru tersedia melalui APBD Perubahan 2026, pengumpulan data dan penulisan telah dicicil sejak jauh hari. “Harapan kami awal Desember grand design ini tuntas,” tandasnya. 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
sapi Sumbawa NTB Peternakan peternak