Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

NWDI : Historisitas Perjuangan dan Kiprah

Redaksi Lombok Post • Minggu, 27 Agustus 2023 | 23:17 WIB

Suasana Hultah NWDI ke 88 di Pancor Lombok Timur.
Suasana Hultah NWDI ke 88 di Pancor Lombok Timur.
Oleh:  Dr. H. Abd. Hayyi Akrom, M.Pd 

Wakil Rektor IAI HAMZANWADI Pancor

 

TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid adalah pahlawan nasional dari Nusa Tenggara Barat (NTB). Penganugrahan sebagai pahlawan nasional diberikan pada tahun 2017 lalu. Pengakuan sebagai pahlawan nasional berasal dari jejak, kiprah dan perjuangan TGKH. Muhammad Zaenuddin Abdul Majid bagi bangsa Indonesia.

Sejarah besar itu berasal dari perjalanan ilmu. TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid menuntut ilmu selama 12 tahun di Mekkah. Yaitu di Madrasah ash-Shaulatiyah Mekkah. Setelah menamatkan bangku pendidikan di Madrasah ash Sholatiyah Mekkah, TGKH. Zaenuddin Abdul Majid secara pribadi sesungguhnya ingin mengikuti jejak ulama-ulama asal nusantara. Mukim di Mekkah. Mengajar dan menulis kitab. Alasan ini cukup beralasan, karena kemampuan dan prestasi keilmuan TGKH. Zaenuddin Abdul Majid yang sangat cemerlang di zamannya.

Maulanasyeikh Hassan Muhammad Massath, guru tercinta berliau meminta TGKH. Zaenuddin Abdul Majid untuk kembali ke kampung halaman. Memulai dakwah dan mendidik masyarakat. Sang guru mengatakan kepadanya, ilmu pengetahun yang diperoleh selama menuntut ilmu di Mekkah sangat dibutuhkan oleh masyarakat Nusantara. Sedangkan di Mekkah telah banyak ulama-ulama berpengaruh menjalankan dakwah melalui jalur pendidikan Islam.

Setelah tiba di kampung halamannya, TGKH. Zainuddin Abdul Majid membaca situasi masyarakat Lombok. Pada awal kepulangannya, masyarakat Lombok ketika itu tertinggal dalam banyak bidang kehidupan. Bahkan masih dalam kekuasaan penjajah. Pendidikan menjadi jalan paling tepat dan penting untuk merubah situasi masyarakat.

Pendidikan dipandang mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk memajukan kehidupannya. Pada tahun 1934 M, TGKH. Zaenuddin Abdul Majid memprakarsai berdirinya pesantren al-Mujahidin sebagai pusat pembelajaran ilmu agama sekaligus pusat pengkaderan pejuang kemerdekaan.

Di pesantren ini, TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid memulai menjalankan perannya sebagai pendidik, pendakwah dan pejuang. Penekanan dari gerakan pendidikan di pesantren al-Mujahidin adalah penanaman dasar-dasar pemahaman keislaman, meliputi tauhid, syariah, muamalah dan cinta tanah air.

Gerakan dakwah yang dirintis ditandai dengan semangat menyebarkan Islam yang benar berdasarkan jalur ilmu yang benar pula. Perjuangannya diawali dengan pemberian kesadaran dan rasa cinta yang tinggi terhadap tanah air.

Sehingga dalam perjalanannya, pesantren al-Mujahidin menjelma menjadi pusat pendidikan, dakwah dan perjuangan TGKH Zanuddin Abdul Majid. Semua proses pembelajaran di pesantren al-Mujahidin dikendalikan sepenuhnya oleh TGKH. Zaenuddin Abdul Majid. Lebih jauh, keberadaan pesantren ini menjadi awal kiprah keagamaan, kemasyarakatan dan kebangsaan TGKH. Zaenuddin Abdul Majid di Lombok khususnya, dan Nusantara pada umumnya.

Pada tahun 1937, TGKH  Zainuddin Abdul Majid melakukan pengembangan pola-pola pendidikan yang dirintisnya pada santren al-Mujahidin. Bentuk madrasah adalah pilihan TGKH. Zaenuddin Abdul Majid untuk pengembangan pesantren al-Mujahidin. Berdasarkan berbagai pertimbangan dan isyarat langit tentunya, maka berdirilah pembelajaran sistematis dan formal yang diberi nama Madrasah Nahdhatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI).

Madrasah NWDI merupakan madrasah pertama di Lombok. Sekaligus sebagai pembaruan dan modernisasi pendidikan Islam. Madrasah NWDI meniru sistem madrasah ash Shaulatiyah Mekkah – tempat TGKH Zainuddin Abdul Majid pernah menuntut ilmu. Kurikulum pembelajaran agama mengadopsi dari kurikulum madrasah ash Sholatiyah Mekkah. 

Penyelenggaraan pembelajaran pada madrasah NWDI menggunakan sistem klasikal, kurikulum, dengan standar-standar tertentu dan menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab. Juga mengajarkan mata pelajaran umum dengan jenjang tertentu, waktu tertentu dengan masa belajar tertentu.

Proses pendidikan yang diselenggarakan madrasah NWDI merupakan pembaruan awal pendidikan Islam di Pulau Lombok khususnya dan Indonesia umumnya. Karena pembaharuan yang dilakukan, muncul banyak perlawanan dan tantangan terhadap TGKH Zainuddin Abdul Majid.

Terutama dari kalangan-kalangan pemuka agama tradionalis yang masih mempertahankan pola-pola pembelajaran halaqah. Keyakinan, keteguhan dan istiqamah dalam perjuangan TGKH. M. Zaenuddin Abdul Majid telah mengantarkan NWDI sebagai madrasah terbesar dengan perkembangan yang sangat pesat.

Selanjutnya, TGKH Zainuddin Abdul Majid membaca, pendidikan dan ilmu pengetahuan bagi kaum perempuan adalah hal terpenting dalam perjuangan dan perjalanan sebuah bangsa. Pada 21 April 1943, TGKH. Zaenuddin Abdul Majid mendirikan Madrasah Nadhatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang diperuntukkan khusus bagi kaum perempuan.  

Keberadaan madrasah NWDI dan NBDI telah menjadi pelopor pembaharuan dan modernisasi pendidikan Islam di Lombok khususnya dan Indonesia umumnya. Betapa tidak, sebelum madrasah NWDI dan NBDI didirikan, praktek pendidikan Islam oleh para tokoh agama dilaksanakan dengan sistem halaqoh.

Selain itu, sistem dan pola pendidikan sebelum madrasah NWDI dan NBDI di Lombok tidak mengenal sistem klasikal, masa belajar, sistem evaluasi, dan kurikulum dll. Atas saran Sang Guru (Maulana Syeikh Muhammad Massath), TGKH. Zaenuddin Abdul Majid mendirikan organisasi Nahhdhatul Wathan (NW) tahun 1953 untuk mewadani keberadaan madrasah NWDI dan NBDI yang telah banyak dan menyebar.

Kini dalam perjalanan sejarah, spirit dan nilai-nilai yang diwariskan oleh TGKH. M. Zaenuddin Abdul Majid terus hidup melalui jejak dan kiprah Dr. TGB. M. Zaenul Majdi dalam memimpin NWDI. Reposisi NWDI sebagai salah satu ormas besar di Indonesia menjadi salah satu sayap penerus cita-cita TGKH. Zainuddin Abdul Majid dalam menancapkan KeIslaman dan Kebangsaan pada satu tarikan napas pada diri ummat.

Sebab itu, dalam realitas kebangsaan NWDI terus aktif menampilkan Islam Ahlusunnah Waljama’ah di Indonesia. Terbukti dalam sejarah perjalanannya, kini NWDI di bawah kepemimpinan Dr. TGB M Zainul Majdi, NWDI telah menjadi benteng besar Islam Washatiyah (baca: Islam Moderat) di Indonesia.

Sejak kelahirannya 1937 sebagai madrasah dan dinamikanya sebagai ormas, NWDI menjadi benteng tradisi yang telah lama hidup di tengah-tengah masyarakat Nusantara dalam mempraktekkan keIslaman yang terbuka, toleran, moderat. Lebih jauh dari itu, keberadaan NWDI juga menjadi markas besar tumbuhnya kesadaran nasionalisme yang berbasis agama.

Fakta sejarah  ini telah menjadi identitas besar bagi wajah Islam di Indonesia dan telah memberi warna khas mengenai moderasi beragama di Tanah Air. Tidak berlebihan jika NWDI menempati posisi penting dalam mengawal moderasi beragama di Indonesia yang dalam perjalanannya kini mengalami tantangan berupa menguatkan radikalisme dan ekstremisme beragama di Indonesia.

Karena itu, diantara tugas penting dan panggilan sejarah NWDI adalah tetap mengokohkan diri sebagai pusat Islam washatiyah sebagaimana yang telah dijalankan sejak kelahirannya. Tidak berlebihan jika kiprah NWDI  menghadirkan Islam inklusif, toleran, damai, moderat bersama ormas Islam, seperti NU, Muhammadiyah, dll telah dirasakan nyata tidak hanya oleh ummat Islam di Indonesia, tapi juga dunia. Selamat HULTAH NWDI 88, tetap istiqamah membina ummat dan bangsa pada cinta teguh pada agama dan cinta kokoh pada negara. Aamiin. 

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#Hultah NWDI #NWDI #TGB M Zainul Majdi #TGKH Zainuddin Abdul Majid.