SUBBANULYAUM rijalulgadh "pemuda sekarang adalah pemimpin masa depan" itulah pepatah arab yang amat populer untuk memotivasi kaum muda.
Bicara pemuda tidak ada habisnya, terutama dalam perjalanan bangsa baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan. Sedikit penulis singgung mulai dari 1900-an pemuda tampil sebagai pelopor dalam perjuangan melawan belenggu penjajahan belanda.
Kemudian tahun 1908 terbentuk yang namanya organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 2 Mei 1908, konon dalam sejarahnya organisasi ini menyebar dengan pesat dibeberapa wilayah Nusantara.
Pada 1921 kemudian Mohammad Hatta mendirikan Perhimpunan Indonesia dengan tujuan membangkitkan semangat kaum muda untuk menjadi pelopor dan bicara lantang tentang kemerdekaan.
Dari catatan di atas hingga akhirnya terjadi peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, sebuah kongres yang diselenggarakan di Jakarta oleh para pelajar Sekolah Menengah Atas dan mahasiswa dari seluruh wilayah nusantara.
Dari kongres tersebut kita tahu bersama lahir ikrar Sumpah Pemuda yang berbunyi: Kami putra dan putri Indonesia. Satu, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; dua, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; dan tiga, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Di masa ini Soekarno yang juga dengan lantang menyerukan agar pemuda bicara kemerdekaan hingga akhirnya 17 Agutus 1945 Indonesia Merdeka.
Pascakemerdekaan tahun 1945, kaum muda yang di dalamnya mahasiswa turun ke jalan menginginkan sebuah reformasi yang kemudian juga terwujud pada tahun 1998. dan masih banyak peranan pemuda dalam perjalanan sejarah bangsa ini.
Bagaimana dengan Pemuda Masa Kini?
Tentu perjuangan kaum muda dulu dan sekarang berbeda. Kalau dulu turun ke jalan dan menghabiskan hanya energi membentuk segala kekuatan untuk meraih kemerdekaan. Kini hanya perlu menjaga Indonesia agar tetap utuh. Melawan kebodohan dengan pendidikan setinggi-tingginya dan terus raih prestasi agar Indonesia bangga dengan pemuda.
Tugas pemuda saat ini hemat penulis ialah cukup menjadi pelopor dalam menjaga keutuhan NKRI, mendukung segala kebijkan yang mensejahterakan rakyat indonesia, mengkiritik konstruktif kebijkan yang tidak memihak kepada rakyat.
Tugas tersebut ringan secara teori tapi berat secara praktik. Namun bila dibahas serta dijalankan secara bersama sama, insya Allah akan ringan untuk Indonesia.
Posisi Pemuda dalam Pesta Demokrasi
Peran pemuda dalam demokrasi sangat penting dan dibutuhkan. Karena sederhananya demokrasi itu berbasis kuantitas. Lebih-lebih data KPU RI menujukkan 52 persen DPT nasional untum Pemilu 2024 ialah usia dengan kategori muda.
Angka ini bukan angka yang kecil namun angka yang sangat besar karena bisa menjadi angka kemenangan mutlak kalau dihitung dalam konteks Pemilu. Namun kita sadari juga bahwa ini tidak otomatis bersatu tapi paling tidak angka ini menggambarkan betapa besarnya kekuatan pemuda.
"Bila" pemuda sulit bersatu dalam aspek politik setidaknya cukup menyatukan pandangan bahwa berbuat untuk Indonesia bisa sesuai dengan kemampuan. Berpolitik yang ramah serta menjadi Pelopor politik damai.
Ayo pemuda, awasi pemilu! Penulis tak bosan bosannya mengajak pemuda untuk mengawasi pemilu melalui tulisan maupun lisan bahkan di media sosial pribadi. Tujuannya ialah semakin banyak yang peduli semakin baik pemilu, apa lagi kaum muda ikut awasi Pemilu maka semakin transparan pesta demokrasi.
Oleh karena itu, jadilah pelopor demokrasi damai, jadilah bagian dari pengawasan pemilu. Buktikan kepada publik bahwa kaum muda bisa. Bisa berprestasi, bisa jaga negeri. Akhir kata, selamat Hari Sumpah Pemuda ke-95. Bersama Majukan Indonesia. (*)
*Penulis: Samsul Hadi, S.Pd, Anggota Bawaslu Kabupaten Lombok Barat
Editor : Rury Anjas Andita