Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Peningkatan Kesehatan Mental Anak dan Remaja dalam Islam

Kimda Farida • Sabtu, 30 Desember 2023 | 10:49 WIB

Lalu Septa Aedian Viarga
Lalu Septa Aedian Viarga
Oleh: Lalu Septa Aedian Viarga

(Program Studi Ilmu keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang)

LombokPost--Anak-anak dan remaja adalah generasi bangsa. Dampak pembangunan yang berkelanjutan dari waktu ke waktu berdampak pada tumbuh kembang anak dan remaja. Pada dasarnya masa remaja merupakan tahap perkembangan terakhir dari masa kanak-kanak. Anak-anak dan remaja sebagai generasi penerus bangsa menghadapi tantangan di era modern saat ini.

Temuan dan referensi penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa remaja memerlukan pengendalian diri dalam berpikir, berperilaku dan bertindak. Salah satu pengendalian diri tersebut adalah agama. Jika anak dan remaja dapat menunjukkan kebiasaan berperilaku yang sesuai dengan norma, nilai, dan aturan  masyarakat, maka dapat dikatakan remaja tersebut patuh dan mengikuti standar moral yang baik. Pada saat yang sama, dapat dikatakan bahwa remaja yang berperilaku bertentangan dengan norma, aturan, dan nilai yang ada di masyarakat, melakukan perbuatan asusila.

Anak-anak dan remaja yang beragama Islam merupakan umat Islam yang memerlukan pengembangan kepribadian Islam seutuhnya. Kepribadian Islami merupakan tujuan akhir pendidikan Islam, mulai usia dini hingga usia lanjut. Oleh karena itu, kepribadian yang diidamkan Islam adalah kepribadian setiap  muslim yang memenuhi standar Islam.

Kepribadian tidak lahir atau terbentuk sekaligus, melainkan melalui proses kehidupan yang panjang. Jadi pendidikan memegang peranan penting dalam pengembangan kepribadian muslim.  Kepribadian terbagi menjadi dua bagian, yaitu kepribadian manusia yang meliputi kepribadian individual, dan kepribadian ummat (sosial). Proses dan upaya pengembangan kepribadian Islami dilakukan melalui pendidikan haiku individu dan kelompok. Oleh karena itu, nilai-nilai dan konsep ibadah dalam kehidupan sehari-hari menjadi faktor penentu pembentukan kepribadian Islami anak dan remaja melalui dimensi pendidikan. Guru dan orang tua yang merupakan sosok penting bagi anak dan remaja harus mengupayakan keberhasilan akademik secara maksimal. Guru harus melatih siswa untuk mencapai keberhasilan akademik, dimulai dari mendidik siswa dalam proses perencanaan pembelajaran, mengamati atau memantau  kemajuan belajar siswa, dan  proses mengevaluasi apa yang telah dipelajari. Oleh karena itu, tugas guru dan orang tua untuk memastikan anak dan remaja mencapai keberhasilan akademik, dimulai dengan perencanaan perkembangan, pemantauan dan evaluasi.  Kesehatan moral dan  mental yang baik. Selama masanya. remaja wasiat itu menjalani perubahan fisik dan mental pada generasi muda untuk mencapai kesehatan mental.

Kesehatan mental ditemukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada tahun 2001. Menurut WHO, kesehatan mental adalah keadaan sejahtera yang disadari oleh seseorang dan mampu secara alami mengelola stres dalam hidupnya dan bekerja secara produktif. dan kesempatan berpartisipasi dalam kesehatan mental generasi muda merupakan aspek penting dalam menentukan kualitas suatu bangsa.

Remaja yang tumbuh dalam lingkungan yang mendukung merupakan sumber daya manusia yang dapat menjadi aset bangsa yang tidak ternilai harganya. Namun, kenyataannya terjadi baru-baru ini. Beberapa remaja melakukan perbuatan maksiat. Selain itu, sebagian remaja berpendapat bahwa hubungan antara perempuan dan laki-laki tidak boleh dibatasi atau dikendalikan oleh orang tua.

Umumnya kejahatan jenis ini melibatkan kegiatan yang meresahkan masyarakat. Mungkin penyebabnya adalah kurangnya kantor pusat atau fasilitas bimbingan dan konseling untuk menampung dan membimbing anak-anak menuju pola pikir yang sehat. Dampak dari tidak adanya shelter pada anak bermasalah yang membutuhkan bimbingan adalah mereka  berkelompok dan bergabung dengan anak bermasalah lainnya.

Belakangan muncul perilaku atau pola perilaku yang tidak menyenangkan. Selain permasalahan yang disebutkan di atas, pada tahun 2013 beberapa provinsi di Indonesia melaporkan adanya penurunan semangat kerja remaja. Peristiwa yang menyebabkan kemerosotan atau kemerosotan moral antara lain pencurian pejalan kaki atau pencopetan. Perampokan terjadi  di salah satu pintu masuk mal di Palembang. Selain itu, beberapa remaja mencuri ayam  pada malam hari di Desa Sungai Buah, Kota Palembang   menunjukkan tanda-tanda merosotnya nilai moral generasi muda.

Berbagai topik di atas menunjukkan bahwa remaja sebagai individu mengalami  hambatan  kesehatan mental yang berbeda-beda dan membutuhkan solusi atau solusi yang tepat untuk mengatasi hambatan tersebut. Salah satu solusi  tepat dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah Islam. Dengan bantuan ibadah Islam, peran remaja  dengan kondisi kesehatan jiwa yang baik dalam pengembangan potensi diri dan lingkungan atau sekitarnya dapat tercapai.

Remaja yang berperan dalam transisi menuju Indonesia yang lebih tinggi menunjukkan kualitas dan potensi  yang maksimal dengan tetap beribadah kepada Islam. Dengan menjaga ibadah Islam, remaja juga mengembangkan peluang kesehatan mental pada khususnya dan kesehatan fisik pada umumnya.  Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 menyatakan bahwa “Kesehatan adalah keadaan sejahtera jasmani, rohani, dan sosial yang memungkinkan setiap orang dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomi.”

Berdasarkan definisi tersebut, individu dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh atau utuh. Kesatuan  holistik ini terdiri dari unsur tubuh (organobiologis), jiwa atau spiritual (psikis) dan sosial (sosiokultural), yang misinya adalah meningkatkan kualitas hidup. Peningkatan kualitas hidup  berupa kesejahteraan fisik, mental, dan sosial budaya (produktivitas sosial ekonomi). Dengan cara inilah kualitas kesehatan mental seseorang tercapai. Kesehatan jiwa atau kesehatan rohani (Pasal 23, 24, 25, 26 dan 27 Tahun 1992) adalah keadaan batin (jiwa)  sejahtera yang menimbulkan akibat hidup serasi dan bermanfaat.

Ciri-ciri orang sehat jiwa biasanya sadar sepenuhnya akan kemampuan  mental atau spiritualnya. kemampuan menghadapi dan mengelola stres/tekanan hidup dengan baik. kemampuan melakukan aktivitas atau bekerja secara produktif sesuai kebutuhan. tentang kehidupan, kemampuan berpartisipasi dalam lingkungan, kemampuan menerima diri apa adanya, kemampuan menjaga rasa nyaman terhadap orang lain. Oleh karena itu, setiap orang pada setiap tahap perkembangan memerlukan kesehatan jiwa yang baik melalui sifat-sifat jiwa yang sehat di atas, khususnya remaja yang seringkali mengalami hambatan dalam mencapai kesehatan jiwa pada tahap ini   perkembangan mereka. (*)

 

Editor : Kimda Farida
#Kesehatan Mental Anak