Oleh : Muhammad Zaki Pahrul Hadi, M.Pd, C.Ps., C.TSI (Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Semarang)
LombokPost--Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah salah satu provinsi yang kaya dengan kebudayaan dan keindahan alam di Indonesia. Keindahan dan eksotisme NTB telah menarik banyak pelancong dari berbagai negara untuk berwisata ke Nusa Tengga Barat.
Namun demikian, di tengah kemajuan dan perkembangan pembangunan Nusa Tengga Barat, masalah literasi membaca masih menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dengan serius dan tentunya masih menjadi Pekerjaan Rumah kita bersama.
Karena bagaimanapun juga budaya literasi membaca yang kuat sangat penting untuk membangun masyarakat yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing.
Peningkatan Ideks Pembangunan Manusia di Nusa Tenggara Barat juga akan bergantung pada peningkatan literasi membaca.
Selain itu, peningkatan kualitas Pendidikan, ekonomi dan Kesehatan tentu menjadi sektor sekotor penting yang harus menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia.
Menurut data BPS, Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai 72,37 pada tahun 2023, meningkat dari 71,65 pada tahun 2022 menjadi 72,37 pada tahun 2023. (BPS NTB, 2023)
Reaktualisasi dan revitalisasi budaya literasi membaca menjadi krusial dalam menjaga dan mengembangkan potensi intelektual masyarakat NTB.
Memiliki budaya literasi membaca yang kuat tidak hanya tentang kemampuan membaca dan menulis, namun juga tentang kemampuan untuk memahami dan menganalisis informasi atau yang biasa disebut berfikir kritis, kreatif dan inovatif (Halim, 2022; Mansyur, 2020; Suragangga, 2017).
Hal ini tidak hanya berdampak pada perkembangan individu, tetapi juga pada kemajuan sosial, ekonomi, dan kemajuan suatu daerah dan kemajuan bangsa secara umum. Dalam konteks Masyarakat Nusa Tenggara Barat, upaya untuk meningkatkan budaya literasi membaca menjadi semakin penting mengingat berbagai tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan akses terhadap bahan bacaan, rendahnya minat membaca, dan kurangnya kesadaran akan pentingnya literasi.
Keterbatasan akses terhadap bahan bacaan sepertinya menjadi poin serius dalam Upaya meningkatkan literasi membaca di NTB.
Meskipun kita ketahui pemerinah Provinsi NTB telah membangun Gedung perpustakaan baru yang cukup megah, namun masih kekurangan fasilitas dasar sehingga membuat pengunjung belum betah berlama-lama di sana.
Kita berharap perpustakaan atau semacam pojok membaca tersebar di berbagai titik di Nusa Tenggara Barat terutama di Kota Mataram yang menjadi kota Provinsi. Dengan adanya pojok baca di beberapa titik tentunya akan memudahkan Masyarakat untuk membaca.
Pojok baca biasanya diadakan di titik titik keramaian seperi alun alun Kota atau taman Kota. Sarana perpustakaan dan pusat bacaan perlu dikembangkan agar dapat diakses dengan mudah oleh Masyarakat semua kalangan.
Pemerintah dapat bekerja sama dengan pihak swasta dan lembaga non-profit untuk menyediakan lebih banyak bahan bacaan yang terjangkau.
Disisi lain, tingkat kesadaran membaca masyarakata Nusa tenggara Barat tahun 2023 masih tergolong rendah karena mash berada dibawah rata rata nasional meskipun ada peningkatan signifikan dari tahun 2022.
Menurut data perpustakaan Nasional tahun 2023, NTB berada pada pringkat 18 dari 34 provinsi untuk karegori masyarakat paling gemar membaca, tercatat skor Tingkat kegemaran membaca di Provinsi Nusa Tenggara Barat mencapai 65.58 poin pada tahun lalu (Perpusnas, 2024).
Data perpustakaan Nasional menunjukkan, rerata penduduk NTB membaca buku sekitar lima sampai enam kali dalam seminggu dengan lama membaca rata rata 1 jam 45 menit per hari dengan jumlah buku yang dibaca rata rata 5 sampai 6 buku per triwulan.
Masyarakat NTB masih tertinggal jauh dari penduduk Yogyakarta yang rata rata menghabiskan waktu untuk membaca buku 2 jam 9 menit perhari yang menjadi provinsi yang penduduknya paling gemar membaca.
Anak anak muda terutama di kota terlihat berbondong bondong untuk meramikan café café dan tempat nongkrong hanya untuk menghabiskan waktu Bersama teman teman. Hal ini tentu ini tidak dilarang, namun prilaku ini harus bisa diimbangi dengan budaya literasi membaca, literasi digital atau diskusi wacana wacana keilmuan untuk meningkatkan daya kritis dalam berfikir.
Anak anak muda tidak boleh terlena dengan gaya hidup hedonisme yang akan mengantarkan mereka pada gerbang kesesatan dan penurunan kualitas hidup. Anak muda juga tidak boleh kalah dan terlena oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi. Pesatnya kemajuan informasi dan teknologi seharusnya membawa generasi muda kearah kemajuan dalam hal minat membaca.
Sebagai provinsi dengan daerah tujuan wisata Internasinal, masyarat NTB tidak boleh menjadi terbelakang dalam literasi membaca.
Tentu kita patut bersyukur jika kita bandingkan dengan data 4 tahun lalu yaitu tahun 2019, Dinas Perpustakaan dan Arsip NTB pernah memaparkan bahwa provinsi NTB berada pada posisi ke 31, dari posisi paling bawah, berada di atas Papua, Papua Barat dan Sulawesi Utara (Raba, 2019).
Indikator rendahnya minat membaca Masyarakat NTB pada tahun itu, dari 100.000 penduduk, hanya ada satu orang yang membaca buku.
Sementara saat ini, berdasarkan data Perpusnas, pada tahun 2023 NTB berada di posisi ke 18 dari 34 provinsi untuk karegori Masyarakat paling gemar membaca berada persis satu peringkat dibawah Bali.
Sepertinya kita perlu banyak belajar dari para wisatawan macanegara yang berkunjung ke NTB. Kita melihat di sepanjang Pantai Senggigi, Pantai Kuta Lombok, Gili Trawangan atau pantai-pantai lain di Lombok, para turis menikmati indahnya Pantai sembari melakukan sunbathing, mereka juga membaca buku.
Terlihat para turis membaca buku buku tebal dipinggir Pantai. Seolah mereka para turis tidak terlalu terpengaruh dengan perkembangan infromasi dan teknologi. Kita lihat mereka tidak terlalu banyak menggunakan Hanphone.
Hal ini berbanding terbalik dengan kita, anak-anak muda dan sekarang sudah mulai merambat ke anak anak kita yang tidak bisa jauh dari Gadget atau smartphone. Wajar jika Laporan yang bertajuk State of Mobile 2024, menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara peringkat pertama sebagai negara dengan penggunaan Gadget per harinya. Indonesia menghabiskan waktu untuk penggunaan Gadget tahun 2023 mencapai 6,05 jam setiap hari.
Masyarakat NTB perlu diberikan pemahaman yang mendalam akan manfaat literasi membaca bagi perkembangan pribadi, pendidikan, dan ekonomi. Program-program penyuluhan dan kampanye publik perlu dikampanyekan dan digalakkan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya membaca.
Dengan menerapkan Langkah Langkah yang tepat dan kerjasama yang kuat antara pemerintah, lembaga pendidikan, Masyarakat, dan sektor swasta, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi pengembangan budaya literasi membaca di NTB.
Dengan demikian, penduduk NTB dapat mengakses pengetahuan, mengembangkan kreativitas, dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan masyarakat yang lebih baik yang tentunya akan dapat meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia di NTB.
Reaktualisasi budaya literasi membaca bagi masyarakat Nusa tenggar Barat memerlukan komitmen dan kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, hingga masyarakat secara keseluruhan. Dengan upaya bersama, NTB dapat menjadi pusat kegiatan literasi yang berkembang dan berdaya saing tinggi serta menjadi daerah tujuan wisata terbaik di level internasional. (*)
Editor : Kimda Farida