Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mencermati Langkah Politik Dinamis ala Lalu Iqbal

Kimda Farida • Senin, 29 Juli 2024 | 06:21 WIB
Jannus TH Siahaan
Jannus TH Siahaan

Oleh: Jannus TH Siahaan

(Peneliti , Dosen, Trainer dan Konsultan tema sosial, politik , komunikasi korporasi, mitigasi konflik sosial menggunakan metode kearifan lokal dan ekonomi)

LombokPost--Pemilihan Kepala Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sepanjang pengamatan saya sejak awal tahun, kian hari kian menarik untuk dicermati, terutama setelah soliditas dukungan partai politik kepada Lalu Muhammad Iqbal, semakin terbentuk. 

Kehadiran Lalu Muhammad Iqbal yang awalnya terkesan hanya akan menjadi "pelengkap political battle" di satu sisi dan pelengkap meriahnya serbuan alat peraga politik di jalan-jalan di NTB di sisi lain  mendadak berubah menjadi peserta yang cukup berbahaya, dalam beberapa waktu belakangan. 

Memang cukup bisa dipahami, "political positioning" Iqbal dimulai dengan status yang sedikit agak lebih baik ketimbang ucapan penjaja BBM di Pom Bensin, "dimulai dari nol". Pasalnya, karir "mentereng" beliau hanya bersinar di mata kalangan tertentu, mengingat berkarir sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia bukanlah jenjang karir yang populer secara politik. 

Oleh karena itu, hasil-hasil survei sejak awal tahun 2024 tidak terlalu menggembirakan bagi Lalu Iqbal. Bahkan berstatus nomor "buncit" pun di dalam simulasi lima nama versi lembaga survei, dalam hemat saya, sudah bisa dianggap sebagai hasil yang menggembirakan bagi diplomat karir kelahiran Praya itu. 

Hasil itu pun tentu tak lepas dari serbuan alat peraga yang terbilang cukup masif di nyaris semua tempat di NTB. Bermodalkan paras yang "charming" dan gelar akademik yang membanggakan, yang kemudian ditransmisikan melalui pesan-pesan politik kekinian,  peran alat peraga akhirnya berhasil menjadi intermediator politik bagi Iqbal untuk bertemu dengan khalayak pemilih NTB. 

Kehadiran Lalu Iqbal, sepanjang pengamatan saya, memang memberikan warna yang berbeda pada perpolitikan (polity) NTB. Di tengah-tengah friksi politik kekuatan-kekuatan lama, Iqbal muncul  dengan wajah politik baru yang juga menawarkan visi yang agak berbeda dengan kandidat lainnya. 

Di saat bakal kandidat - bakal kandidat lain yang terbiasa membawakan narasi-narasi konvensional, Iqbal menawarkan bahasa dan narasi yang nyaris kurang dikenal oleh publik NTB. Latarnya yang diplomat,  beliau dengan berani menjadikan kata "mendunia" sebagai moto politiknya. 

Narasi pembeda tersebut bukan tanpa risiko. Publik NTB pastinya akan  membutuhkan "upaya" yang cukup keras untuk menemukan benang merah antara moto yang dibawa Iqbal dengan kepentingan sehari-hari pemilih NTB. Sehingga pada tataran teknis, Iqbal dan tim sukses dipastikan akan sedikit kesulitan untuk menjelaskan keterkaitan motonya dengan kepentingan rill pemilih. 

Karena di lapangan, publik cenderung memaknai moto dan visi misi kandidat secara praktis pun pragmatis. Bahkan jika perlu, "straight to the heart" pemilih, tanpa penjelasan yang panjang. Walhasil, publik kemudian cenderung melihat moto tersebut secara dikotomis. Misalnya, seperti tanggapan beberapa pemilih NTB yang sempat saya temui, "urusan kesejahteraan kami dulu dipikirkan, baru kemudian urusan "mendunia". 

Padahal, moto mendunia tentu tak lahir begitu saja dari Iqbal. Logika sekuensialnya sebenarnya sederhana. Misalnya, agak sulit membuat Lombok menjadi mendunia, jika sektor unggulan yang akan membawa Lombok menjadi mendunia tidak dinikmati oleh banyak pihak di NTB.

Lihat saja, event internasional di Mandalika tidak serta merta membuat NTB mendunia. Pasalnya, event MotorGP hanya sekali dalam setahun dilaksanakan di satu sisi dan imbas ekonominya masih sangat terbatas di sisi lain. NTB memang mendapat tempat di mata dunia, tapi dengan "ukuran tempat" atau lapak yang sangat-sangat-sangat kecil dan terbatas. 

Coba bandingkan dengan Bali yang mendunia karena pariwisata. Hal itu bisa terjadi karena sektor pariwisata di Bali memang telah menjelma menjadi sektor yang "menghidupi" Pulau Dewata alias menjadi urat nadi perekonomian Bali yang telah terbukti secara riil berhasil mendatangkan kesejahteraan di satu sisi dan menekan angka kemiskinan dan pengangguran di sisi lain. 

Jadi untuk menjadikan NTB mendunia, mau tidak mau harus menjadikan NTB sebagai daerah yang memiliki salah satu keunggulan komparatif di mata dunia, di mana keunggulan komparatif tersebut menjadi salah satu urat nadi yang mendatangkan kesejahteraan bagi sebagian besar masyarakat NTB. 

Nah, penjelasan relational dan bertingkat tersebut membutuhkan upaya yang tidak mudah disampaikan kepada pemilih yang cenderung berfikir dan bersikap pragmatis dalam memandang kandidat. Efeknya akan berbeda dengan moto yang menggunakan kata "straight to the point", semisal adil, makmur, maju, sejahtera, dan sejenisnya. 

Kata-kata standar tersebut cenderung dipakai oleh para kandidat, karena cukup mudah dikaitkan dengan kepentingan sehari-sehari pemilih. Kata adil, makmur, sejahtera, maju, dan sejenisnya, cenderung tidak memerlukan penjelasan yang bertingkat untuk bisa dipahami publik. 

Namun terlepas dari kompleksitas teknis interpretasi publik tersebut, Iqbal nyatanya memang telah menambah perbendaharaan terminologi politik di NTB, yang membuatnya menjadi sosok yang dipandang berbeda oleh khalayak NTB. 

Dan karena perbedaan terminologi itu pula, Iqbal lebih cenderung melakukan penetrasi dan pendekatan politik yang agak berbeda. Sepanjang pengamatan saya, Iqbal lebih cenderung menggunakan pendekatan "community enggagement" di tataran praktis, bertemu langsung dengan komunitas-komunitas perkotaan, di mana anggota-anggotanya secara nominal lebih terdidik, sehingga lebih mudah menerima moto dan visi misi berjenjang semacam itu. 

Pendekatan semacam ini memang cukup efektif, karena sifat komunitas yang cenderung berjumlah tidak terlalu masif di satu sisi dan sifat komunikasinya yang cenderung intens (dekat) di sisi lain. Namun pendekatan semacam ini memiliki magnitud dan daya jangkau yang agak terbatas, jika diterapkan untuk level calon Gubernur. 

Pendekatan serupa akan sangat cocok untuk kandidat walikota, misalnya, yang luas daerahnya tidak terlalu luas alias sangat terjangkau di satu sisi dengan jumlah pemilih yang juga tidak terlalu banyak di sisi lain. Sementara untuk calon Gubernur, pendekatan ini justru hanya akan memusatkan aktifitas politik calon Gubernur di daerah perkotaan, di mana umumnya komunitas-komunitas banyak berkegiatan. 

Untuk menutupi itu, sebenarnya bakal kandidat bisa menambalnya dengan kampanye digital (digital campaign) yang masif. Namun nampaknya sampai hari ini, Lalu Iqbal belum mampu mengimbangi pendekatan komunitasnya dengan kampanye digital yang profesional. 

Lihat saja misalnya follower instagram (IG) Lalu Iqbal yang masih sangat sedikit, sangat tidak kompatibel dengan jumlah pemilih NTB yang berjumlah lebih kurang 4 jutaan pemilih. Sementara secara umum, tingkat melek internet pemilih NTB terbilang cukup tinggi, di atas 60 persenan. 

Boleh jadi karena itulah Lalu Iqbal berjuang habisan-habisan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya gerbong politik Koalisi Indonesia Maju (KIM). Meskipun tidak semua partai pendukung Prabowo - Gibran berhasil dirangkul, keberhasilan Iqbal mendapatkan dukungan resmi dari Gerindra, PAN, PPP, PBB, PSI, dan Hanura, sontak membuat level playing field di NTB menjadi berbeda. 

Setelah menggandeng Bupati Bima, lalu mendapatkan cukup banyak dukungan Partai Politik, kini Lalu Iqbal mengalami kenaikan "valuasi politik" di mata para elit politik NTB. Namanya kini digadang-gadang justru akan menjadi kompetitor utama petahana, Zulkieflimansyah, meskipun hasil survei belum banyak yang dirilis yang menempatkannya di posisi kedua. 

Namun, bermodalkan mesin partai politik yang cukup banyak, dengan total raihan suara yang juga cukup signifikan, peluang Iqbal menyusul nama petahana di survei-survei menjelang pemilihan akan semakin besar. Sehingga Level playing field di NTB akan sedikit mirip dengan level playing field Pilpres 2024 tempo hari, meskipun pesertanya bisa saja lebih dari dua pasangan calon. 

Pendek kata, perpaduan kinerja politik personal Lalu Iqbal via berbagai macam pendekatan politik dan efektifitas kinerja mesin partai dalam melakukan penetrasi politik akan sangat menentukan hasil politik yang akan didapat Lalu Iqbal nantinya. 

Mesin partai politik harus bisa menutupi kekurangan pendekatan politik personal Lalu Iqbal, terutama untuk daerah-daerah yang sulit dijangkau melalui pendekatan "community engagement", karena tidak semua daerah memiliki kekuatan "komunitas" seperti di Kota Mataram. 

Jika tidak, maka akan cukup sulit bagi Lalu Iqbal untuk mengalahkan dominasi petahana yang memang cukup kuat di kalangan kelompok politik tradisional, terutama organisasi keagamaan dan komunitas lokal-kultural. 

Karena itu, keterbatasan jangkauan pendekatan community engagement yang cenderung sulit menembus dinding-dinding kelompok pemilih konvensional tradisional ini harus dilengkapi dengan efektifitas  penetrasi dari mesin partai-partai politik. 

Dan terakhir, pembeda Iqbal dengan kandidat lainnya adalah tendensi untuk menyerap aspirasi akan jauh lebih tinggi dibanding kandidat lainnya, mengingat ia adalah pemain baru yang membutuhkan sebanyak-banyaknya masukan dan aspirasi dari publik. 

Tendensi sikap yang lebih akomodatif dan responsif kepada aspirasi publik memang menjadi salah satu kekuatan narasi pemain baru untuk mengikatkan diri kepada pemilih di daerah-daerah di satu sisi dan untuk  mengakomodasi keluhan terhadap kinerja kandidat-kandidat lama di sisi lain. 

Hal itu bisa terjadi karena faktor pengalaman. Kandidat lama cenderung lebih "ignorant" terhadap aspirasi publik, karena mereka cenderung lebih fokus kepada aspirasi kelompok-kelompok politik yang mendukungnya. Pemain lama.  biasanya beranggapan bahwa kemenangan lebih ditentukan oleh keterikatan institusional dengan kelompok-kelompok politik yang ada   ketimbang kepada publik, selain faktor logistik tentunya. 

Dalam konteks inilah sebenarnya betapa urgennya pemain baru seperti Lalu Iqbal untuk terkait dengan segala isu yang ada di setiap daerah, termasuk dengan hasil-hasil kajian dari kalangan akademisi dan peneliti yang lebih sering bergelut dengan isu-isu dan data-data lapangan di berbagai daerah di NTB terkait berbagai sektor di level daerah tingkat dua dan provinsi. 

Dengan kata lain, data-data sektor unggulan, sektor dominan, dan sektor potensial, misalnya, juga data tentang performa sosial ekonomi di daerah-daerah,  untuk kemudian dikemas ke dalam rencana program dan kebijakan yang akan ditawarkan kepada publik NTB, akan sangat krusial sifatnya bagi kandidat seperti Lalu Iqbal, jika memang ingin serius untuk memenangkan hati dan pikiran pemilih NTB. (*)

Editor : Kimda Farida
#Pilgub NTB #Indah Dhamayanti Putri #Lalu Iqbal #Opini