Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Anatara Garis Wallace, Ampenan dan Wisata Sejarah

Redaksi Lombok Post • Senin, 12 Mei 2025 | 05:28 WIB
 
Fendy Loekman dari LHSS (tengah) menjelaskan tentang Kelenteng Po Hwa Kong Ampenan kepada para diplomat dalam acara Indonesia Gastrodiplomacy Series 2025  Jumat (8/5/25).
Fendy Loekman dari LHSS (tengah) menjelaskan tentang Kelenteng Po Hwa Kong Ampenan kepada para diplomat dalam acara Indonesia Gastrodiplomacy Series 2025 Jumat (8/5/25).
Oleh  : Zulhakim
Redpel Lombok Post, Founder Lombok Heritages (LHSS)
 
 
“Seandainya saya dapat menemukan jalur yang langsung menuju Makassar dari Singapura, saya tidak akan pergi ke dua pulau ini (Bali dan Lombok). Akibatnya saya akan melewatkan beberapa penemuan penting dari keseluruhan ekspedisi saya di dunia timur,” kata Alfred Russel Wallace dalam The Malay Archipelago.
 
Wallace memang tak sengaja singgah di Ampenan pada pertengahan Juni 1856. Awalnya dari Singapura ia mencari tumpangan yang bisa langsung membawanya ke Makassar.
 
Namun kapal yang ditunggu tak datang. Ketimbang menunggu lama ia lantas naik Kembang Djepoon, kapal bertiang dua milik orang Cina dengan kapten Inggris dan ABK dari Jawa.
 
Ia tiba di Buleleng Bali pada 13 Juni 1856 dengan harapan dapat kapal lain yang bisa membawanya ke Makassar. Namun lagi-lagi, dua hari menunggu kapal yg dicari tak juga tiba.
 
Karena itulah ia menerima tawaran untuk berlayar dua hari menuju Ampenan. Sialnya kesan pertama Wallace pada pesisir ini betul-betul tak ramah. Ombak Ampenan bulan Juni yang ganas hampir membuat kapalnya karam. Bersusah payah ia sampai ke daratan.
 
Namun di Ampenan lah, apa yang dia cari selama ini berakhir. Dari sini ia kemudin berhasil melengkapi rasa penasarannya tentang batas persebaran hewan Asia dan Australia yang kita kenal di buku paket IPA di sekolah dulu sebagai Garis Wallace (Wallace Line).
 
Garis imajiner ini membentang persis di Laut Ampenan ke arah utara menuju laut Sulawesi dan berakhir di Filipina.
 
Sederhananya, Wallace penasaran kenapa persebaran hewan-hewan besar seperti Gajah dan Harimau dari daratan Asia hanya berakhir di Bali.
 
Lalu dari Lombok ke timur satwanya mirip-mirip dengan Australia. Pun demikian antara hewan di Kalimantan dan Sulawesi.
Temuan ini kemudian menjadi semakin penting dan memperkuat Teori Evolusi yang dirintis Charles Darwin.
 
Nah cuplikan cerita ini menjadi bumbu-bumbu yang kami ceritakan kepada para dubes yang mampir di Ampenan pagi tadi dalam acara Indonesia Gasrodiplomacy Series 2025.
Kawan kawan Dispar Mataram meminta kami ikut menyambut lantaran sering bikin paket tour Heritage Walk di Ampenan.
 
Beberapa tahun terakhir saya dan kawan kawan di Lombok Heritages (LHSS) membuat paket-paket kecil keliling Ampenan. Responnya bagus. Warga yang tergabung dalam kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) aktif ikut serta.
 
Setahun ini misalnya beberapa kali tamu baik rombongan kapal pesiar maupun perorangan datang. Warga setempat kami latih jadi pemandu. Lalu titik-titik rumah warga yang disinggahi ikut kebagian rupiah dari harga paket yang dibayarkan.
 
Dan pamungkasnya tentu saja makan siang di salah satu warung milik warga sekitar. Semua bisa merasakan manfaatnya.
 
Dari Ampenan kami tengah mencoba beberapa kampung lain yang punya sejarah menarik untuk dikemas dan dibuatkan paket serupa.
 
Jalan Jalan Seputar Kantor Gubernur- Walikota misalnya. Atau keliling Mayura dan Pura Miru. Kita coba, syaratnya harus melibatkan warga sekitar. Pelibatan ini penting agar warga tidak hanya dapat sampah dan ributnya saja.
 
Agar tidak seperti kata orang Pejarakan…”Ite Ngengat dengan Nganget,”...(menonton orang sedang makan, Red).
 
 
Editor : Redaksi Lombok Post
#Alfred Russel Wallace #Ampenan #Garis Wallace #Indonesia Gastrodiplomacy Series