Oleh: Dr M Halqi
Ada sebuah ungkapan yang sering didengar: “Travel is the only thing you buy that makes you richer.” Mungkin inilah kalimat paling tepat untuk menggambarkan perjalanan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Internasional yang dilalui oleh mahasiswa Pascasarjana Universitas Hamzanwadi. Bukan sekadar melancong, tetapi membeli pengalaman dengan suka, duka, tawa, bahkan sedikit air mata untuk sebuah pelajaran yang akan membekas sepanjang hayat.
Perjalanan ke Malaysia dan Singapura dalam program KKL Internasional ini menjadi ajang nyata pembelajaran lintas batas. Tidak hanya soal akademik dan wawasan internasional, tetapi juga pembelajaran tentang kehidupan, tanggung jawab pribadi, budaya, dan bagaimana beradaptasi ditengah sistem yang sangat berbeda dari yang biasa kita hadapi.
Namun, tidak semua hal berjalan mulus. Dibalik senyum dan foto-foto indah, ada cerita reflektif yang perlu dibagikan. Misalnya, saat berada di perbatasan imigrasi baik Malaysia maupun Singapura sejumlah mahasiswa harus menghadapi interogasi yang cukup menegangkan.
Ada yang secara sengaja mengambil foto di area imigrasi, yang sejatinya merupakan zona larangan. Akibatnya, mereka harus menjalani pemeriksaan khusus yang menyita waktu dan energi. Bahkan ada mahasiswa yang terkena random check, hingga harus menjalani pemeriksaan yang menegangkan.
Ada juga yang harus menerima kenyataan pahit: gagal memasuki Singapura karena dianggap tidak memenuhi standar administratif atau alasan keamanan tertentu. Meskipun sudah menyiapkan dokumen, keberangkatan tidak selalu ditentukan oleh kesiapan kita, tetapi juga oleh ketentuan negara yang bersangkutan. Ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya disiplin, kesiapan mental, serta pemahaman budaya dan aturan negara tujuan.
Belum selesai urusan di imigrasi, rombongan juga harus menghadapi pengalaman unik lainnya: berurusan dengan maskapai penerbangan. Ada antrean yang panjang, sistem yang membingungkan, hingga prosedur bagasi yang membuat beberapa mahasiswa sempat panik. Semua ini mungkin terasa melelahkan, tapi di situlah nilai belajar yang sesungguhnya: mengelola emosi, bekerja sama sebagai tim, dan tetap tenang dalam tekanan.
Namun dibalik segala tantangan tersebut, satu hal yang sangat terasa adalah tumbuhnya rasa kebersamaan dan solidaritas. Mahasiswa yang awalnya mungkin tidak begitu akrab, menjadi saling bergantung, saling bantu, bahkan saling menguatkan. Perjalanan ini seperti ruang belajar yang tidak ada di dalam kelas. Di sinilah kita belajar makna sesungguhnya dari pendidikan yang memanusiakan, bukan hanya menghafal teori, tetapi mengalami langsung dinamika kehidupan global.
KKL Internasional ini bukan hanya tentang kunjungan ke kampus atau lembaga di luar negeri, melainkan membeli pengalaman yang tentu tak bisa dibayar dengan angka. Pengalaman berharga yang membuat mahasiswa bukan hanya lulus dengan gelar, tapi juga dengan kearifan hidup. Dan pada akhirnya, bukankah itu tujuan paling hakiki dari pendidikan? Belajar dengan makna, tumbuh dengan pengalaman.
Tentu saja, esensi dari KKL Internasional ini juga terletak pada kolaborasi dengan institusi mitra. Universiti Putra Malaysia (UPM) dan Multimedia University (MMU) menyambut mahasiswa dengan sangat hangat dan profesional. Di UPM, mahasiswa mendapatkan pemaparan mendalam tentang riset dan inovasi di bidang pendidikan, serta berdiskusi langsung dengan pakar. Sementara di MMU, mahasiswa belajar tentang transformasi digital, kepemimpinan akademik, dan penguatan jejaring internasional yang sangat membuka wawasan.
Kesan positif dari kedua institusi ini memperkuat semangat kami bahwa dunia pendidikan memang tidak memiliki batas geografis. Ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai kemanusiaan dapat menyatu dalam ruang perjumpaan lintas budaya yang konstruktif.
Pada akhirnya, KKL ini bukan hanya tentang kunjungan atau dokumentasi perjalanan. Ini adalah proses belajar yang sungguh-sungguh. Belajar menjadi manusia yang tangguh, bijaksana, dan terbuka terhadap perbedaan. Belajar memaknai kesulitan sebagai guru kehidupan. Belajar bahwa gelar akademik bukanlah segalanya, tetapi bagaimana kita memaknai setiap langkah dalam proses mencapainya.
Perjalanan ini adalah pengingat bahwa dalam dunia yang terus berubah, kita harus terus belajar, bukan hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman.
Dan dalam perjalanan kali ini, kita membeli pengalaman, tetapi yang kita dapatkan jauh lebih mahal dari harga tiket pesawat: makna kehidupan dan nilai pembelajaran yang tak ternilai.
Editor : Prihadi Zoldic