Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Berlari Bersama Waktu: Runjani dan Kilau Persaudaraan yang Tak Pernah Padam

Rury Anjas Andita • Rabu, 30 Juli 2025 | 17:19 WIB
H. Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, S.Sos
H. Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, S.Sos

SETIAP pelari tahu, tak ada langkah yang sia-sia selama kita terus bergerak. Seperti kehidupan itu sendiri, lari bukanlah semata perlombaan untuk menjadi yang tercepat mencapai garis akhir, melainkan perjalanan untuk bertahan. Bertahan melewati napas yang memburu, otot yang menjerit, dan pikiran yang kerap ingin menyerah.

Kini, komunitas lari Runjani genap berusia sembilan tahun. Angka yang mungkin tak besar dalam ukuran sejarah, namun cukup panjang untuk menorehkan jejak yang berarti. Runjani bukan sekadar kumpulan orang yang menyukai olahraga lari. Ia adalah ruang bertumbuh, wadah untuk pulih, dan rumah persaudaraan bagi ratusan jiwa dari berbagai latar belakang kehidupan.

Runjani lahir dari langkah sederhana. Didirikan pada 29 Juli 2016, Runjani tumbuh dari semangat sederhana, mengajak masyarakat hidup sehat melalui aktivitas lari. Dimulai dari beberapa orang yang rutin berlari pagi atau sore, komunitas ini berkembang perlahan namun konsisten.

Kini, dengan lebih dari 900 anggota, dan sekitar 200 orang aktif mengikuti agenda lari rutin Wednesday Night Run (WNR), Runjani telah menjelma menjadi salah satu komunitas lari terbesar di Nusa Tenggara Barat. Gaungnya bahkan menggema di berbagai ajang nasional dan internasional.

Namun, apa yang sebenarnya membuat Runjani tetap berdiri teguh hingga usia sembilan tahun? Barangkali jawabannya terletak pada makna lari itu sendiri, yang jauh melampaui dimensi fisik.

 

Lari, Antara Gerak Tubuh dan Perjalanan Jiwa

Setiap orang memiliki cara berbeda dalam memaknai lari. Bagi sebagian, lari adalah angka: kecepatan, jarak tempuh, durasi, elevasi. Namun bagi sebagian lainnya, lari adalah bentuk kontemplasi dalam gerak. Ia mengajarkan ketekunan, kesabaran, ketulusan, dan kejujuran, terutama pada diri sendiri.

Saat berlari, kita berhadapan langsung dengan keterbatasan tubuh, pergulatan pikiran, dan dialog batin yang tak selalu terucap. Tak heran jika banyak pelari menyebut lari sebagai bentuk terapi: ia menyembuhkan, perlahan dan dalam diam.

Bagi penulis sendiri, lari adalah ruang hening yang bergerak, tempat untuk berdamai dengan banyak hal yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan di Runjani, ruang itu menjadi kolektif. Kita menyembuhkan diri, bersama-sama.

Runjani menjadi rumah bagi segala langkah. Salah satu kekuatan utama Runjani adalah keberagamannya. Anggotanya datang dari berbagai profesi dan usia: pelajar, guru, dokter, pengacara, wiraswasta, aparatur sipil negara, hingga ibu rumah tangga. Ada yang pemula, ada yang sudah menjuarai berbagai lomba, bahkan ultra-maraton. Namun, tak satu pun perbedaan itu menjadi sekat.

Baca Juga: Banjir Kota Mataram: Refleksi terhadap Rencana Tata Ruang

Sejak awal, Runjani dibangun dengan semangat inklusif. Tidak ada keharusan menjadi cepat, tidak ada glorifikasi terhadap yang terkuat. Yang utama adalah kebersamaan. Pelari tercepat boleh kembali ke belakang untuk menemani yang tertinggal. Pelari pemula boleh bertanya tanpa takut direndahkan. Ketika ada yang cedera, yang lain menemani dan menyemangati.

Inilah yang membuat Runjani tak sekadar komunitas, melainkan keluarga. Ia menyatukan langkah-langkah yang berbeda dalam irama yang sama. Ia membentuk manusia yang lebih sehat secara fisik, mental, dan sosial.

Runjani yang lahir dari belahan bumi di Lombok, kini tidak saja menjadi pemberi warna pada komunitas lokal, namun Runjani hadir juga untuk Indonesia dan bahkan Dunia.

Runjani telah menjadi wajah positif Lombok di mata pelari Indonesia dan dunia. Melalui partisipasi anggotanya di ajang-ajang nasional seperti Borobudur Marathon, Maybank Marathon, Pocari Sweat Run, hingga lomba trail internasional, Runjani membawa nama Lombok dengan bangga.

Namun lebih dari itu, komunitas ini menjadi jembatan kultural. Dalam berbagai perjumpaan lintas daerah dan lintas bangsa. Runjani mempertemukan mereka yang berbeda asal, suku, dan kisah hidup dalam satu napas langkah yang sama. Dari sinilah Lombok dikenal bukan hanya karena keindahan panoramanya, tapi karena masyarakatnya yang hangat dan komunitas-komunitasnya yang hidup.

Runjani adalah pintu yang membuat banyak pelari dari luar merasa “pulang,” meskipun hanya untuk sementara. Ia menjadi duta nilai-nilai, ketangguhan, persaudaraan, dan cinta tanah air.

Sembilan tahun, Runjani telah menatap masa depan dengan langkah penuh makna. Di mana memasuki usia sembilan tahun ini, Runjani menghadapi tantangan baru. Dunia lari semakin kompetitif, dunia digital semakin bising, dan ritme hidup semakin cepat. Namun, satu hal yang tak boleh berubah adalah ruh Runjani, menjadikan lari sebagai jalan hidup yang memuliakan tubuh, pikiran, dan hubungan antarmanusia.

Ke depan, Runjani harus tetap menjadi ruang yang inklusif dan ramah. Tempat generasi muda bisa belajar dari yang lebih dulu, tempat yang kuat tetap rendah hati, dan yang baru merasa diterima. Tak harus menjadi yang terbesar, tapi cukup menjadi yang paling berarti bagi mereka yang menjadikannya rumah.

Sebab tidak semua orang berlari untuk menang. Ada yang berlari untuk sembuh. Ada yang berlari untuk kembali mengenali dirinya. Ada pula yang berlari agar tidak jatuh lagi. Dan di Runjani, semua alasan itu dihargai.

 

Terima Kasih, Runjani

Sembilan tahun telah berlalu. Entah berapa ribu kilometer telah dilalui. Namun, lebih dari itu, kita tahu: yang paling penting bukanlah jumlah lomba atau podium, melainkan berapa banyak hati yang terhubung, berapa banyak hidup yang berubah, dan berapa banyak luka yang perlahan sembuh semata karena kita memilih untuk terus berlari, bersama-sama.

Baca Juga: Menjawab Asta Cita Presiden Prabowo, NTB Genjot MBG untuk Generasi Emas dari Dapur Negeri

Selamat Ulang Tahun Kesembilan Runjani

Teruslah menjadi ruang yang menyatukan, langkah yang menyembuhkan, dan irama yang merayakan hidup. Karena lari bukan tentang siapa yang tercepat. Tapi tentang siapa yang tak berhenti. (*)


*) Penulis: H. Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq, S.Sos, Pegiat Lari dan Anggota Komunitas Lari Runjani Lombok

Editor : Rury Anjas Andita
#komunitas lari #Runjani #Persaudaraan #berlari