Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengenal Green Technofinance di Tengah Gempuran Teknologi Artificial Intelligence

Lombok Post Online • Kamis, 31 Juli 2025 | 13:48 WIB

 

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

LombokPost - Gempuran teknologi yang semakin pesat membuat kita masuk pada portal dunia baru yaitu portal dunia Artificial Intelligence (AI). Seperti peribahasa lama yang mengatakan bahwa setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya dan sekarang kita adalah orang yang sedang hidup dengan masanya sendiri, masa yang dipenuhi dengan berbagai macam kecanggihan AI.

Mari kita akui bersama, bahwa kemajuan teknologi saat ini benar-benar telah berjalan begitu cepat. Kecanggihan pada masa kita masih berada pada bangku sekolah dasar benar-benar berbeda dengan kecanggihan yang kita alami pada saat usia dewasa sekarang ini. 

Pada dekade terakhir ini, dunia bisnis telah mengalami transformasi digital yang luar biasa. Teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini bukan hanya menjadi alat bantu, melainkan mobil kendaraan utama dalam pengambilan keputusan bisnis. Sementara itu, isu lingkungan dan keberlanjutan menjadi sorotan utama dunia. Di tengah dua arus besar tersebut, muncul satu pendekatan “a balance approach” yang mencoba menjembatani kebutuhan efisiensi teknologi dengan kesadaran lingkungan yang dalam tulisan ini dikenal dengan Green Technofinance.

 Baca Juga: Kecoak Mata-Mata Jerman Siap Intai Medan Perang! Didukung Robot AI, Drone Tempur, dan Kapal Selam Mini

Apa Itu Green Technofinance?

Green Technofinance menurut Alpiansah (2025) merupakan perpaduan tiga pilar utama: keberlanjutan lingkungan (green business), teknologi digital (techno), dan sistem keuangan yang inklusif serta adaptif (finance). Pendekatan ini menitikberatkan pada strategi bisnis yang mengedepankan efisiensi, tanggung jawab lingkungan, dan inovasi keuangan berbasis teknologi.

Penemuan konsep baru ini berawal dari suatu ide bahwa ilmu keuangan tidak dapat berdiri sendiri tanpa perpaduan ilmu yang lainnya. Ilmu keuangan yang konvensional dirasa tidak akan dapat mampu bertahan hingga saat ini jika tidak melakukan perubahan dan adaptasi dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat. Oleh karenanya, ilmu keuangan bergandengan dengan konsep green technology agar tetap dapat memberikan manfaat untuk masa sekarang dan masa depan.

Lebih dari sekadar menggunakan panel surya atau mengurangi limbah, green business technofinance melibatkan penggunaan big data, AI, hingga fintech dalam menciptakan sistem ekonomi yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan efisien. Dalam bahasa sederhana, technofinance menggabungkan ilmu keuangan dan teknologi komputer dalam pengolahan data agar proses olah data dapat lebih cepat dilakukan sehingga proses pengambilan keputusan keuangan pun dapat lebih cepat. Pengolahan data menggunakan data digital akan secara langsung dapat mengurangi penggunaan kertas atau plastik yang tentunya akan berdampak pada pengurangan sampah kertas.

Data dari Worldmetrics.org mengemukakan bahwa rata-rata pekerja kantor menggunakan kurang lebih 10.000 lembar kertas per tahun atau setara dengan 2 sampai 5 kilogram per orang (tergantung jenis dan berat kertas). Selanjutnya, data dari Officedasher.com menjelaskan bahwa lebih dari 60 persen limbah kantor berupa kertas dan sekitar 45 persen kertas yang dicetak bahkan dibuang dalam waktu 24 jam karena tidak terbaca lagi. Fenomena ini tentunya akan sangat bertentangan dengan konsep dunia berkelanjutan di tengah-tengah kampanye bisnis hijau yang semakin agresif.

Meski pun ini terlihat sangat sepele, namun penerapan green technofinance pada dunia bisnis akan sangat cukup signifikan dalam mengurangi penggunaan kertas. Laporan-laporan keuangan yang semestinya bisa dikirim melalui email, WhatsApp atau media lainnya seharusnya tidak perlu dicetak lagi. Berdalih dengan alasan arsip, zaman sekarang kita sudah memiliki banyak media database gratis dan premium yang dapat digunakan untuk menyimpan data elektronik yang bisa bertahan sampai kapan pun tanpa harus takut dimakan rayap.

Baca Juga: OPPO Reno14 Series Hadir Jadi Ikon dengan AI Fotografi Setara Profesional

Ancaman dan Peluang dari AI

Teknologi AI memang menawarkan efisiensi luar biasa: otomatisasi proses bisnis, low-cost budget, hingga analisis data real-time. Namun, AI juga membawa risiko besar terhadap prinsip-prinsip hijau jika tidak dikendalikan secara bijak. Ibarat kata, peluang bisa menjadi jurang saat kecanggihannya tidak dapat diberdayakan dengan benar. Namun benar pun tidak cukup, teknologi ini harus digunakan secara bijak agar tetap dapat memberikan dampak positif yang lebih besar kepada masyarakat. 

Sebagai contoh, kita dapat mengunggah laporan keuangan pribadi atau perusahaan ke dalam chat GPT kemudian memberikan instruksi analisis data. Dalam hitungan detik, hasil analisis keuangan akan muncul dengan akurasi yang cukup tinggi. Hal ini tentunya dapat memberikan peluang bagi non finance expert untuk bisa lebih mudah memahami isi laporan keuangan tanpa harus memahami konsep keuangan secara keseluruhan. Bahkan hanya mengetik “tolong buat analisis dengan bahasa yang paling sederhana” pun, Chat GPT yang merupakan bagian Generatif AI pun akan mampu melakukannya dengan mudah sehingga orang yang tidak memiliki latar belakangan keuangan pun akan dapat lebih mudah memahaminya.

Kemajuan ini pun tak selamanya memberikan peluang. Bagi tenaga keuangan, hal ini adalah sebuah ancaman yang tidak boleh diabaikan. Namun ilmu itu harus tetap berkembang dari masa ke masa. Ahli keuangan harus mampu bergandengan dengan teknologi keuangan agar dapat memberikan hasil analisis yang lebih akurat sehingga keputusan keuangan pun dapat lebih bisa diandalkan. Hal inilah yang membuat para dosen dan praktisi keuangan harus mampu menguasai technofinance agar dapat memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat.

 

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Sinkronisasi Keuangan Hijau dan Digitalisasi

Sektor keuangan adalah tulang punggung bagi setiap transformasi bisnis. Integrasi keuangan hijau dengan digitalisasi artinya menggabungkan upaya pelestarian lingkungan dengan teknologi digital dalam mengelola uang dan pembiayaan. Keuangan hijau sendiri adalah kegiatan keuangan yang mendukung proyek-proyek ramah lingkungan, seperti energi terbarukan, pengelolaan limbah, atau transportasi bersih. Ketika teknologi digital seperti aplikasi keuangan, sistem pembayaran online, atau blockchain digunakan untuk mempermudah, mempercepat, dan memperluas akses pembiayaan ke proyek-proyek hijau, maka itulah yang disebut integrasi keuangan hijau dan digitalisasi.

Dengan bantuan teknologi digital, informasi tentang investasi hijau bisa lebih mudah diakses oleh masyarakat, dan proses pendanaan bisa lebih transparan dan efisien. Misalnya, ada aplikasi yang memungkinkan orang berinvestasi langsung ke proyek energi surya atau membeli obligasi hijau secara daring. Jadi, digitalisasi membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi yang peduli lingkungan, sekaligus membuat masyarakat lebih sadar dan terlibat dalam upaya menjaga bumi. Konsep ini tentunya melahirkan sebuah ungkapan baru “ada banyak cara untuk menyelamatkan dan memperbaiki bumi”.

Kombinasi UMKM Hijau dan AI

UMKM Hijau dan AI adalah usaha kecil yang ramah lingkungan dan mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan usahanya. UMKM hijau biasanya bergerak di bidang seperti pertanian organik, kerajinan ramah lingkungan, atau wisata berkelanjutan. Dengan bantuan AI, pelaku UMKM bisa mengatur stok barang secara otomatis, memprediksi permintaan pasar, atau bahkan menggunakan chatbot untuk menjawab pertanyaan pelanggan. Teknologi ini membuat usaha lebih efisien, mengurangi limbah, dan mendukung bisnis berkelanjutan.

Beberapa UMKM di Pulau Lombok secara tidak langsung pun telah menerapkan konsep ini. Ada UMKM yang memproduksi sabun dari bahan alami seperti minyak kelapa dan daun kelor. Dengan AI, pemilik usaha bisa menganalisis data penjualan untuk mengetahui produk mana yang paling diminati wisatawan. Mereka juga bisa menggunakan media sosial otomatis untuk promosi tanpa harus memantau setiap hari. Selain itu, AI membantu merancang kemasan ramah lingkungan yang menarik dengan cepat. Ini membuktikan bahwa teknologi canggih bisa bersatu dengan prinsip ramah lingkungan, bahkan di wilayah seperti Lombok yang berbasis pariwisata dan alam.

Pemprov NTB harus mulai menggerakkan peran para Gen Z dalam memberikan kampanye penggunaan technofinance dan AI kepada para pelaku UMKM agar mereka dapat menggunakan teknologi ini secara optimal. Mari Hijaukan NTB dengan UMKM nya yang ramah lingkungan. Para pengusaha sudah seharusnya diberikan kesadaran bahwa tidak hanya tentang uang, melainkan tentang keberlanjutan.

Peran Generasi Muda dan Universitas

Green technofinance bukan hanya isu korporat, tetapi juga agenda generasi muda. Mahasiswa dan fresh graduate dari berbagai jurusan terutama lulusan manajemen konsentrasi keuangan memiliki peluang besar untuk menjadi agen perubahan. Pendidikan tinggi harus menyesuaikan kurikulum dengan pendekatan transdisciplinary yang menggabungkan pemahaman teknologi, keuangan, dan keberlanjutan. Program magang di startup fintech hijau, riset kolaboratif dengan perusahaan AI, serta inkubator bisnis ramah lingkungan adalah contoh konkret bagaimana kampus bisa mengambil peran.

Gen Z dan Green Technofinance

Literasi technofinance berarti kemampuan seseorang, termasuk Gen Z, untuk menggunakan teknologi dalam mengelola keuangan, seperti memakai aplikasi dompet digital, investasi online, atau aplikasi pencatat keuangan. Di zaman sekarang, Gen Z sangat akrab dengan ponsel pintar dan internet, sehingga mereka punya peluang besar untuk menjadi generasi yang cerdas finansial. Dengan technofinance, Gen Z bisa mengatur uang jajan, menabung otomatis, hingga belajar investasi sejak dini secara praktis dan cepat lewat aplikasi.

Saat digabungkan dengan ekonomi hijau, literasi technofinance bisa membuat Gen Z jadi agen perubahan. Misalnya, Gen Z bisa memilih untuk berinvestasi di usaha ramah lingkungan atau membeli produk dari UMKM yang peduli terhadap alam. Dengan teknologi, mereka juga bisa melacak jejak karbon dari produk yang mereka beli atau menyumbang ke proyek lingkungan secara daring. Ini menunjukkan bahwa literasi keuangan berbasis teknologi bisa membantu Gen Z ikut membangun ekonomi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan yang tepat, NTB bisa menjadi pionir di kawasan Indonesia Timur dalam pengembangan ekonomi hijau digital berbasis AI. Namun, ini membutuhkan keberanian untuk berubah, berpikir lintas disiplin, dan merombak paradigma bisnis lama. Karena di era digital ini, keberlanjutan bukan hanya tentang menyelamatkan bumi tetapi juga tentang menyelamatkan masa depan ekonomi itu sendiri.

 

Ilustrasi. Opini by Restu Alpiansah, S.Ak., MA., MFin.(Dosen Manajemen Keuangan di Program Studi S1 Manajemen Universitas Bumigora)
Ilustrasi. Opini by Restu Alpiansah, S.Ak., MA., MFin.(Dosen Manajemen Keuangan di Program Studi S1 Manajemen Universitas Bumigora)

Mari Bergandengan dengan Perubahan

Kemajuan AI yang semakin pesat bukanlah ancaman. Orang tua tak perlu bersikeras melarang anaknya untuk tidak menggunakan AI. Begitu juga dengan para guru dan dosen di lingkungan akademik. Melarang peserta didik untuk menghindari penggunaan AI dalam lingkungan akademik justru akan membuat mereka belajar dari sumber yang salah sehingga penggunaannya tidak akan dapat diawasi dengan baik.

Sudah seharusnya kita semua mulai memperkenalkan penggunaan AI kepada kerabat-kerabat terdekat sehingga mereka akan mendapatkan edukasi yang lebih terarah. Dengan demikian, masyarakat akan mulai sadar bahwa AI dan technofinance memang sangat bermanfaat di tengah kemajuan AI yang semakin pesat. AI adalah peluang, jadi mari tetap berjuang untuk bisa menang menuju NTB mendunia di masa yang akan datang. (*)

Editor : Kimda Farida
#Green #teknologi #Pengolahan #ai #inklusif #Artficial Intelligence