LombokPost - Dalam sebuah perkuliahan saya pernah menjelaskan Teori Kultivasi kepada mahasiswa. Sebuah konsep dalam ilmu komunikasi yang menyatakan bahwa paparan media dalam jangka panjang bisa membentuk cara pandang dan kepribadian seseorang. Saat saya memberikan contoh bagaimana seseorang dapat terpapar suatu konten yang sering ditonton atau dibaca, maka akan memengaruhi sikap, kepribadian, dan pandangannya.
Beberapa mahasiswa yang mendengar itu langsung mengangguk seakan relevan dengan apa yang saya sampaikan. “Oh.. pantesan Bu! Teman saya gampang galau Bu. Dia sering buat story konten-konten galau padahal hidupnya baik-baik aja!,” ujar salah satu dari mereka.
Ya begitulah media sosial, bisa membuat seseorang memandang, menilai, hingga merasakan kegalauan karena sering terpapar oleh konten galau. Sekalipun orang tersebut sebenarnya hidupnya baik-baik saja. Tetapi karena intensitas paparan konten media sosial yang tinggi itulah, akhirnya memengaruhi alam bawah sadarnya.
Paparan konten bernuansa sedih jika dikonsumsi secara berulang, dapat memengaruhi suasana hati seseorang. Terlebih jika pagi hari dimulai dengan aktivitas scrolling dan langsung disambut oleh isu viral yang memilukan, maka suasana hati pun bisa terbawa sepanjang hari. Potongan kisah patah hati, video galau, konten cerita hubungan kandas karena orang ketiga, semuanya tanpa disadari dapat menempel dan melekat di pikiran.
Akibatnya, seseorang bisa lebih mudah murung, overthinking, dan terbawa suasana. Inilah yang disebut kultivasi. Dulu, pengaruh ini datang dari sinetron di televisi. Sedangkan hari ini, lewat media sosial dalam bentuk yang lebih cepat, lebih banyak, lebih personal, dan terus-menerus.
Di sisi lain, pengguna media sosial terjebak dalam tekanan untuk tampil modis dan mengikuti tren. Membludaknya konten flexing dan OOTD di lini masa membuat banyak dari mereka merasa tertinggal bahkan insecure. Tidak sedikit mahasiswa yang curhat masalah ini. Mereka memaksakan diri tampil gaya demi bisa “setara” dengan teman sebaya yang tampak sempurna di media sosial. Padahal, apa yang terlihat di layar sering kali hanyalah realitas semu yang belum tentu mencerminkan keadaan sebenarnya.
Banyak mahasiswa sadar bahwa media sosial bisa mengganggu fokus dan memainkan mood (suasana hati) mereka. Namun, mereka juga menyadari sulit lepas dari media sosial. Niatnya hanya ingin scrolling sebentar, eh malah rebahan berjam-jam dengan mata terpaku pada layar. Bahkan beberapa mahasiswa ketahuan bermain media sosial saat perkuliahan berlangsung. Seakan, sudah menjadi kebiasaan sampai tak sadar saat masih dalam perkuliahan refleks tangan mereka mencari hp dan membuka media sosial. Fisik mereka memang ada di kelas, tapi pikiran mereka telah hanyut dalam dunia maya.
Media sosial masa kini memang didesain agar pengguna betah berlama-lama berselancar di dalamnya. Konten-konten yang disajikan berdurasi singkat, ringan, dan informatif, sehingga memberi ilusi seolah waktu tidak banyak terbuang. Ditambah lagi konten-konten ringan dipadu backsound yang sedang hits membuat pengguna betah dan sulit berhenti.
Aktivitas scrolling pun terasa menyenangkan dan adiktif. Tanpa disadari, pengguna disajikan konten-konten yang seakan relevan dengan apa yang sedang ia cari, minati, maupun sedang dihadapi. Kondisi ini disebut filter bubble. Sebuah kondisi dalam dunia digital di mana sistem algoritma menyaring informasi dan hanya menampilkan konten berdasarkan preferensi pengguna. Semakin sering melihat jenis konten tertentu, semakin banyak konten serupa yang akan ditampilkan kembali.
Sederhananya, saat pengguna mencari info tentang “tutorial hijab” di media sosial, maka sebagian besar konten berikutnya yang muncul seputar tutorial hijab. Ketika mencari tahu “buket bunga artificial” di Google, lalu membuka aplikasi Shopee, tanpa perlu mengetik ulang, pengguna akan langsung disuguhi berbagai produk buket bunga artificial dan sejenisnya.
Pernah mengalami hal serupa? Ya, begitulah cara kerja algoritma digital. Internet saat ini tak ubahnya seperti asisten pribadi. Di era Web 3.0, sistem tidak hanya mencatat, tapi juga memahami kebiasaan dan kebutuhan pengguna, serta menyajikan pengalaman yang semakin dekat dan relevan.
Pada akhirnya, tulisan ini bukan mengajak memusuhi media sosial. Justru sebaliknya, menyadari bahwa hidup kita jangan sampai dikendalikan media sosial. Mahasiswa perlu seimbang melihat realitas kehidupan tak hanya sebatas di layar smartphone. Belajar melihat realitas secara utuh.
Mengenali jati diri dan membangun prinsip hidup agar tak diatur tren di media sosial. Begitu pula dengan kita semua. Meluangkan waktu tanpa gawai, menikmati aktivitas yang tidak semuanya perlu diunggah, sehingga tidak perlu memikirkan komentar orang lain atau jumlah like yang diterima.
Kita semua memang hidup di era di mana smartphone menjadi kebutuhan. Namun, sebagai pengingat, jangan lupa bahwa kita telah dibekali akal dan kehendak untuk mengendalikan diri. Maka, di tengah gempuran media sosial, marilah kita tetap menjadi manusia yang sadar, bijak, dan berdaya. (*)
Editor : Pujo Nugroho