Jejak Sejarah dalam Babad
Setiap bangsa punya cara untuk merekam sejarah. Di Lombok, salah satunya adalah babad - teks panjang beraksara Jejawan yang bukan sekedar dongeng, melainkan memori kolektif.
Babad Sakra adalah salah satu yang paling penting. Naskah setebal 1.111 bait ini merekam kisah rakyat Sakra yang ditindas kekuasaan Karangasem.
Pajak dipungut tanpa henti, gadis desa terancam dijadikan selir, dan pungawa Bali ditempatkan di hampir setiap desa. Dari sana lahirlah perlawanan.
Tokoh utamanya, Raden Mas Panji Komala, penguasa Sakra berdarah Pejanggik-Bugis, bangkit melawan.
Namun upaya menggalang persatuan dari utara hingga selatan Lombok sering gagal. Banyak desa masih tunduk pada Karangasem. Perang pun berkepanjangan.
Sejarah ini menyimpan pelajaran tanpa persatuan, perjuangan hanya melahirkan luka panjang.
Kisah Pajak dan Kekuasaan
Babad juga menuturkan perang keluarga kerajaan Karangasem dan Mataram akibat skandal rumah tangga. Meski tampak remeh, dampaknya besar, Karangasem kian berkuasa dan pajak rakyat makin berlipat. Pajak dikumpulkan di Taman Mayura, dalam bentuk uang, emas, dan hasil bumi.
Di sini kita bisa memakai kacamata semiotika Roland Barthes, pajak bukan sekadar kewajiban ekonomi, melainkan tanda penindasan. Ia simbol kuasa yang menundukkan rakyat.
Jika ditarik ke masa kini, fenomena serupa masih terasa. Pembangunan yang hanya menguntungkan elite adalah wajah baru dari “pajak berlipat”: beban rakyat untuk memperkaya segelintir orang.
Bangkitnya Desa-desa
Namun perlawanan tidak padam. Dari Praya, Kopang, Mantang, hingga desa-desa sekitar Mataram, pemberontakan meletus. Tuan Guru Ismail di Praya, Tuan Guru Ali Batu di Sakra, dan tokoh-tokoh lain berdiri di garis depan. Bahkan Pagutan, Sekarbela, hingga Pagesangan ikut melawan.
Nama desa-desa itu masih hidup hingga hari ini. Fakta ini menegaskan bahwa babad bukan dongeng kosong, melainkan refleksi sejarah nyata. Perlawanan rakyat justru lahir dari desa, bukan dari istana.
Pelajaran yang bisa ditarik, kekuatan sejati ada pada masyarakat akar rumput. Ketika mereka bersatu, penindasan bisa dilawan.
Runtuhnya Karangasem
Akhir babad menempatkan Belanda sebagai aktor penentu. Orang Sasak digambarkan mendapat simpati karena terlalu lama menderita. Belanda lalu menggempur Karangasem, menghancurkan kekuasaan hingga runtuh.
Namun tafsir ini problematis. Apakah Belanda benar-benar penolong, atau sekadar memanfaatkan konflik? Fakta sejarah menunjukkan, setelah Karangasem tumbang, Belanda yang mengambil alih kekuasaan. Rakyat tetap dalam cengkeraman kolonial, hanya dengan wajah baru.
Membaca dengan Kacamata Kekinian
Babad Sakra memuat banyak kode makna: Hermeneutik: teka-teki kapan penderitaan rakyat berakhir, terjawab pada runtuhnya Karangasem. Simbolik: oposisi rakyat vs penguasa. Kultural: praktik pajak, sistem selir, dan pungawa. Proaeretik: rangkaian pemberontakan menuju perubahan.
Kode-kode itu masih relevan. Pajak berlipat bisa dibaca sebagai simbol ketidakadilan sosial. Perang antardesa mencerminkan bahaya fragmentasi. Dan intervensi Belanda menggambarkan bagaimana kekuatan luar sering masuk ketika rakyat terpecah.
Pelajaran bagi Ke-NTB-an Kita
Ada lima pelajaran penting dari Babad Sakra untuk masyarakat NTB. 1) Persatuan adalah kunci. Perpecahan hanya memperpanjang penderitaan. Dalam politik lokal, NTB harus belajar bahwa persaingan kepentingan hanya melemahkan daerah sendiri.
2) Elitisme berbahaya. Seperti para pemimpin desa dalam babad yang ingkar janji, elit modern pun sering lebih mementingkan diri sendiri daripada rakyat.
3) Pembangunan harus inklusif. Jangan sampai NTB jatuh pada enclave economy makmur di satu kawasan, tertinggal di lainnya. Mandalika dan pariwisata harus memberi manfaat nyata bagi desa.
4) Desa adalah kekuatan utama. Dari dulu hingga kini, perubahan selalu lahir dari desa. Kebijakan harus berpijak pada kebutuhan masyarakat desa, bukan hanya kota.
5) Budaya sebagai identitas. Babad adalah cermin moral. Ia mengingatkan pentingnya solidaritas, keberanian, dan harga diri.
Menjaga Memori, Merawat Identitas
Dalam kajian antropologi, masyarakat Sakra dikenal memiliki hubungan genealogis dengan Bugis-Bajo. Tokoh Mas Panji Komala adalah contoh nyata hibriditas itu. Artinya, identitas Lombok dibentuk oleh pertemuan budaya, sekaligus konflik.
Koentjaraningrat pernah menegaskan bahwa akulturasi adalah inti dari budaya nusantara. Babad Sakra menunjukkan Lombok sebagai titik temu: antara Sasak, Bugis, dan Bali. Itulah sebabnya memori babad harus dijaga, agar identitas tidak hilang ditelan modernisasi.
Museum, sekolah, dan komunitas lokal perlu menghidupkan kembali babad. Ia bukan hanya teks, melainkan pedoman moral, sumber kebanggaan, dan alat pendidikan.
Penutup
Babad Sakra bukan hanya kisah masa lalu. Ia adalah cermin perjalanan rakyat: dari penindasan, perlawanan, hingga kebebasan yang semu. Ia menegaskan satu pesan: persatuan, solidaritas, dan keadilan adalah fondasi kehidupan.
Semua pelajaran dari Babad Sakra tentang persatuan, solidaritas, dan keberanian melawan ketidakadilan, sesungguhnya adalah bagian dari Ke-NTBan Kita. Ia bukan sekedar istilah, melainkan jati diri, arah, dan semangat kolektif masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dengan menjadikannya pedoman yang tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membangun masa depan NTB yang berdaulat, inklusif, dan membanggakan. (*)
Editor : Pujo Nugroho