Oleh Prof. Dr. Abdul Azis Bagis
LATAR BELAKANG
Kontribusi para pelaku UMKM di Indonesia, khususnya di NTB sangat tinggi, dan tidak diragukan lagi. Untuk itu semua pihak terkait perlu memberikan perhatian yang maksimal, melalui peningkatan kapabilitas para pelaku usaha itu sendiri, sehingga UMKM terus maju secara berkelanjutan dan mampu menyerap tenaga kerja yang banyak.
Sementara tingkat pengangguran terdidik di Indonesia masih cukup tinggi. Data BPS (2024) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,91% atau sekitar 7,47 juta orang. Fenomena ini sekaligus menggambarkan adanya kesenjangan antara kemampuan lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia Industri.
Para calon pengusaha UMKM dari lulusan perguruan tinggi cenderung memilih usaha konvensional, seperti perdagangan sederhana meliputi kuliner, sembako yang cepat jenuh serta sulit bersaing (Khoiron, 2024).
Peran perguruan tinggi dalam membangun ekosistem kewirausahaan sudah banyak dibuktikan. Dilaporkan bahwa manajemen inovasi pada start-up mahasiswa dapat meningkatkan akuisisi pelanggan hingga 60% lebih (Nurhayati et al., 2024), dan ditekankan pentingnya pendampingan mahasiswa dalam membangun usaha rintisan agar lebih cepat menguasai keterampilan praktis (Kusuma et al., 2024).
Studi internasional juga menegaskan peran universitas dalam menumbuhkan niat kewirausahaan, sangat tinggi. Dukungan lingkungan akademik memperkuat intensi wirausaha mahasiswa (Makai and Dőry 2023), sementara peranan universitas dalam membangun ekosistem lintas disiplin juga cukup efektif (Guerrero et al., 2020).
Konsep entrepreneurial universities menjadi salah satu model yang muncul dalam merespon tantangan ini, dengan menekankan integrasi antara pendidikan, riset, dan kewirausahaan. Keberhasilan start-up mahasiswa juga sangat dipengaruhi oleh ekosistem kewirausahaan yang mendukung (Isenberg, 2016) serta peran sosial kewirausahaan yang tidak hanya fokus pada keuntungan tetapi juga berkontribusi terhadap masyarakat (Zahra & Wright, 2016). Selain faktor modal finansial, penelitian terbaru menekankan pentingnya modal maya (virtual capital) yang meliputi modal intelektual, sosial, dan kredibilitas mahasiswa. Modal maya terbukti mampu mengurangi ketergantungan pada modal fisik dan lebih menjamin keberlanjutan bisnis mahasiswa (Bagis et al., 2022).
Iklim akademik menjadi faktor kunci dalam memperkuat intensi kewirausahaan mahasiswa. Studi menunjukkan bahwa iklim akademik yang lebih kondusif dapat meningkatkan kualitas pendidikan kewirausahaan di negara berkembang (Bagis et al., 2024). Pengembangan kapabilitas insani mahasiswa perlu dijadikan basis model entrepreneurship agar inovasi dan potensi mereka dapat berkembang secara optimal. Perguruan Tinggi memiliki kekuatan akademik dalam bentuk hasil penelitian dan inovasi para dosen yang berpotensi untuk dihilirkan menjadi ide atau gagasan bisnis, dan penting untuk menjembatani hasil penelitian dapat memberi dampak manfaat yang nyata. Menurut integrasi riset unggulan perguruan tinggi ke dalam pengabdian masyarakat mampu memperkuat inovasi berbasis kebutuhan (Sari et al., 2025). Oleh karena itu, pemanfaatan temuan riset dosen, kekayaan intelektual (Haki), dan prototype, mampu meningkatkan kapabilitas kewirausahaan pelaku UMKM NTB, mahasiswa dan alumni, sekaligus memperkuat ekosistem inovasi melalui pembentukan fasilitas tenant berbasis hilirisasi penelitian para dosen, di lingkungan Perguruan Tinggi.
TANTANGAN PELAKU UMKM NTB
Menyadari pentingnya peningkatan kapabilitas para pelaku UMKM, termasuk dari kalangan terdidik (mahasiswa dan alumni perguruan tinggi), sebagai tumpuan pengembangan entitas UMKM NTB, maka sudah saatnya mereka dikenalkan entitas Star-Up. Para pelaku UMKM perlu didorong untuk mencari ide atau gagasan bisnis yang kreatif dan inovatif dengan berbasis teknologi berwujud entitas Star-Up.
Sumber ide atau gagasan yang kreatif dan inivatif dapat berasal dari hasil penelitian para civitas akademika di perguruan tinggi. Dengan demikian para pelaku UMKM NTB tidak sekedar meniru usaha yang sudah ada (konvensional) yang cenderung melahirkan kompetisi bisnis yang kurang sehat.
Pengenalan dan perintisan entitas Start-Up bagi pelaku bisnis NTB, memerlukan sinerginitas para pihak, khususnya Pemda dan civitas Perguruan Tinggi.
Pendekatan partisipatif ini sejalan dengan konsep community-based empowerment yang menekankan keterlibatan memenuhi sasaran program (Yuwana et al., 2025) dan selaras dengan pengembangan model entrepreneurship berbasis kapabilitas insani, di mana potensi dan kompetensi calon pengusaha dioptimalkan melalui proses pembelajaran yang terintegrasi dengan riset dosen (Bagis & Nasir, 2020).
Strategi pelaksanaan terdiri dari sosialisasi, motivasi bisnis, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan tenant, dan keberlanjutan program. Sosialisasi dilakukan untuk memperkenalkan tujuan kegiatan dan peluang pemanfaatan riset dosen.
Pelatihan dilaksanakan dengan memberikan materi penyusunan motivasi, rencana bisnis, pemasaran digital, dan manajemen keuangan berbasis studi kasus. Metode pelatihan menggunakan experiential learning agar peserta belajar melalui praktik langsung (Leatemia & Pattinaja, 2023).
Tahap berikutnya adalah penerapan teknologi hasil riset dosen yang relevan dengan ide bisnis, diikuti pendampingan tenant oleh dosen dan tim IBT Kubinov untuk mematangkan ide usaha tersebut.
Pada tahap akhir dilakukan evaluasi dan penguatan keberlanjutan melalui integrasi tenant ke dalam program resmi IBT agar memperoleh pendampingan lanjutan dan akses jejaring pendanaan (Pratiwi et al., 2024; Sari et al., 2025). Tahapan perintisan dimulai dari pemetaan peserta dan sosialisasi, motivasi bisnis, pelatihan kewirausahaan, penerapan hasil penelitian dosen yang relevan, pendampingan tenant, serta evaluasi dan keberlanjutan melalui integrasi tenant ke dalam program resmi incubator bisnis teknologi (IBT) perguruan tinggi.
Para mahasiswa pemula menghadapi kesulitan dalam memanfaatkan marketplace karena keterbatasan keterampilan awal (Nugroho et al., 2024). Untuk mengatasi kendala tersebut, calon tenant diarahkan untuk mendaftar di IBT Perguruan Tinggi, agar memperoleh dukungan berkelanjutan, akses jejaring, serta peluang pendanaan. Strategi ini konsisten dengan pentingnya integrasi tenant ke dalam inkubator bisnis teknologi (Nugroho et al., 2024). Para mahasiswa yang memanfaatkan gagasan para dosen berpeluang lebih besar untuk memperoleh dukungan pembiayaan sponsorsjhip selama proses inkubasi.
Program ini juga menegaskan peran pengelola universitas sebagai katalisator kewirausahaan para mahasiswa dan alumni, melalui kemudahan dan kebijakan hilirisasi hasil penelitian para dosen, baik yang telah memperoleh hak paten atau prototype maupun yang belum terdaftar. Peranan universitas memiliki fungsi strategis dalam menghubungkan riset dengan pasar melalui ekosistem inovasi berkelanjutan (Hisrich, 2020).
Setelah proses inkubasi berjalan dan sampai pada tahap eksekusi di lingkungan dunia bisnis nyata, maka para pelaku bisnis Start-Up harus diberikan karpet merah untuk memasuki dan memanfaatkan sarana dan prsarana Science Park Technology NTB, yang juga dikenal sebagai Science Technology and Industrial Park (STIP) Banyumulek. Dengan demikian perintisan entitas Start-Up mulai diproses di lingkungan perguruan tinggi sebagai rumah kecil sampai dinilai siap memasuki tahap eksekusi, dan SPT NTB berfungsi sebagai rumah besarnya.
KESIMPULAN
Upaya para pihak untuk mengembangkan UMKM di NTB, perlu dilakukan dengan terobosan baru, diantaranya dengan mendorong pelaku bisnis merintis bisnis yang kreatif, inovatif dan berbasis teknologi, atau lebih dikenal sebagai entitas Start-Up.
Kesempatan emas ini perlu dimaksimalkan oleh para mahasiswa dan alumni perguruan tinggi, dengan memanfaatkan hilirisasi hasil peneltian maupun hak-paten (Haki) para dosen sebagai sumber ide kreatif (baru dan berbeda) sekaligus inovatif (diapresiasi pasar), karena sudah melalui validasi penelitian. Untuk aktualisasi ide kreatif dan inovatif tersebut, dilakukan proses pendampingan (inkubasi) untuk para mahasiswa bersama alumni dengan melibatkan dosen selaku pemilik ide.
Proses inkubasi dapat berlangsung satu sampai dua tahun, dengan pembiayaan (sponshorship) dari pihak-pihak yang peduli pada pengembangan Start-Up, terutama Pemerintah Daerah NTB. Apresiasi untuk para dosen selain memiliki hak paten, sekaligus berhak memperoleh saham selaku pemilik ide dan pendamping (inventor) pasca entitas Star-Up berhasil (survive).
Hasil kegiatan memperlihatkan terbentuknya tenant kolaboratif lintas disiplin ilmu. Kolaborasi ini mendukung munculnya inovasi bisnis yang lebih beragam dan sesuai dengan pentingnya ekosistem multi-disiplin (Guerrero et al., 2020).
Dukungan Lembaga perguruan tinggi atau Universitas mampu mendorong mahasiswa lebih percaya diri (self-efficacy) memilih karir wirausaha (Makai dan Dory 2023). keberlangsungan bisnis sangat dipengaruhi oleh kombinasi orientasi kewirausahaan mahasiswa dengan dukungan kebijakan pemerintah yang pro-inovasi.
Integrasi kedua faktor tersebut mendorong bisnis rintisan Start-Up lebih siap menghadapi tantangan ketidakpastian pasar di era yang bergejolak dewasa ini (Bagis 2023). Kapabilitas kolektif akan terbangun melalui kolaborasi mahasiswa lintas keilmuan, dalam bentuk kolaborasi mahasiswa ekonomi dengan mahasiswa teknik, sesuai pilihan, dan kecendrungan (passion) mahasiswa serta persyratan ide tersebut. Hilirisasi hasil penelitian dosen dapat dimanfaatkan sebagai sumber ide kreatif, dengan akselerasi proses inkubasi sebagai tenant selama satu atau dua tahun, sehingga dapat lebih menjamin keberhasilan entitas start-Up tersebut.
Sekaligus meningkatkan kapasitas kewirausahaan para mahasiswa dan alumni Perguruan Tinggi, karena memiliki kandungan teknologi baru ataupun tepat guna. Penerapan teknologi hasil riset dosen, pendampingan tenant, dan keberlanjutan di IBT PT, dapat menghasilkan tenant kolaboratif, meningkatkan niat berwirausaha, sekaligus menjadi umpan balik (feed back) bagi dorongan hilirisasi penelitian dosen secara intensif dan berkelanjutan.
Pilihan bagi pelaku bisnis dari mahasiswa dan alumni, tidak terbatas pada entitas UMKM konvensional, tetapi sudah saatnya memilih perintisan entitas Start_up, yang menunjukkan bisnis kreatif, inovatif dan berbasis teknologi.
Proses inkubasi akan melibatkan para dosen, khususnya yang memiliki ide tersebut selaku inventor (pesaham) maupun pendamping, sehingga menjadi strategi utama untuk memastikan keberlanjutan usaha dan membuka akses jejaring pendanaan. Perintisan entitas start-up di lingkungan Perguruan Tinggi, sekaligus mampu mendorong penciptaan iklim akademik yang kondusif, bagi pengembangan intensi dan orientasi wirausaha mahasiswa dan alumni sebagai pencipta nilai dan membuka lapangan kerja baru (Bagis, 2023).
Pilihan bisnis Start-Up yang ditandai dengan ide kreatif dan karya inovatif serta basis teknologi, memberi peluang keberhasilan tinggi sekaligus kompetisi yang lebih terbatas.
Dukungan nyata dari Pemerintah Daerah dapat dilakukan sejak perintisan entitas Start-Up dan proses inkubasi di lingkungan Perguruan Tinggi (IBT), sampai penyiapan karpet merah memasuki Science Technology and Industrial Park (STIP) Banyumulek. Dengan demikian para pelaku bisnis Start-up mendapatkan habitat yang baru, tanpa harus berinvestasi lahan, dan mereka memiliki rasa percaya diri (self-efficacy), untuk maju berkembang secara berkelanjutan sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.
Editor : Kimda Farida