Oleh: Titik Ceriyani Miswaty
Doctoral linguistics dari Universitas Bumigora
Dosen dan peneliti bahasa dan Masyarakat sosial
LombokPost--Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Gumantar dilaksanakan oleh tim lintas disiplin Universitas Bumigora dan dibiayai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Program ini berlangsung sejak Juli hingga Desember 2025, melibatkan dosen dari tiga program studi Ilmu Komputer, Sastra Inggris, dan Manajemen serta 20 mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas.
Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif dan terintegrasi, di mana dosen dan mahasiswa bekerja bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, serta dua mitra utama, yaitu Kelompok Tani Kopi Sangapati dan Pokdarwis Jaga Raganta, untuk merancang dan menerapkan solusi yang kontekstual dan berkelanjutan.
Tim dosen berperan dalam perencanaan strategis, penyusunan materi pelatihan, supervisi teknis, dan evaluasi ilmiah.
Dosen Ilmu Komputer bertanggung jawab pada pengembangan solusi digital seperti aplikasi pencatatan keuangan Agrosangapati, akun sosial media desa wisata, dan sistem manajemen data sertifikasi.
Dosen Sastra Inggris berkontribusi dalam pembuatan modul pembelajaran bahasa Inggris kontekstual untuk pelayanan wisata, pengembangan materi storytelling dan copywriting berbasis budaya lokal, serta pelatihan komunikasi dan pemanduan wisata.
Dosen manajemen berfokus pada penyusunan business plan, pelatihan strategi pemasaran dan branding produk lokal, serta pembinaan kelembagaan usaha masyarakat.
Sementara itu, mahasiswa berperan sebagai fasilitator lapangan, pembuat konten digital, operator aplikasi, dokumentator kegiatan, dan mediator komunikasi antara masyarakat dan tim akademik.
Mereka dilatih terlebih dahulu agar mampu membantu pelaksanaan pelatihan, mendampingi masyarakat dalam penggunaan teknologi, serta mengelola media digital dan pelaporan hasil kegiatan.
Baca Juga: Heboh Rupiah Jadi Rp1 dari Rp1.000! Menkeu Purbaya Siapkan Redenominasi Dimulai 2025
Kegiatan utama program ini dirancang untuk menjawab permasalahan spesifik di masing-masing mitra.
Berdasarkan hasil diskusi bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, dan dua kelompok mitra, yaitu Kelompok Tani Kopi Sangapati dan Pokdarwis Jaga Raganta Desa Gumantar, diperoleh dua permasalahan prioritas utama yang saling melengkapi dalam penguatan ekonomi kreatif desa, yakni penguatan daya saing produk kopi dan optimalisasi potensi wisata berbasis budaya lokal.
Kedua mitra memerlukan dukungan kepakaran lintas rumpun ilmu, yaitu Ilmu Ekonomi, Ilmu Komputer, dan Ilmu Bahasa, yang melibatkan dosen dan mahasiswa dari tiga bidang keilmuan berbeda untuk menangani setiap aspek kegiatan.
Pada mitra Kelompok Tani Sangapati, permasalahan utama terletak pada tiga aspek, yaitu produksi, manajemen, dan pemasaran.
Dalam aspek produksi, kopi Gumantar belum memiliki legalitas seperti PIRT dan halal, sehingga tidak dapat dipasarkan di jalur modern dan digital.
Sub-permasalahan yang dihadapi meliputi rendahnya pengetahuan tentang prosedur sertifikasi dan standar mutu produk.
Pada aspek manajemen, kelompok tani belum memiliki sistem pembukuan maupun rencana bisnis yang jelas. Hanya 10 persen anggota yang mencatat transaksi secara sederhana tanpa evaluasi keuangan.
Akibatnya, usaha tani berjalan tanpa strategi dan inovasi, serta masih menjual hasil panen dalam bentuk green bean.
Aspek pemasaran menjadi permasalahan paling krusial karena 80 persen hasil panen dijual ke tengkulak tanpa merek dan kemasan yang menarik, serta belum ada pemanfaatan pasar digital.
Kurangnya strategi branding dan promosi menyebabkan kopi Gumantar kehilangan potensi nilai jual hingga dua kali lipat dari harga pasar ideal.
Adapun pada mitra Pokdarwis Jaga Raganta, permasalahan teridentifikasi dalam dua aspek utama, yakni sosial kemasyarakatan dan pemasaran.
Dalam aspek sosial, keterbatasan kemampuan bahasa Inggris anggota Pokdarwis menjadi hambatan dalam pelayanan wisatawan asing, dengan hanya sekitar 15 persen yang memiliki kemampuan dasar komunikasi pariwisata.
Kondisi ini membatasi potensi peningkatan ekonomi dari sektor wisata budaya dan alam. Pada aspek pemasaran, promosi digital destinasi wisata masih sangat lemah.
Desa belum memiliki website, identitas digital, atau konten media sosial berbahasa Inggris. Akibatnya, jumlah wisatawan hanya sekitar 250–300 orang per tahun, jauh di bawah potensi sebenarnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Ilmu Bahasa berperan dalam pelatihan komunikasi wisata dan penguatan narasi produk lokal, Ilmu Komputer mengembangkan aplikasi keuangan dan promosi digital, sedangkan Ilmu Ekonomi menyusun strategi bisnis, sertifikasi produk, dan manajemen usaha.
Sinergi multidisipliner ini akan meningkatkan keberdayaan mitra pada tiga level, yaitu produk kopi tersertifikasi dan berdaya saing, sistem promosi digital wisata yang aktif, serta peningkatan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan melalui ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Program ini juga dilengkapi dengan sistem monitoring dan evaluasi berkala, melibatkan mahasiswa untuk melakukan pelaporan mingguan, serta evaluasi kuantitatif dan kualitatif oleh dosen setiap bulan.
Indikator keberhasilan mencakup peningkatan keterampilan bahasa Inggris, jumlah produk yang tersertifikasi, peningkatan omzet penjualan, jumlah konten promosi digital, serta peningkatan kunjungan wisatawan ke Desa Gumantar.
Untuk menjaga keberlanjutan, tim pengabdian menyiapkan panduan penggunaan aplikasi serta strategi promosi yang dapat dilanjutkan secara mandiri oleh kelompok mitra setelah program berakhir.
Program pengabdian ini diharapkan dapat menciptakan perubahan nyata dalam kapasitas ekonomi dan sosial masyarakat, dengan dampak jangka panjang berupa peningkatan kesejahteraan melalui pemanfaatan potensi lokal yang berbasis teknologi dan budaya.
Keterlibatan lintas prodi—Ilmu Komputer, Sastra Inggris, dan Manajemen—serta partisipasi aktif mahasiswa BEM menjadikan kegiatan ini bukan hanya bentuk pengabdian, tetapi juga wadah pembelajaran aplikatif yang memadukan inovasi akademik dengan kearifan lokal, sehingga mampu memperkuat daya saing Desa Gumantar sebagai destinasi wisata adat yang berkelanjutan.
Kegiatan ini tidak dapat terselenggara dengan baik tanpa bantuan dana dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, untuk itu, tim pelaksana mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya.(*)
Editor : Kimda Farida