Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menjalin Pertumbuhan Wisata dan Kelestarian Alam dalam Satu Tarikan Napas

Lombok Post Online • Selasa, 18 November 2025 | 12:52 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi

LombokPost - Nusa Tenggara Barat (NTB)  telah tumbuh menjadi salah satu tujuan wisata terpenting di Indonesia. Keindahan alamnya, dari puncak Gunung Rinjani hingga Danau Segara Anak, dan birunya laut di kawasan Gili Matra, terus menarik wisatawan domestik dan mancanegara.

Hingga pertengahan tahun 2025, jumlah perjalanan wisata ke NTB meningkat sebesar 1,14 persen dibanding tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa minat wisatawan berkunjung ke NTB semakin tinggi. Sektor pariwisata pun berkembang menjadi salah satu pilar utama transformasi ekonomi daerah, ditandai dengan pembangunan infrastruktur penunjang yang gencar dilakukan pemerintah.

Namun, di balik geliat itu, muncul pertanyaan yang tidak bisa diabaikan: dapatkah NTB menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian alam yang menjadi daya tarik utama pariwisatanya?

Kekayaan Alam yang Memukau, Sekaligus Rentan

Provinsi NTB merupakan mosaik ekosistem yang sangat kaya, mulai dari hutan tropis, pegunungan, savana, mangrove dan terumbu karang yang menjadi habitat bagi ratusan spesies flora dan fauna.

Keberadaan satwa endemik seperti celepuk rinjani (Otus jolandae) dan rusa timor (Rusa timorensis) memperkuat nilai ekologis wilayah NTB.

Sayangnya, tekanan dari pembukaan lahan, pembangunan fasilitas wisata, dan pengelolaan sampah yang buruk mengancam kelestarian ekosistem.

Di Gili Trawangan misalnya, lonjakan kunjungan menyebabkan munculnya masalah sampah plastik, polusi air, dan kerusakan terumbu karang.

Di jalur pendakian Gunung Rinjani, sampah, pencemaran Danau Segara Anak, dan kerusakan vegetasi menjadi kenyataan yang tak bisa diabaikan.

Jika keberhasilan pariwisata terus diukur hanya dari jumlah pengunjung tanpa mempertimbangkan daya dukung alam, kerusakan ekosistem akan menjadi konsekuensi jangka panjang yang merugikan semua pihak.

Ekowisata sebagai Titik Temu antara Ekonomi dan Konservasi

Di sinilah pentingnya ekowisata yaitu model pariwisata yang menempatkan kelestarian alam dan lingkungan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat lokal sebagai inti pengelolaannya.

NTB memiliki modal kuat untuk mendukung pariwisata yang berkelanjutan, yakni 275 desa wisata yang tersebar di 10 kabupaten/kota.

Contoh sukses penerapan ekowisata yang menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan alam adalah pengelolaan hutan mangrove di Desa Jerowaru, Lombok Timur.

Masyarakat berhasil merevitalisasi ribuan hektar mangrove menjadi kawasan konservasi sekaligus destinasi edukatif yang menarik ribuan pengunjung per bulan dan membuka peluang usaha bagi masyarakat setempat.

Di Desa Sesaot, Lombok Barat, pendekatan berbasis komunitas membuat penduduk aktif merawat alam dan melestarikan budaya setempat.

Wisatawan diajak menikmati air terjun dan sungai yang jernih sekaligus menyaksikan upaya pelestarian mata air.

Melalui hutan kemasyarakatan, warga membangun sistem agroforestri untuk menjaga fungsi hidrologis, sementara tradisi dan nilai-nilai suku Sasak dipertahankan lewat pertunjukan budaya dan kehidupan sehari-hari.

Keberhasilan pariwisata berkelanjutan bergantung pada masyarakat lokal. Budaya NTB seperti tenun Sukarara, rumah adat Sumbawa, dan tradisi Bau Nyale adalah aset unik yang berharga.

Ketika masyarakat dilibatkan sebagai pemandu, pemilik homestay, atau pengelola usaha lokal, manfaat ekonomi langsung dirasakan oleh masyarakat.

Keterlibatan masyarakat meningkatkan rasa kepemilikan atas lingkungan dan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga alam. Ketika alam menjadi sumber nafkah, kesadaran ekologis lahir secara alami.

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post

Tantangan Tata Kelola yang Masih Mengemuka

Meski arah menuju pariwisata berkelanjutan sudah terlihat, tata kelola masih menjadi kendala. Koordinasi antar instansi sering tidak sinkron, pengawasan lapangan lemah, dan beberapa destinasi berkembang tanpa rencana tata ruang yang matang.

Proyek besar seperti KEK Mandalika membuka peluang ekonomi, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran soal alih fungsi lahan dan tekanan pada ekosistem pesisir.

Oleh karena itu, kebijakan berbasis data ilmiah dan kajian lingkungan strategis harus menjadi prasyarat sebelum membuka ruang bagi investasi baru.

 Baca Juga: Menuju Pariwisata Ramah Muslim yang Mendunia, Dispar NTB Gelar Lomba Video Challenge 2025

Ketahanan Menghadapi Krisis

Pandemi Covid-19 mengajarkan bahwa ketergantungan pada kunjungan masal membuat pariwisata rentan. Kini krisis iklim menambah ancaman nyata seperti pemutihan terumbu karang, erosi pantai, perubahan musim, dan penurunan hasil pertanian.

NTB perlu memperkuat ketahanan sektor pariwisata melalui inovasi, seperti penggunaan energi bersih, pengelolaan air yang efisien, infrastruktur ramah lingkungan, dan transportasi hijau di destinasi wisata.

Menuju Pariwisata yang Menjaga

Pariwisata dan kelestarian alam bisa saling beriringan bila dikelola dengan visi jangka panjang. NTB memiliki potensi besar menjadi model sukses pariwisata berkelanjutan di Indonesia.

Keberhasilan NTB bergantung pada kolaborasi berbagai pihak.

Pemerintah yang mengutamakan kelestarian, pelaku usaha yang bertanggung jawab, peneliti yang menyediakan data, dan masyarakat yang aktif menjaga lingkungan.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Pertanyaan utama yang perlu dijawab bukan lagi berapa banyak wisatawan datang, tetapi seberapa besar dampak positif yang mereka tinggalkan bagi masyarakat dan alam.

Jika NTB memilih jalur ekowisata dan pemberdayaan lokal, provinsi ini berpeluang menjadi contoh nasional. Bukan sekadar destinasi yang indah, tetapi simbol pariwisata yang tumbuh bersama alam. (Meilinda Pahriana Sulastri Mahasiswa S3 Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta dan Dosen Fakultas MIPA Universitas Islam Al-Azhar, Mataram, NTB)

Editor : Kimda Farida
#penduduk #wisata #kelestarian alam #NTB #ekosistem