LombokPost - Di tengah derasnya modernisasi yang menuntut percepatan dan pertumbuhan ekonomi, hubungan manusia dengan alam sering tereduksi menjadi relasi antara pemilik dan objek yang dieksploitasi.
Alam dilihat hanya sebagai sumber daya, bukan sebagai ruang spiritual di mana manusia ditempatkan untuk belajar kesadaran, keseimbangan, dan ketaatan kepada Sang Mahakuasa.
Padahal, baik dalam ajaran Islam maupun dalam budaya Sasak, alam adalah entitas yang hidup, sakral, dan bernilai spiritual. Ia bukan milik manusia semata, tetapi bagian dari jaringan kosmos yang saling terkait dan berdiri dalam harmoni.
Kosmologi dalam Islam dan Budaya Sasak
Dalam pandangan Islam, alam adalah ayat Allah, tanda-tanda kebesaran Tuhan yang menuntun manusia pada pengenalan diri dan pengenalan Ilahi. Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali Imran: 190–191)
Ayat ini menunjukkan alam sebagai kitab terbuka yang mengajak manusia merenung, memahami, dan menjaga keseimbangan ciptaan.
Seyyed Hossein Nasr (1996), menegaskan bahwa dalam kosmologi Islam, alam bukan sekadar objek fisik, tetapi realitas spiritual yang memancarkan pesan Ilahi. Karena itu, manusia sebagai khalifah bukanlah penguasa mutlak, melainkan penjaga keseimbangan kosmos.
Sejalan dengan itu, budaya Sasak memandang alam sebagai bagian integral dari siklus kehidupan. Dalam falsafah Metu Telu, kehidupan dilihat sebagai putaran sakral: lahir - hidup - mati; dan semua fase ini berlangsung dalam ruang kosmis yang sama dengan makhluk-makhluk lain.
Konsep Metu Telu juga merujuk pada tiga pintu keluarnya kehidupan: mentioq (berbenih), mentelok (bertelur), dan menganak (beranak), yang memberi pandangan ekologis bahwa kehidupan makhluk tidak berdiri sendiri, melainkan saling menopang. Dengan demikian, baik Islam maupun budaya Sasak memandang alam sebagai realitas spiritual yang memiliki makna, bukan sekedar material yang bisa diperas tanpa batas.
Hierarki Makhluk dan Saling Ketergantungan
Dalam teologi Islam, manusia memang memiliki posisi istimewa karena diberi akal dan amanah sebagai khalifah. Namun Islam tidak pernah mengajarkan superioritas egoistik.
Allah berfirman: “Tidak ada satu pun makhluk melata di bumi dan burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya adalah umat seperti kamu.” (QS. Al-An’am: 38)
Ayat ini menegaskan bahwa hewan, tumbuhan, dan seluruh ciptaan adalah umat, bukan objek. Mereka hidup, beribadah, dan bertasbih kepada Allah: “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya senantiasa bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatu pun, kecuali senantiasa bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44)
Konsep ini ditegaskan oleh Toshihiko Izutsu (2002), yang menyebut alam semesta sebagai rantai wujud (maratib al-wujud) - setiap makhluk memiliki peran spiritual sesuai tingkat keberadaannya.
Dalam budaya Sasak, Saputra (2020) mencatat bahwa masyarakat tradisional memandang hewan, tumbuhan, dan unsur alam sebagai “sanak dunia” atau saudara kehidupan yang harus dihormati karena mereka bagian dari sistem kosmik yang sama. Relasi ini tercermin dalam pantangan adat seperti maliq (larangan), bebangar (ruang konservasi sakral), dan penghormatan kepada mata air dan hutan adat.
Praktik Ekologis: Sintesis Islam–Sasak
Dalam kehidupan masyarakat Sasak, tradisi adat bersenyawa dengan ajaran Islam. Nurjannah (2021), menunjukkan bahwa bebangar atau larangan menebang pohon tertentu, tidak hanya dilakukan karena alasan ekologis, tetapi juga keyakinan spiritual bahwa pohon tersebut adalah tempat bermukim makhluk halus yang harus dihormati. Nilai ekologis dan spiritual menyatu.
Yulianto (2022), dalam studi di Bayan menemukan bahwa ayat-ayat Alquran tentang pelestarian alam dipakai untuk memperkuat tradisi adat, misalnya konsep: “Wala tufsidu fil ard ba’da ishlahiha”. “Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Di sini tampak bahwa pelestarian alam adalah ibadah; merusaknya adalah dosa moral dan pelanggaran adat.
Tantangan Modern dan Respons Kreatif
Namun, perubahan zaman membawa tantangan. Rahman (2020), mencatat bahwa sebagian generasi muda Sasak mulai memandang tradisi ekologis sebagai takhayul yang tidak relevan. Modernisme ekonomi memisahkan manusia dari spiritualitas alam.
Meski demikian, harapan tumbuh melalui gerakan ekoteologi, Putra (2017), yang mencoba membaca ulang nilai Islam dan Sasak dalam konteks modern. Gerakan eco-pesantren, revitalisasi festival budaya, konservasi berbasis adat, dan pendekatan natural education di sekolah menjadi jembatan baru bagi masa depan harmoni kosmis. Di banyak tempat di Lombok, dakwah ekologis dilakukan dengan bahasa budaya: “menanam pohon adalah sedekah hidup”, “air adalah amanah leluhur”, dan “tanah adalah ibu”.
Jalan Kembali kepada Harmoni
Perjumpaan antara Islam dan budaya Sasak menunjukkan satu pesan universal: Manusia bukan pusat alam semesta, tetapi bagian dari jaringan kehidupan yang saling menghidupi.
Metu Telu mengingatkan bahwa hidup adalah siklus: kita lahir dari alam, hidup bersama alam, dan kelak kembali ke tanah. Islam mengingatkan bahwa tanggung jawab kita bukan menguasai alam, tetapi menjaganya sebagai amanah Ilahi.
Di era eksploitasi atas nama modernitas, kearifan ini menjadi lentera moral. Menghormati alam adalah bentuk ibadah. Melestarikan bumi adalah akhlak. Menghijaukan lingkungan adalah sedekah berlipat ganda.
“Rahmat Allah turun kepada mereka yang penyayang terhadap makhluk di bumi.” (Hadis Riwayat Tirmidzi)
Maka, menjaga hutan adalah ibadah. Memelihara air adalah zikir. Menyelamatkan satu pohon adalah doa yang menghidupkan masa depan.
Jika kita pecah hubungan dengan alam, kita merusak diri sendiri. Sebab manusia tidak bisa hidup tanpa alam, tetapi alam bisa hidup tanpa manusia. (*)
Editor : Kimda Farida