LombokPost - The Live Begin forty (hidup dimulai dari 40), jika mengacu kepada "qoute" ini maka Majelis Adat Sasak (MAS) masih punya waktu 10 tahun lagi untuk menata diri menuju kematangan terutama kematangan prinsip dan arah perjuangan.
Rangkaian peringatan 30 tahun milad MAS yang dikemas dalam festival budaya "Lombok Mirah Sasak Adi" yang berlangsung pada Rabu 10 Desember 2025 sekaligus kesyukuran HUT NTB ke-67 di Golong Narmada Lombok Barat dimana Alfakir (penulis Opini) mendapat amanah memandu acara, merupakan momentum silaturahmi yang sangat berharga karena dihadiri hampir oleh seluruh perwakilan pemangku adat Lombok, budayawan, seniman, pimpinan wilayah, se-Pulau Lombok dan perwakilan ASLI (Aliansi Sasak Lombok Indonesia) yang merupakan diaspora "Dengan Sasak" di seluruh Nusantara.
Bahkan perwakilan sasak mancanegara, dan forum tersebut menjadi semakin sempurna dengan kehadiran Gubernur NT Dr. H.L Muhamad Iqbal yang didaulat menerima penganugerahan Manggale Gumi NTB, sebuah gelar kehormatan adat sasak untuk pemimpin wilayah tertinggi.
Hajatan ini tentunya bukan hanya seremonial, namun ia telah menjelma menjadi kapital (modal) bagi MAS untuk memastikan bentuk kontribusinya terhadap kelangsungan adat tradisi positif yang terejawantah dalam budaya luhur bangse sasak.
Setidak tidaknya sejak 2022 periode pengukuhan pemangku amanah MAS (Periode 2022-2027) dalam sangkep Bleq (Musyawarah akbar MAS untuk regenerasi pemimpin baru), cukup masiv terdengar keinginan untuk mengusung perubahan besar dalam paradigma kebudayaan masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok, NTB, dari sebelumnya eksklusif menjadi inklusif dan terbuka untuk semua macam bentuk perbedaan sesama anak “bangse sasak”.
Dalam banyak kesempatan alfakir bersilaturahmi dengan Miq Sajim (Dr. H. L Lalu Sajim Sastrawan SH, MH-Ketua Mas Periode 2022-2027) sangat terasa dan terkonpermasi keinginan beliau dan para pengelingsir (para tokoh) untuk menakodai jukung (perahu) MAS ini, ke arah keterbukaan serta adaftatif terhadap perkembangan zaman dengan tetap merawat nilai-nilai adiluhung budaya sasak dengan prinsip dasar Tindih (loyalitas positif), maliq (Integritas Religius), Merang (Profesional dalam Proporsional) dikemas dalam semangat dan rasa bersama dalam sebumbung (saling menjaga ), sewirang (saling membela) dan sejukung (saling bergandengan) sebagaimana filosofi tema yang diambil dalam festival budaya tersebut, tentu semua ini tidak akan lahir bilamana orang sasak tidak terbuka untuk : periri diriq (Intropeksi diri periri bale langgaq (membangun harmoni rumah tangga), jagaq gubuk gempeng (Menjaga wilayah) , bine desa darat gumi paer sasak (Mengkonservasi alam bumi Sasak).
Nilai filosofis yang otentik dimiliki oleh bangse sasak adalah opportunity (peluang) yang mendasari keinginan hijrah menuju inklusifivitas tentu dengan memaknai inklusivitas dalam maknanya yang proporsional dan holistik sebab eklusivitas pun juga dibutuhkan pada kontek tertentu misalnya hubungan persuami istrian, ini adalah hubungan yang super exlusif yang tidak harus diumbar-diumbar keluar sebagaimana yang banyak terjadi akhir-akhir ini, sebab justru akan menyalahi ketindihan dalam berumah tangga.
Inklusivitas dapat dapat diawali dengan komitmen Lombok Mirah sasak adi (tegak lurus pada nilai-nilai luhur kesasakan dan menjadikannya perhiasan berharga dalam hidup) maka tugas besar semeton (Saudara) Sasak adalah menggali sedalam-dalamnya Pengarek arek (peninggalan) para pendahulu sasak baik dalam bentuk tangible (terbendakan) atau yang intagible (tak terbendakan), terbendakan berupa memahami akar sejarah sasak lengkap dengan situs dan peninggalan fisik lainnya adapun yang tak terbendakan berupa folklore (tradisi lisan/sastra lisan) yang terakumulasi misalnya dalam Seseggak (peribahasa) dan Lelakaq (pantun sasak) yang syarat makna, adat, kebiasaan baik yang berhubungan dengan hablun minallah (hubungan dengan sang pencipta nenek kaji sak kuase, sik epeyang ite), Hablun Minannas (hubungan kemanusiaan) serta hablun Minal alam (hubungan dengan sesama Alam) dalam kerangka berfikir kosmologik “iruf sopoq” (hidup dalam keterpaduan dengan semesta).
Ikhtiar menuju inklusivitas ini tidak bisa dipisahkan dengan keyakinan orang sasak yang monoteistik (sasak bertuhan esa) sekaligus sasak berugame (beragama) bahkan adat tradisi diletakkan dalam kerangka memprkokoh, mewadahi dan menghiasi ajaran tuhan (ugame beteken, betakaq lan betatah adat) kerangka berfikir ini haruslah tioq (ditumbuhkan), tate (diatur) dan Tunaq (dipelihara) oleh semua insan yang mengaku sasak, landasan ideologis ini menjadi kunci utama untuk memahami makna inlusifitas sasak agat tidak kehilngan jati dirinya yakni bangse sasak berugame dan pada satu tarikan nafas juga berbuadaye bak dua sisi satu koin mata uang yang tak bisa dipisahkan.
Semangat beragama dalam kemasan budaya orang sasak dilambari dengan nilai-nilai kepatutan dan kepantasan, orang sasak mempunyai sikap hidup semaik (secukupnya) sebuah sikap moderasi untuk meletakkan segala macam kepentingan sandang, pangan dan papan dalam takaran yang profosrsional , mengutip pidato gubernur NTB “Miq Iqbal” dalam hajatan Festival Budaya sasak tersebut yang kurang lebih ”dengan sasak ndek kanggo berusahe sekedar meta mangan” (orang sasak pantang berusaha hanya untuk kepentingan perut), sebuah pengingat agar orang sasak tidak merendahkan dirinya pada tujuan-tujuan kesementaraan, khidmah (mengabdi) adalah tujuan utama, dan segala macam bentuk pengabdian haruslah dengan semangat patuh (komitmen Positif) dan dijalankan dengan Pacu (penuh tanggung jawab).
Peluang inklusifitas berikutnya, adalah mulai adanya kesadaran orang sasak untuk berdiri sejajar dengan bangsa bangsa lainnya yang sudah maju, stereoitip bangsa sasak terjajah pelan tapi pasti tidak boleh menyandera memori dan fikiran orang sasak, masa lalu apapun rupa dan bentuknya tetaplan menjadi masa lalu, orang yang banyak menjebak dirinya pada wacana masa lampau adalah bangsa yang paling tidak siap menghadapi masa depan, sementara tantangan masa depan sudah di depan mata. Sudah mulai banyak anak bangsa Sasak yang menjadi cendekiawan, profesor, doktor dan berbagai gelar akademiknya lainnya, hal ini sebagai salah satu signal positif menyirakatkan bahwa bangsa sasak sudah mulai tatas (berpengetahuan luas) tinggal bagaimana pengetahuan tersebut menjelma menjadi tuhu (kesunguh-sunguhan ) dalam semangat yang saling mengayomi dalam trasne (Sikap welas/belas kasih) bersama patuh dalam karya menjadi modal konsolidasi dan soliditas yang akan membuat sasak wangi dan harum menuju sasak untuk semua bahkan sasak mendunia.
Sejumlah challenges (tantangan-tantangan) yang masih emipiris terlihat, salah satunnya adalah penting bagi MAS mengkonsolidasi diri dengan menajemen keorganisasian yang modern, penegasan visi, misi dan tujuan organisiasi harus sampai pada tingkat yang paling bawah, revitalisasi peran Pemban ( tokoh utama bangse Sasak), Majelis Agung (badan tertinggi) semisal majlis permusyawaratan, Pengerakse (pemimpin tertinggi organisasi) yang menjadi ketua dewan syuriah MAS, Pengelisingsir (perwakilan tokoh tokoh) serta wali paer (pemimpin kewilayahan) serta Dewan Bini (perempuan) Sasak yang mewakili kepentingan dan peran kaum perempuan Sasak serta kelengkapan struktur orgnisasi MAS lainnya, tak terkecuali perwakilah tokoh lintas agma dan etnik yang sudah menjadi saudara di gumi sasak lombok harus menyadari perannya msing-masing, agar tidak overlapping (tumpang tindih) ketika roda organisasi dijalankan.
Prinsip-prinip dasar manajemen modern yang meniscayakan Division of Labor (pembagian tugas) yang mengarah pada spesialisasi semakin penting untuk dilakukan oeh MAS di era persaingan oragnisasi yang semakin mengglobal, pengaturan Authority (kewenangan) dalam pelaksanaan tugas, untuk memudahkan manajemen MAS mentransmisi perintah kepada para pengurus dalam menyelesaikan pekerjaan, tidak lupa discipline (tanggung jawab tinggi) dimana anggota organisasi harus patuh pada aturan dan kesepakatan yang menjadi rambu-rambu organisasi MAS, Unity of Command (kesatuan arah) dimana Kegiatan-kegiatan dalam organisasi yang mempunyai tujuan sama sebaiknya ditangani seorang ahli dengan menggunakan satu perencanaan yang memadai, mengutamakan Kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan, dengan kesadaran bahwa MAS berasal dari berbagai latar belakang multi dimensional, harus mampu meletakkan kepentingan organisasi secara keseluruhan harus lebih utama dibanding kepentingan perseorangan, pemberian apresiasi yang adil bagi para pengurus yang berprestasi dan mampu menjalankan roda organisasai, Centralization (Pengambilan keputusan) yang berdasarkan kepada pertimbangan: pemban, majlis agung dan para pengelinsingsir sasak harus menjadi bagian dari sebuah keputusan termasuk pemberian penghargaan adat dan gelar kehormatan, tata Tertib orgnisasi harus dapat dijalankan dengan AD/ART yang dapat dipahami oleh semua pengurus MAS.
Tantangan yang bersifat manajerial ini jika dapat dijawab oleh MAS maka milad ke-30 akan berbuah Esprit de Corps yakni terbangunnya konsolidasi dan soliditas kesasakan dalam Semangat Sebumbung, sewirang dan sejukung menjadi modal kuat MAS, ikhtiar Hijrah dari Exlusivitas memuju inklusifitas serta menjadi bagian penting dari ikhitar Provinsi ini menuju makmur dan mendunia menyongsong HUT NTB yang ke-67 dengan semangat bergerak cepat menuju NTB hebat. Semoga.(Dr. Lalu Maksum Ahmad, S. Ag., M. Pd. I (Pegiat Seni Budaya UIN Mataram & Founder Pesantren Seni Ma’shum Institute))
Editor : Jelo Sangaji