LombokPost - Persis di awal tahun, 1 Januari 2026. Sekitar jam 11.52 Wita. Ada telepon masuk di HP penulis. Dalam posisi malas-malasan di kasur sendiri. Ternyata dari sosok sang Pemimpin. "Awal tahun kok nadanya lemes, harus buat resolusi baru dong," begitu kalimat pembuka dari beliau.
Sang pemimpin sepertinya secara tajam menangkap suara orang bangun tidur. Sementara suara di seberang, sang pemimpin, sepertinya udah "on fire" dengan resolusi barunya 2026.
Semangat dan antusias. Menyala. Pembicaraan langsung menukik soal kabar baik di terima persis di malam pergantian tahun. Beliau mendapat kesempatan menjadi nomine 3 (tiga) besar dalam sebuah kesempatan ajang Anugerah Kebudayaan di level nasional. PWI Award dalam rangkaian Hari Pers Nasional 2026.
Penulis dipaksa mengimbangi antusiasme sang pemimpin. Dari posisi berbaring akhirnya bangkit dari kasur dan mencari posisi nyaman untuk menjelaskan lebih serius. Agak detail pertanyaannya dan jawabannya sedikit panjang.
Dan akhirnya di ujung sang pemimpin sepertinya bisa menerima penjelasan penulis. Kabar baik di awal tahun di sambut baik. Bismillah, saya pastikan hadir. Tutup percakapan yang dilanjut dengan chat WhatsApp.
Dari sepotong cerita di atas, terkadang "mood" di awal tahun bisa menjadi gambaran "mood" untuk sepanjang tahun. Begitu juga, mood di pagi hari, sangat signifikan mempengaruhi "rezeki" di hari itu. Sehingga di sinilah kira-kira pentingnya sebuah resolusi.
Menciptakan "mood" atau vibes positif sebagai ungkapan lain dari "doa" dan harapan di awal tahun. Ibaratnya, sering dalam kesempatan nasehat agama seorang Tuan Guru kepada santrinya setelah salat Subuh berjamaah di masjid, melarang keras tidur setelah subuh, karena menyambut mentari pagi dengan aktivitas positif di pagi hari adalah cara menjemput rejeki dihari itu.
Seperti biasa, di setiap pergantian tahun, semua orang seolah-olah latah dipaksa membuat resolusi. Padahal batas antara akhir tahun 2025 dengan awal tahun 2026, hampir tidak ada bedanya dengan perubahan dari hari ke hari yang terjadi setiap hari. Dari hari Senin ke Selasa, lalu Selasa ke Rabu, dan seterusnya dan minggu berganti minggu.
Tidak ada yang tiba-tiba berubah secara ekstrem. Tetapi itulah manusia. Selalu menciptakan momentum demi momentum untuk memotivasi diri sendiri dan orang lain, terutama bagi seorang figur pemimpin yang harus terus membakar motivasi pengikutnya untuk terus tidak menyia nyiakan waktu. Tetapkan target dan resolusi, susun srategi dan langkah untuk mencapainya, evaluasi secara berkala. Kalau tercapai alhamdulilah, reward diberikan. Sebaliknya, kalau gagal memenuhi target, beri punishment: ganti.
Dalam sebuah tulisan awal tahun juga, seorang pengamat kota, menulis kegamangan dalam menghadapi 2026. Banyak yang sinis menulis kegamangan dan kegelisahan seperti mengeluh dan forum curhat tak memberi solusi. Bahkan bisa jadi disikapi sebagai "warning" atau bisa jadi memberi vibes negatif dan pesimisme.
Penulis menyadari itu dan menuliskan bahwa yang disampaikan bukan permintaan keistimewaan. Sesungguhnya yang dituntut adalah sesuatu yang rasional: kepastian arah, konsistensi kebijakan, dan pengakuan atas keragaman konteks. (Rustam, Kompas, 2 Januari 2026). Lalu apa hubungan dengan judul tulisan di atas? Begini penjelasannya.
Piala Dunia 2026: Jeda Hiburan Mengisi Efisiensi
Penulis, sebagai seorang ASN dan sekaligus penikmat sepak bola, mencoba menikmati 2026 ini dengan lebih "rileks" dan sebagai cara merelaksasi berbagai target dan capaian-capaian. Semua tahu, terutama pemerintah daerah, bahwa tahun 2026 adalah tahun efisiensi. Tahun yang penuh dengan tekanan.
Dalam kondisi tertekan, cara mengelolanya adalah mencari hiburan. Rileks. Jangan pasang target tinggi tinggi, mencoba realistis. Rasionalkan dan sesuaikan kembali target dan indikator capaian. Yang terpenting kebutuhan dasar tercukupi. Karena hidup harus terus berjalan. Hindari keputusan yang mengandung resiko tinggi. Main aman saja.
Nah, di sinilah pentingnya kehadiran even Piala Dunia 2026 yang akan digelar medio Juni-Juli 2026 di Amerika Serikat. Layaknya sebuah hiburan, Sepakbola akan mengajarkan cara cara mengahdapi tekanan dan krisis di atas lapangan.
Banyak kisah tim juara lahir dari sebuah krisis. Tidak bermewah dengan pemain pemain bintang, tetapi dengan kekuatan kolektivitas dan kekompakan, semua kesulitan dan keterbatasan dilalui. Kejutan kejutan dihadirkan.
Setidaknya penulis mencatat sejarah di Piala Dunia tarakhir, tahun 2022, Maroko berjuang dengan banyak cedera pemain inti, termasuk absen latihan dan pertandingan, tapi tetap mencapai semifinal pertama bagi tim Afrika dengan mengalahkan Spanyol, Portugal, dan Belgia. Pelatih Walid Regragui menekankan adaptasi meski penguasaan bola tinggi tapi terhambat cedera, menciptakan sejarah dengan pertahanan solid.
Atau Piala Dunia yang lebih lama. Masih ingat Roger Milla, bintang tua tim Kamerun di tahun 2002. Kamerun menghadapi keterbatasan skuad dengan memanggil Roger Milla berusia 38 tahun setelah kegagalan Afcon, dan mengalami kartu merah dini saat menang 1-0 atas Argentina juara bertahan. Meski kalah 4-0 dari Soviet Union, mereka tops grup dengan kemenangan 2-1 atas Romania berkat dua gol Milla dari bangku cadangan, mencapai perempat final pertama bagi tim Afrika.
Semua adalah tim tim Afrika yang lahir dari keterbatasan. Hadir dalam even besar dengan modal kepercayaan diri, tidak inferior menghadapi tim tim besar dan tim unggulan dari Benua Eropa yang kompetisinya bertaburan bintang dan anggaran yang hampir "tak terbatas".
Penulis beropini, seperti itulah kita, pemerintah daerah menghadapi tahun 2026. Tetap percaya diri dan optimis. Di sinilah pentingnya kehadiran sosok pemimpin sebagai "Panglima Perang". Mengambil keputusan berani dan membakar semangat pasukannya.
Meneguhkan nilai nilai penting yang harus menjadi prinsip: integritas, kemampuan menahan diri, tidak berlebihan, dan secara kolektif menjadi kekuatan bersama yang kompak dan rukun, jangan ada yang membocorkan perahu besar dari dalam, karena Kapal tidak tenggalam oleh ombak yang besar, tetapi sering karena kapalnya bocor dari dalam.
2026 : Menuntaskan Transisi Politik
Di tahun 2026, menjadi memontum yang tepat pemimpin politik juga untuk melalukan orkestrasi dan bereksperimen menata birokrasi, karena tahun ini tanpa agenda politik besar yang kadang mejnadi "fungsi pembatas" para pemimpin politik mengambil keputusan berani untuk mengkonsolidasi "kabinet"nya. Mengakhiri masa transisi pemerintahan yang seolah tak kunjung selesai.
Inilah sesungguhnya salah satu semangat dan hikmah penting dari pemilu serentak, baik di tingkat pusat maupun daerah. Termasuk penetapan dokumen rencana pada titik nol yang sama, sehingga bisa selaras, bergerak bersama pada titik yang sama. Karena sepertinya hanya di tahun 2026-2027 inilah pemerintahan bisa berjalan secara lebih landai tanpa kecurigaan dan sensitifitas politik yang berlebihan. Meski tidak juga bisa dihilangkan sama sekali "aroma politik" dalam setiap perjalanan pemerintahan.
Menantikan Sang Juara di Era Efisiensi?
Di balik setiap krisis selalu menghadirkan the new hero atau the new champion. Itulah cara alam memutarbalikan nasib dan kesempatan, dan menghadirkan kejutan atau peringatan. Dalam even Piala Dunia 2026 ini, menarik kita tunggu siapa tim yang baru sekedar menghadirkan kejutan ataukah tim legenda yang memperlihatkan mental juara.
Dalam perpektif yang berbeda, atau menyeleksi siapa pemimpin yang tangguh, teruji dan mampu mengelola krisis menjadi inovasi dan kemudian menjdi prestasi. Dialah sang Juara atau Pemimpin Sejati. Apakah resolusinya terwujud atau tercapai, atau hanya sekedar latah.
Apakah "mood" dan kabar baik diawal tahun menjadi pintu jalan kebaikan sepanjang tahun 2026. Kita doakan Bersama. Semoga. Amin. (*)
Editor : Kimda Farida