Oleh: Santoso
Fakultas Pertanian UNRAM
LombokPost--Kota Mataram, sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat, terus berkembang dengan pesat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi.
Namun, urbanisasi yang cepat juga membawa tantangan lingkungan, seperti meningkatnya suhu kota, polusi udara, dan berkurangnya ruang terbuka hijau.
Oleh karena itu, penghijauan kota menjadi langkah strategis untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan nyaman bagi masyarakat.
Dengan menanam lebih banyak pohon dan mengembangkan ruang hijau, Kota Mataram dapat mengurangi efek pulau panas perkotaan, meningkatkan kualitas udara, serta menyediakan habitat bagi berbagai flora dan fauna.
Selain manfaat ekologis, penghijauan kota juga memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat.
Ruang terbuka hijau dapat menjadi tempat rekreasi, olahraga, dan interaksi sosial, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup penduduk.
Selain itu, kawasan hijau yang terawat juga dapat menarik wisatawan dan meningkatkan nilai ekonomi daerah.
Dengan demikian, upaya penghijauan yang berkelanjutan di Kota Mataram tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan kota yang lebih sehat dan berdaya saing.
Transformasi kota menjadi "Kota Hijau" memiliki signifikansi yang mendalam dalam konteks keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan sosial, dan pertumbuhan ekonomi.
Berikut adalah beberapa argumen mendasar yang menekankan pentingnya inisiatif penerapan konsep kota hijau di Mataram:
Baca Juga: Fiskal Terbatas, DPRD Dorong Intervensi Kementerian PU Rekonstruksi Infrastruktur Rusak di NTB
Manfaat Ekologis
Ruang Terbuka Hijau (RTH) berfungsi sebagai paru-paru kota, yang berperan dalam menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen, sehingga meningkatkan kualitas udara.
Selain itu, RTH membantu mengurangi suhu lingkungan melalui proses evapotranspirasi, yang berkontribusi pada mitigasi efek pulau panas perkotaan (urban heat island)
Menghadapi Tantangan Perubahan Iklim dan Urbanisasi
Sebagai kota yang mengalami pertumbuhan urbanisasi, Mataram menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan.
Konsep kota hijau dapat membantu mengurangi dampak negatif urbanisasi, seperti polusi udara, peningkatan suhu perkotaan, dan berkurangnya lahan resapan air, yang penting mengingat wilayah ini rawan banjir akibat topografi datar dan curah hujan tinggi.
Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat
Akses terhadap ruang hijau di perkotaan terbukti memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental dan fisik penduduk.
Berada di ruang hijau dapat membantu mengurangi stres, meningkatkan suasana hati, dan memberikan kesempatan untuk berolahraga.
Paparan terhadap lingkungan alami juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kronis.
Keberlanjutan Ekosistem
Penerapan konsep kota hijau dan kota hutan dianggap sangat penting untuk memastikan keberlanjutan ekosistem di masa depan.
Pembangunan berorientasi hijau ini dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan.
Fungsi Sosial dan Rekreasi
RTH menyediakan ruang bagi interaksi sosial, rekreasi, dan kegiatan komunitas, yang penting untuk membangun kohesi sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Keberadaan taman kota dan area hijau lainnya memungkinkan penduduk untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik dan sosial yang sehat.
Mendukung Pariwisata Berkelanjutan
Kota Mataram merupakan pintu gerbang ke destinasi wisata Lombok, sehingga menjaga estetika kota menjadi prioritas.
Ruang terbuka hijau (RTH), seperti taman kota dan hutan mini, dapat memberikan daya tarik estetis dan lingkungan yang sehat bagi wisatawan, sekaligus mendukung branding sebagai kota ramah lingkungan.
Nilai Estetika dan Ekonomi
Kehadiran RTH meningkatkan estetika kota, yang dapat menarik wisatawan dan investor, serta meningkatkan nilai properti di sekitarnya.
Selain itu, ruang hijau yang dikelola dengan baik dapat menjadi sumber pendapatan melalui kegiatan pariwisata dan event komunitas.
Pendidikan dan Kesadaran Lingkungan
RTH berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya konservasi lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Program-program seperti taman edukasi dan kebun komunitas dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi publik dalam upaya pelestarian lingkungan.
Pengurangan Risiko Bencana
RTH dapat berperan dalam pengurangan risiko bencana, seperti banjir, dengan menyediakan area resapan air yang efektif.
Vegetasi dalam RTH juga dapat menstabilkan tanah dan mencegah erosi, yang penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan.
Pemberdayaan Komunitas Lokal
Pengembangan kebun komunitas di RTH dapat melibatkan masyarakat dalam menanam tanaman pangan lokal, seperti kelor dan sayuran khas lainnya semisal kangkong air Lombok, yang tidak hanya membantu ketahanan pangan, tetapi juga memperkuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap ruang hijau.
Memperkuat Identitas Lokal
Ruang terbuka hijau yang dirancang dengan elemen budaya lokal, seperti penggunaan tanaman khas Lombok (misalnya pohon asam, lontar, bungur dan lain sebagainya), dapat menjadi simbol identitas budaya kota.
Hal ini mendukung pelestarian nilai-nilai lokal dan memberikan karakter unik bagi Kota Mataram.
Dengan mempertimbangkan berbagai manfaat di atas, transformasi menuju Kota Hijau menjadi imperative bagi pembangunan perkotaan (Kota Mataram) yang berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Editor : Kimda Farida