LombokPost - Asap sate mulai mengepul sejak pagi. Aroma gulai dan tongseng memenuhi sudut-sudut kampung. Di banyak rumah, Idul Adha selalu identik dengan pesta makan bersama keluarga. Daging kurban diolah menjadi beragam hidangan menggoda yang disantap tanpa banyak batas. Grup media sosial dipenuhi foto bakaran sate, tengkleng, hingga gulai kambing yang tampak menggugah selera.
Namun di balik suasana hangat tersebut, ruang instalasi gawat darurat rumah sakit sering menyimpan cerita berbeda. Tidak sedikit pasien datang dengan keluhan nyeri dada mendadak, sesak napas, tekanan darah melonjak, bahkan serangan jantung akut beberapa hari setelah perayaan Idul Adha. Fenomena ini terus berulang hampir setiap tahun dan menjadi alarm serius bagi kesehatan masyarakat modern.
Beberapa waktu lalu, seorang pria berusia 44 tahun datang ke instalasi gawat darurat dengan kondisi nyeri dada hebat yang menjalar ke lengan kiri. Dua hari sebelumnya, ia menghadiri beberapa acara bakar sate bersama keluarga dan rekan kerja. Selama perayaan, ia mengaku mengonsumsi sate kambing, gulai, jeroan, dan minuman manis hampir tanpa kontrol. Ia juga memiliki riwayat hipertensi, tetapi jarang meminum obat secara rutin karena merasa tubuhnya masih kuat bekerja.
Baca Juga: Hakamah Pantau Pasar Hewan Tanjung Jelang Idul Adha. Sebut Beberapa Fasilitas Pasar Perlu Dibenahi
Awalnya ia mengira nyeri tersebut hanya masuk angin biasa. Namun hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penyumbatan pembuluh darah koroner yang memicu serangan jantung akut. Kondisi seperti ini bukan cerita langka di dunia medis. Banyak pasien baru menyadari dirinya memiliki penyakit kardiovaskular setelah tubuh mengalami kondisi kegawatdaruratan.
Masalah utamanya sebenarnya bukan terletak pada daging kurban. Daging tetap merupakan sumber protein yang bermanfaat bagi tubuh jika dikonsumsi secara wajar. Persoalan muncul ketika budaya konsumsi berlebihan bertemu dengan gaya hidup modern yang tidak sehat. Masyarakat saat ini hidup dalam tekanan pekerjaan tinggi, kurang olahraga, minim istirahat, stres berkepanjangan, dan pola makan yang semakin tidak terkendali. Ketika Idul Adha datang, tubuh yang sebenarnya sudah “kelelahan metabolik” dipaksa menerima lonjakan lemak, kolesterol, garam, dan kalori secara mendadak.
Penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa penyakit jantung kini semakin banyak menyerang usia produktif. Studi yang dipublikasikan dalam World Health Organization menyebutkan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Faktor risiko terbesar berasal dari hipertensi, pola makan tinggi lemak jenuh, obesitas, kurang aktivitas fisik, dan stres kronis.
Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan natrium dalam jumlah besar dapat meningkatkan risiko inflamasi pembuluh darah, lonjakan tekanan darah, serta ketidakstabilan plak aterosklerosis yang berujung pada serangan jantung akut, terutama pada individu dengan faktor risiko tersembunyi.
Ironisnya, banyak masyarakat merasa dirinya sehat hanya karena masih mampu bekerja dan beraktivitas setiap hari. Padahal hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala jelas. Kolesterol tinggi pun kerap berkembang tanpa keluhan berarti. Ketika pola konsumsi ekstrem terjadi pada momen tertentu seperti Idul Adha, tubuh yang selama ini tampak baik-baik saja dapat tiba-tiba mengalami kegagalan sistem kardiovaskular.
Fenomena ini diperparah oleh budaya sosial masyarakat modern. Makanan kini tidak lagi sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga simbol kebahagiaan dan kemeriahan. Semakin banyak daging tersaji, semakin dianggap lengkap sebuah perayaan. Media sosial bahkan ikut memperkuat budaya tersebut. Banyak orang berlomba menampilkan hidangan mewah tanpa sadar bahwa tubuh memiliki batas kemampuan metabolik.
Baca Juga: Cegah Aksi Borong, Tangan Warga Dicoret Spidol, Gerakan Pangan Murah Jelang Idul Adha
Padahal, esensi Idul Adha sejatinya bukanlah tentang pesta makan tanpa kendali. Hari raya ini mengajarkan pengorbanan, kesederhanaan, kepedulian sosial, dan kemampuan mengendalikan diri. Sangat ironis apabila momentum spiritual justru berubah menjadi pemicu meningkatnya penyakit degeneratif akibat pola hidup yang tidak sehat.
Karena itu, sudah saatnya masyarakat memaknai Idul Adha secara lebih bijaksana. Mengonsumsi daging tentu bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi perlu dilakukan dengan cara yang sehat dan proporsional. Pengolahan makanan rendah santan dan rendah garam perlu mulai dibiasakan. Konsumsi jeroan sebaiknya dibatasi, terutama pada individu dengan hipertensi, diabetes, atau kolesterol tinggi. Aktivitas fisik ringan setelah makan, memperbanyak konsumsi air putih, sayur, dan buah juga menjadi langkah sederhana yang sangat penting.
Selain itu, kesadaran melakukan pemeriksaan kesehatan rutin harus ditingkatkan. Banyak orang baru memeriksa tekanan darah, gula darah, atau kolesterol setelah jatuh sakit. Padahal deteksi dini dapat mencegah komplikasi yang jauh lebih berat. Pemerintah, tenaga kesehatan, tokoh agama, dan media massa perlu bersama-sama memperkuat edukasi kesehatan menjelang hari raya keagamaan agar masyarakat tidak hanya memahami makna spiritual Idul Adha, tetapi juga mampu menjalani perayaan secara sehat.
Pada akhirnya, ancaman terbesar kesehatan modern bukanlah sate atau gulai itu sendiri, melainkan ketidakmampuan manusia mengendalikan pola hidupnya. Sebab, perayaan yang paling bermakna bukan hanya tentang meja makan yang penuh, tetapi juga tentang tubuh yang tetap sehat untuk menikmati kebersamaan bersama keluarga dalam waktu yang lebih panjang. (Prima Trisna Aji, Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang)
Editor : Redaksi Lombok Post Online