LombokPost - Dalam benak masyarakat awam, baik di Barat maupun di dalam negeri sendiri, frasa terkait “teroris” sering kali disamakan dengan gambaran seperti pria berjanggut panjang dan tebal, sering kali bersorban dan berjubah, yang jelas sangat melekat pada identitas budaya Islam itu sendiri. Stereotipe ini tentu beralasan, karena sejak terjadinya tragedi 11 September (9/11) yang didalangi oleh kelompok teroris Al-Qaeda, media sering kali memberitakan fenomena serupa, di mana kelompok yang mengklaim diri mereka sebagai Muslim melakukan aksi teror yang berujung pada generalisasi bahwa orang dengan ciri fisik seperti itu cenderung berbahaya.
Sejatinya, pandangan yang menyamakan Islam dengan terorisme sangat tidak tepat dan terlalu menyederhanakan Islam itu sendiri. Media Barat dalam hal ini sangat berperan di sini, terutama apabila kelompok yang melakukan aksi teror berasal dari pihak yang bukan Muslim, berita yang muncul sering kali dilabelkan sebagai aksi kriminal biasa yang dilakukan oleh orang dengan gangguan jiwa. Entah disadari maupun tidak, fenomena ini menonjolkan sifat dualitas dari media yang memberitakan hal tersebut, terutama yang dimaksud sebagai media Barat. Media Barat merupakan salah satu aktor yang secara tidak langsung turut membentuk cara masyarakat dunia memandang suatu kelompok. Mereka dikenal akan dualitasnya dalam memberikan sentimen dan pelabelan terhadap suatu pihak, terutama terhadap Muslim saat ini (Mulyana, 2026).
Narasi yang dibuat pada awalnya lebih menekankan kesuksesan penjualan berita. Namun, karena berita tentang konotasi buruk Islam sangat populer dan sering diulang-ulang, masyarakat akhirnya menganggap stereotip itu sebagai kebenaran (Fauzan, 2024). Prasangka yang terbentuk itu kemudian membuat kedua pihak sangat tidak cocok satu sama lain, sehingga memunculkan yang namanya ketegangan. Ketegangan ini pada tingkat yang lebih luas membentuk polarisasi global yang sangat kompleks, namun untuk menjelaskan fenomena ini, terdapat suatu perspektif yang sangat relevan karena mengangkat permasalahan ini jauh sebelum ada yang memikirkannya. Perspektif ini dikemukakan oleh Samuel P. Huntington melalui bukunya yang berjudul The Clash of Civilizations yang pada dasarnya melihat dunia di masa depan sebagai dunia konflik yang terbagi antara nilai sosial dan norma.
Baca Juga: Ketakutan, Stigma, dan Minimnya Psikiater jadi Alasan ODGJ di NTB Masih Dipasung
Dunia dalam pandangan Huntington secara mendasar terbagi menjadi sejumlah peradaban, di antaranya termasuk Barat, Rusia (Ortodoks), Cina (Sinik), Jepang, Hindu, dan Islam (Huntington, 1996). Mengutip pernyataan dari salah satu dosen Universitas Mataram yang meneliti terkait hal ini, Heavy Nala Estriani, M.Hub.int, “Peradaban oleh pandangan Huntington ini sebenarnya dapat dikerucutkan lebih lagi menjadi hanya antara Timur dan Barat” Dalam pandangan peradaban Huntington, nilai, budaya, dan terutama agama dijadikan sebagai faktor penting yang membuat suatu peradaban memiliki identitasnya masing-masing, sekaligus yang membuat peradaban yang satu dengan yang lainnya sulit untuk benar-benar tentram atau setidaknya tidak berkonflik.
Yang terutama menjadi isu yang difokuskan dalam pandangan benturan peradaban ini adalah peradaban Islam dan Barat. Menurut Huntington, hubungan antara Islam dan Barat ini sejatinya berada di titik yang paling rawan karena keduanya sama-sama besar, sama-sama memiliki pengaruh yang luas, dan sama-sama memiliki nilai masing-masing yang dalam banyak hal saling bertabrakan. Ini membuat gesekan di antara keduanya merupakan suatu keniscayaan. Terlepas dari hubungan di antara keduanya sepanjang sejarah yang dipenuhi dengan rivalitas yang kuat. Secara perspektif, terdapat perbedaan yang tidak dapat diselaraskan, di mana Islam di satu sisi melihat bahwa nilai-nilai yang dibawa oleh peradaban Barat tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ada, seperti halnya demokrasi dan sekularisme, sementara Barat memandang nilai-nilai tersebut harus diperjuangkan dan menjadi sebuah sistem dalam suatu negara.
Mengutip pernyataan dari Heavy Nala Estriani, M.Hub.int, beliau berpendapat bahwa “negara Barat dalam pandangan Huntington menganggap Islam tidak kompatibel dengan demokrasi dan HAM”. Negara Islam khususnya di Timur Tengah dianggap tidak selaras dengan nilai-nilai yang dikemukakan oleh Barat, terutama mengenai kebebasan bagi perempuan yang berbeda dari pandangan masyarakat Barat pada umumnya. Di titik inilah terjadi yang disebut sebagai dikotomi antara Islam dan Barat. Dikotomi ini kemudian dimaknai sebagai sebuah benturan peradaban di dunia dari sudut pandang Huntington. Kelompok-kelompok teroris yang mengklaim diri mereka sebagai Muslim dianggap mewakili Islam secara keseluruhan, yang dipandang oleh Barat sebagai tindakan bermusuhan yang membuat ketidakcocokan di antara keduanya semakin terlihat (Neumayer & Plümper, 2009).
Baca Juga: Menghapus Stigma, Merangkul Sesama, LPKA Lombok Tengah Jadi Garda Terdepan Kesehatan Warga
Terlepas dari pandangan Huntington yang dapat digunakan sebagai alat analisis dunia pasca-Perang Dingin, pandangan tersebut tidak dapat sepenuhnya dianggap sebagai kebenaran mutlak. Heavy Nala Estriani M.Hub.int berpendapat bahwa “Pandangan Huntington ini tidak terlepas dari kekurangan maupun kritikan karena pandangan yang ia bawa cenderung mereduksi agama sebagai representasi dari suatu peradaban.”Pernyataan tersebut sangat krusial sebagai penilaian lebih lanjut karena terdapat anggapan bahwa Timur “Islam” sebagai peradaban yang melahirkan paham-paham ekstremisme dan radikal yang menjadi sumber dari tindakan terorisme. Huntington sering kali hanya melihat agama dari sisi terluarnya saja dan menganggap agama sebagai suatu hal yang bersifat kaku dan sulit berubah. Padahal, agama sejatinya mengandung keberagaman budaya, pemikiran dan kondisi sosial. Secara prinsip, agama ada demi mengejar konsep kedamaian, baik yang bersifat batin maupun lahiriah, yang membuat pandangan Huntington tentang agama cenderung terlalu bias dan dangkal.
Teori Clash of Civilization (CoC) yang dikemukakan oleh Samuel Huntington menjelaskan bahwa setelah berakhirnya perang dingin, konflik dunia tidak lagi didominasi oleh ideologi politik atau persaingan ekonomi, tapi oleh perbedaan identitas budaya dan peradaban. Huntington membagi dunia ke dalam beberapa peradaban besar seperti Barat, Islam, Konfusianisme, Hindu dan lainnya. Setiap dari peradaban memiliki ciri khas sendiri, identitas, nilai, agama, bahasa, dan juga sejarah yang berbeda-beda. Menurut Huntington, identitas, budaya , dan agama akan menjadi sumber konflik utama global karena manusia cenderung merasa lebih dekat dengan kelompok yang memiliki kesamaan budaya dan keyakinan.(Huntington, 1993). Maka dari itu, Huntington berpendapat jika benturan antar peradaban lebih mudah terjadi.
Salah satu fakta empiris yang sering dikaitkan dengan teori ini adalah munculnya kelompok terorisme seperti Jamaah Ansharut Daulah atau JAD di Indonesia. JAD merupakan kelompok yang berafiliasi dengan ISIS dan beberapa kali terlibat dalam aksi teror di Indonesia, seperti bom Surabaya tahun 2018. Kelompok ini menggunakan identitas agama sebagai dasar gerakannya dan menganggap pihak di luar kelompoknya sebagai musuh.(Wicaksono, 2018). Berdasarkan pendapat dari salah seorang dosen yaitu Valencia Husni, S.AP, M.Si. menjelaskan bahwa dalam “JAD menganggap bahwa sistem yang dihasilkan oleh (Peradaban)Barat, baik kapitalisme, demokrasi, HAM merupakan produk dari barat, oleh karena itu mereka(JAD) menyerang simbol-simbol tersebut dan salah satunya gereja.” perspektif Huntington, fenomena ini dapat dilihat sebagai bentuk konflik identitas yang muncul akibat perbedaan pandangan budaya dan agama. Apalagi, jaringan terorisme transnasional seperti ISIS juga sering membawa narasi tentang pertentangan antara dunia Islam dan Barat untuk mempengaruhi anggotanya. Hal inilah yang membuat sebagian orang menilai bahwa teori Clash of Civilizations memiliki relevansi dalam menjelaskan fenomena radikalisme dan terorisme modern.
Namun, teori Huntington juga banyak mendapatkan kritik karena secara empiris terdapat beberapa contoh kasus bentrokan dalam suatu peradaban justru bertentangan dengan sesama peradaban seperti salah satunya terdapat pada ISIS yang beroperasi di kawasan Irak yang secara peradaban dalam pandangan Huntington merupakan satu peradaban yang sama, dan secara budaya, beberapa anggota teroris yang terlibat memiliki kedekatan hubungan sejarah maupun kesinambungan antara sesama peradaban, khususnya di kawasan Timur Tengah. Selain itu pandangan ini juga dianggap terlalu menyederhanakan penyebab konflik dan terorisme. Jika dilihat dari contoh ataupun bukti empiris mengenai pandangan Huntington yang secara empiris ternyata tidak sepenuhnya sesuai merupakan kasus JAD ini sendiri yang beroperasi di Indonesia, yang dimana secara mayoritas merupakan penduduk beragama Islam, terlepas dari target serangan utama mereka merupakan bangunan dan simbol-simbol yang menunjukkan nilai-nilai yang mereka tentang seperti gereja dan juga termasuk nilai-nilai seperti demokrasi, institusi dengan nilai barat, dan lainnya.
Secara populasi, Indonesia merupakan mayoritas penganut agama Islam, yang dimana otoritas negara, institusi negara, dan aparat-aparat negara juga secara aspek nilai agama memiliki kemiripan dengan JAD yang sama-sama menganut agama Islam, dengan demikian dalam kasus yang terjadi di Indonesia ini sendiri sudah menunjukkan kontradiksi antara bukti empiris di Indonesia dengan pandangan Huntington terkait dengan benturan antar peradaban. Argumen bahwa terdapat kontradiksi dalam pandangan Huntington dengan fakta empiris di lapangan juga disampaikan oleh Valencia Husni, S.AP, M.Si. yang menyampaikan bahwa “Kalau ditelaah lagi, lawannya(JAD) yang berusaha diserang juga pemerintah, Densus 88, dan itu mayoritasnya Muslim.” Dan juga ditegaskan kembali dengan pernyataan bahwa terdapat bentrok di dalam peradaban itu sendiri “Dilihat bahwa dalam kasus di lapangan ada bentrok intra-civilization, yang kurang dibahas dalam pandangan Huntington.”
Jika pada sudut pandang sebelumnya berkaitan dengan fakta di lapangan, terdapat beberapa alasan lain mengapa pandangan ini memiliki kontradiksi dengan kondisi di lapangan, yaitu pandangan yang sederhana mengenai penyebab terjadinya peristiwa seperti terorisme dan juga peristiwa lain seperti bentrokan antara peradaban. Misalnya, dalam kasus JAD radikalisme tidak muncul hanya karena perbedaan peradaban, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial, politik, ekonomi, pendidikan, hingga penyebaran ideologi ekstrem melalui media sosial. Selain itu, keberadaan bahwa korban dari aksi terorisme JAD sebagian besar justru yang berasal dari masyarakat Indonesia sendiri yang merupakan negara dengan penduduk beragama Islam secara mayoritas dan dilihat dari budaya secara nasionalitas memiliki latar belakang yang tidak beda jauh antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain.
Artinya, konflik tidak selalu terjadi antar peradaban seperti yang dijelaskan Huntington, tetapi juga bisa terjadi di dalam peradaban yang sama. Argumen ini juga disampaikan oleh Valencia Husni, S.AP, M.Si. yang dimana menurutnya pandangan Huntington tentang benturan antara peradaban terlalu disederhanakan dalam pendapatnya yang berbunyi “justru JAD banyak ketidaksesuaian dengan pandangan Huntington, karena dalam pandangan Huntington simplified bahwa budaya dan peradaban yang akan bentrok, sedangkan secara kenyataan JAD menyerang di Indonesia” Hal ini pun menjadi kritik penting terhadap teori Clash of Civilizations. (Lalu Arsyl Azim, Aprian Baihaki, Lalu Gede Sasak Negara, Maria Christiana, Danang Wibisono. (Program Studi Hubungan Internasional))
Editor : Redaksi Lombok Post Online