Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengatasi Sampah Organik Sampai Tuntas dengan Bio Em: Simpel Bentuknya, Dahsyat Manfaatnya

Redaksi • Jumat, 19 Juni 2026 | 13:00 WIB
OPINI
OPINI

LombokPost - Pernah mendengar lubang resapan biopri atau biopori? Biopori adalah karya hebat seorang dosen Ilmu Tanah IPB, alat yang bermanfaat untuk menguraikan sampah organik, juga sebagai solusi untuk mencegah genangan banjir melalui kantung-kantung resapan air di dalam tanah.

Lubang Biopori dibuat dengan mengebor tanah sedalam 0,5-1m lalu diberi pipa paralon sedalam 0,3-0,5m. Pada dinding paralon dibuat pori/lubang-lubang kecil diberi penutup di ujung atasnya. Selanjutnya, lubang tersebut diisi sampah organik untuk mengundang biota tanah datang memakan sampah.

Biota tanah akan membangun saluran kecil (pori) dalam jumlah yang sangat banyak sebagai jalannya menuju ke sampah, Saluran dalam tanah inilah yang sesungguhnya disebut Biopori. Semakin banyak biota tanah yang datang, semakin banyak pula biopori yang terbangun. Ketika musim hujan tiba, biopori ini akan terisi penuh oleh air yang meresap. Air ini tersimpan sebagai cadangan air di musim kering.

Baca Juga: Lurah Pejeruk Bongkar Modus Pembuang Sampah Liar: Malas Bayar Iuran, Nekat Selundupkan Pakai Mobil Bak!

Namun demikian, banyak yang belum memanfaatkan Biopori karena berbagai alasan, mulai dari tidak ada bor penggali tanah, harga paralon yang tidak murah, sampai dengan rasa takut/jijik karena harus menyentuh sampah untuk membantu agar sampah bisa masuk ke dalam lubang.

Biopori umumnya terbuat dari paralon berdiameter 10-15 cm, ukuran ini relatif kecil, dan kurang sesuai untuk sampah yang berukuran besar, disamping itu kapasitasnya terbatas sehingga diperlukan sedikitnya 10 lubang untuk bisa menuntaskan sampah selama sebulan dari rumah.

Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, perlu melakukan pengembangan/penyesuaian dengan tetap mempertahankan prinsip kerjanya agar tiap orang dapat menerapkannya tanpa masalah. Berikut adalah hasil pengembangan Biopori sebelumnya yang berbahan paralon, ukurannya lebih besar. Namanya Biopori Ember, tapi biar lebih singkat, mudah dingat dan terasa keren kita sebut saja: Bio Em. Keunggulannya: bahannya lebih mudah dan murah, tidak bau, tidak makan tempat, kapasitas besar, praktis dan cocok untuk menuntaskan sampah.

Baca Juga: Mahasiswa Ilmu Lingkungan Unram Turun Edukasi Biopori dan Pengelolaan Sampah di Pejeruk

Cara Membuat Bio Em

Bio Em bisa dibuat dari ember, keranjang sampah atau apa saja, yang penting ada tutupnya. Fungsinya sama seperti paralon pada Biopori konvensional yaitu sebagai pengokoh dinding lubang dan jalan masuk biota tanah. Hanya saja ada beberapa penyesuaian: bagian dasarnya dihilangkan, dindingnya dibuat berlubang-lubang untuk jalan masuk biota tanah, harus ada penutup. Penutup selain mencegah bau, juga mencegah lepasnya gas metan (CH4) dari sampah ke udara. Gas metan merupakan salah satu gas rumah kaca penyebab terjadinya pemanasan global.

Agar selaras dengan 3R (Reduse, Reuse dan Recycle) bahan ember untuk Bio Em sebaiknya dari bahan reuse seperti bekas wadah cat 20 kg, harganya berkisar Rp 15.000–25.000. Pertama-tama Bagian dasar ember dibuang dengan gergaji atau alat pemotong lainnya. Kemudian di sepanjang dinding ember dibuat lubang-lubang berdiameter 1-2 cm bisa menggunakan bor ataupun ditusuk dengan besi panas. Buatlah lubang yang cukup banyak dengan posisi tersebar merata di sekeliling dinding ember. Lalu pasang penutupnya.

Baca Juga: Kementerian LH Ingatkan Krisis Sampah Mengintai Mataram, Biopori Dinilai Jadi Solusi Murah dan Efektif

Selanjutnya gali lubang pada tanah menggunakan cangkul atau sekop. Diameternya 35 cm atau seukuran mulut ember yang sudah disiapkan. Sedangkan untuk kedalamannya pastikan sampai seluruh bagian ember masuk ke dalam tanah kecuali bagian penutupnya. Jadilah lubang biopori berpenutup dan berdinding ember serta berlantai dasar tanah.

Lubang ini siap diisi sampah organik setiap harinya. Sampah apapun bisa masuk: sisa makanan, potongan sayuran, jeroan ikan, ayam, daging, tulang lemak semua bisa masuk. Tidak berbau karena langsung ada kontak dengan tanah dan ada penutupnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama biota tanah dipastikan akan berdatangan.

Mengisi sampah tidak perlu dimasukkan satu per satu dengan tangan, cukup dituangkan langsung seluruhnya dari wadah sampah ke dalam mulut ember dan cuss… seluruh sampah akan masuk ke lubang tanpa perlu disentuh tangan. Tutup lubang dengan rapat dan selesai. Sesederhana itu.

Gerakan 2 Bio Em dari Rumah

Untuk dapat menurunkan angka timbulan sampah rumah tangga secara signifikan, perlu menggerakkan potensi kekuatan yang ada terutama masyarakat dari rumah ke rumah dalam gerakan yang masif dan terus-menerus. Dari rutinitas positif ini akan terbangun budaya kelola sampah sendiri di masyarakat.

Penting diingat, kunci dari mengolah sampah adalah Pemilahan. Tanpa memilah, mengolah sampah dipastikan tidak bisa berjalan. Pemilahan wajib dilakukan di setiap rumah, minimal ada 2 wadah, organik dan anorganik.

Skenario

Bila gerakan ini berjalan, dengan asumsi komposisi sampah organik 60% dari total sampah domestik, maka diharapkan dapat efektif menurunkan timbulan sampah hingga 40%-50% sepanjang dilakukan serentak dan konsisten, Sangat tergantung pada komitmen dan dukungan sumber dayanya. Kota Surabaya yang dikenal sukses mengatasi sampah, dalam waktu 3 tahun pertama secara bertahap dapat mengurangi sampah sebanyak 20%, capaian tersebut sudah dianggap excellent dan dapat merubah wajah kota Surabaya menjadi kota yang bersih dan asri.

Cara sederhana untuk menghitung jumlah unit dan biaya kebutuhan Bio Em per rumah: Jika tiap rumah rata-rata memiliki 4-5 anggota keluarga dan tiap orang menghasilkan sampah sekitar 0,35 kg per hari per orang, maka jumlah timbulan sampah yang dihasilkan dari setiap rumah maksimum sebesar 1,75 kg per hari. Jika proporsi sampah organik sebesar 60% dari total sampah, maka jumlah timbulan sampah organik per rumah per hari adalah sebesar 1,05 kg. Dengan kapasitas ember pada lubang Bio Em sebesar 20 kg diperkirakan lubang akan penuh dalam waktu 19 hari. 

Untuk waktu sebulan diperlukan setidaknya sebanyak 1,6 Bio Em atau dibulatkan mejadi: 2 Bio Em per rumah agar dapat menuntaskan semua sampah organik. Rotasi dilakukan per 2 minggu.  Sedangkan untuk hitungan biayanya adalah biaya modal dari harga ember cat 20 kg seharga Rp 15.000-25.000,- maka untuk membangun 2 lubang Bio Em, diperlukan biaya modal tidak lebih dari Rp 50.000 per rumah. Pembuatan cukup sekali saja untuk dipakai seterusnya.

Rotasi Per 2 Minggu

Pertama masukkan sampah organik setiap hari ke lubang Bio Em pertama selama 2 minggu. Setelah 2 minggu di Bio Em pertama, alihkan pengisian sampah ke Bio Em kedua, Selama pengisian sampah di Bio Em kedua, hentikan pengisian di Bio Em pertama untuk membiarkan biota tanah terus bekerja mengurai sampah hingga matang dan siap panen.

Setelah 2 minggu pengisian di bio Em kedua telah selesai, maka sampah yang telah diistirahatkan 2 minggu di BioEm pertama dapat dipanen/dikosongkan. Setelah kosong, lanjutkan kembali mengisi sampah baru di Bio Em pertama. Demikian seterusnya pengisian sampah terus dilakukan secara bergiliran per 2 minggu di kedua lubang. Panen pupuk juga dilakukan pada setiap rotasi pergantian pengisian sampah.

Sampah yang sudah matang dikeluarkan dan dicampurkan dengan satu bagian tanah atau bisa juga ditambah dengan bahan lainnya seperti cocopeat.  Campuran ini bisa menjadi bahan yang sangat bagus untuk media tanam di polybag, planterbag atau pot (sistem tabulampot).  Selain itu campuran ini juga dapat diaplikasikan sebagai pupuk organik untuk tanaman yang ditanam langsung di tanah dan di dalam pot, diberikan secara teratur menjadi nutrisi yang sangat baik bagi tanaman.

Integrasi Kegiatan

Penting diingat, Gerakan Bio Em ini hanya dapat berjalan secara kontinu jika rotasi pengisian dan pengosongan di kedua lubang berjalan secara simultan. Untuk itu perlu diintegrasikan dengan kegiatan lainnya seperti penanaman di pekarangan ataupun dengan penjualan pupuk organik. Untuk memastikan agar lubang Bio Em harus harus tetap tersedia di setiap rotasi dan selalu ada ruang untuk memasukkan sampah baru sehingga seluruh sampah tertangani secara tuntas dan berkelanjutan.

Bio Em selain bertujuan menuntaskan sampah dan mengkonservasi air tanah, hasil produknya berupa pupuk organik bisa untuk menambah penghasilan, jika dijual ataupun dimanfaatkan sendiri untuk berkebun di pekarangan. Namun di beberapa tempat seperti di perkotaan, lahan sangat terbatas. Terutama di wilayah pemukiman rata-rata kepemilikan lahan sekitar 100-200 m2 atau bahkan kurang dari 100 m2, luas pekarangan tersisa hingga 5-20 m2. Pemilihan sistem penanaman yang mengoptimalkan ruang seperti sistem tabulampot dan vertical garden bisa jadi solusi. Selain bisa menciptakan iklim mikro yang sejuk dan jadi penambat karbon di rumah, juga bisa menjadi penyokong ketahanan pangan keluarga melalui tanaman produktif dan bernilai keragaman tinggi.

Intervensi Pemerintah

Gerakan 2 Bio Em dari rumah cukup potensial menjadi daya ungkit peningkatan kualitas lingkungan, dan cukup signifikan bagi upaya pengurangan sampah mengingat komposisi sampah terbesar adalah sampah organik. Tentu perlu komitmen dari pemerintah.  Pemerintah harus hadir dalam menjaga agar roda gerakan terus berjalan dengan kontinu. Namun kadang anggaran terbatas dan belum dapat menjangkau keseluruh rumah tangga, solusinya dibuat bertahap dengan membentuk kampung model untuk pecontohan bagi perluasan target selanjutnya.

Beberapa bentuk intervensi pemerintah dalam mengembangkan Gerakan 2 Bio Em dari rumah antara lain: 1) Persiapan awal: baseline data, roadmap, pedoman juklak juknis, jejaring kerja; 2) Koordinasi para pihak; 3) Sosialisasi/bimtek terkait Bio Em; 4) Fasilitasi bantuan fisik berupa 2 unit Bio Em per rumah (wajib); 5) Insentif / dukungan tambahan untuk reward, dapat berupa: bantuan polybag, bantuan bibit tanaman produktif berupa bibit buah dan bibit sayuran; Fasilitasi pemasaran pupuk organik, salah satunya melalui intervensi pemerintah dengan cara membeli pupuk hasil Bio Em untuk kebutuhan pupuk di taman kota atau di fasum lainnya. 6) Monitoring, output berupa data progress per tahun atau per periode tertentu; 7) Evaluasi; 8) Pengembangan/replikasi.

Rekomendasi

Perlu penyempurnaan dan kajian yang lebih komperhensif agar gerakan ini lebih terarah dan terukur sesuai dengan target maupun tujuan yang ingin dicapai. Perlu kajian lebih lanjut terutama dari aspek ekonomi seperti kajian perhitungan nilai ekonomi berupa nilai efisiensi dari jumlah  pengurangan sampah yang dicapai, kajian nilai valuasi ekonomi terhadap dampak intangiblenya termasuk karbon, kajian nilai ekonomi dari produk lanjutannya seperti hasil penjualan pupuk organik maupun hasil penjualan hasil tanaman yang dipupuk dari hasil Bio Em.

Mengatasi sampah organik, berarti mengatasi setengah dari jumlah timbulan sampah. Tetapi tidak cukup sampai di situ. Problematika sampah anorganik meskipun secara komposisi lebih sedikit tapi relatif lebih kompleks dan memerlukan effort yang tidak sedikit. Perlu mengembangkan strategi dan kerja-kerja masif menggerakkan semua sumberdaya dapat melalui aksi dan gerakan serupa seperti gerakan ecobrick untuk mengatasi ceceran sampah plastik di sepanjang jalan, gerakan waterfront untuk sungai bersih, gerakan diet dan puasa plastik terutama untuk kaum muda, dan berbagai kemasan aksi lainnya. Pemerintah juga perlu hadir dalam upaya mengembangkan berbagai infrastruktur seperti pabrik daur ulang sampah plastik, kaleng dan sebagainya.

Hal yang sangat penting adalah edukasi, membangun karakter dan menumbuhkan budaya peduli lingkungan di setiap pribadi, meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap sampah sendiri. Selain itu menyediakan dukungan regulasi, infrastruktur dan dukungan fisik agar sampah tidak lagi menjadi masalah kronis, sehingga lingkungan menjadi lebih baik, sehat dan nyaman utuk dihuni.

Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 2026. "Terinspirasi oleh Alam. Untuk Iklim. Untuk Masa Depan Kita”. (Baiq Sri Wahyu Hidayati, S.Hut, M.Si: PEH Ahli Muda pada Dinas LHK Provinsi NTB, JICA Counterpart untuk Proyek Kerja Sama Pengelolaan Sampah NTB-Kitakyushu 2013-2015)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#sampah #biopori #tanah #Konvensional #masyarakat