Oleh: Nafisa Meira Rahma (Mahasiswi Ilmu Kelautan Universitas Mataram)
Ketika sedang menyelam, kebanyakan orang biasanya lebih tertarik mencari penyu, hiu, atau gerombolan ikan besar yang berlalu lalang di sekitar terumbu karang. Namun bagi saya, ada kesenangan tersendiri ketika berhasil menemukan makhluk super kecil yang sering kali luput dari perhatian banyak orang.
Saya masih ingat pertama kali melihatnya saat melakukan fun dive. Di antara pecahan karang dan substrat berbatu, ada sesuatu yang berwarna sangat mencolok menarik perhatian saya.
Bentuknya unik, ukurannya kecil, dan bergerak perlahan. Sekilas menyerupai ulat atau cacing biasa, hanya saja warnanya jauh lebih menarik. Rasa penasaran itu akhirnya terjawab setelah saya naik ke permukaan dan berdiskusi dengan rekan penyelam. Makhluk cantik itu bernama nudibranch, atau yang lebih populer dijuluki sebagai “kelinci laut”.
Pemburu Harta Karun Mikro
Meskipun sudah mengenal hewan ini secara sekilas, pengetahuan saya baru berkembang pesat saat mengikuti program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Indo Coral Conservation, Gili Air, Lombok Utara.
Di pulau wisata ini, saya mulai belajar lebih jauh mengenai biologi dan peran penting hewan mungil tersebut bagi ekosistem laut. Nudibranch termasuk ke dalam kelompok marine invertebrate (hewan tak bertulang belakang) dari filum Mollusca.
Uniknya, meskipun sebagian besar nudibranch dewasa tidak memiliki cangkang luar seperti siput darat, mereka tetap satu keluarga dengan moluska. Ada banyak hal menakjubkan dari "kelinci laut" ini yang baru saya pelajari selama magang.
Di balik keindahan fisiknya, hewan ini ternyata memiliki mata yang primitif dan hampir buta, sehingga hanya bisa membedakan kondisi terang dan gelap. Sebagai gantinya, mereka mengandalkan sepasang tentakel di kepala bernama rhinophore sebagai indra penciuman dan perasa kimiawi yang tajam untuk menavigasi arah, mendeteksi predator, hingga berburu makanan di dasar laut.
Keunikan lain yang saya temukan adalah sistem reproduksinya yang bersifat hermafrodit, di mana setiap individu memiliki organ jantan dan betina sekaligus. Sistem ini membuat dua nudibranch dewasa mana pun yang bertemu di dasar laut dapat saling membuahi demi mempertahankan generasinya. Cara bertahan hidup ini sangat efisien, mengingat siklus masa hidup mereka di alam liar relatif singkat, yakni berkisar dari beberapa minggu hingga maksimal satu tahun saja.
Secara regulasi, nudibranch memang belum masuk dalam daftar satwa yang dilindungi oleh undang-undang konservasi di Indonesia karena keanekaragaman spesiesnya yang masih terus diteliti. Meski belum berstatus dilindungi secara hukum, keberadaan mereka di alam nyata sangat rentan karena sifatnya yang sensitif terhadap perubahan kualitas air dan kerusakan habitat.
Beberapa spesies ternyata mampu memanfaatkan senyawa beracun dari makanannya, seperti spons laut sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap predator. Selain itu, keberadaan nudibranch sering dikaitkan dengan indikator kondisi lingkungan karena beberapa spesiesnya cukup sensitif terhadap perubahan habitat. Kehadiran mereka menandakan bahwa rantai makanan di area terumbu karang tersebut masih berjalan dengan sehat.
Menepis Dominasi Megafauna
Sebagai pencinta biota mikro, berburu nudibranch saat menyelam menjadi tantangan yang candu. Menemukan mereka membutuhkan ketelitian dan kesabaran tingkat tinggi. Karena ukurannya yang hanya beberapa sentimeter, mata kita harus benar-benar jeli menyisir substrat berbatu maupun pecahan karang di dasar perairan.
Bahkan ketika melakukan penyelaman, mata saya selalu sibuk menyisir celah-celah karang dengan harapan menemukan satu atau dua nudibranch yang sedang merayap perlahan. Setiap kali berhasil menemukannya, saya langsung dengan riang memberi hand signal kepada buddy (mitra selam) saya untuk berbagi rasa takjub.
Selama menyelam di kawasan Gili Matra (Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan), ada beberapa spesies yang cukup sering saya jumpai. Mulai dari Phyllidiella varicosa, Phyllidia coelestis, Phyllidiella pustulosa, Phyllidiella ocellata, hingga Doryprismatica atromarginata. Masing-masing memiliki perpaduan warna dan pola tubuh yang sangat kontras dan artistik.
Selain spesies mini tersebut, terdapat pula jenis nudibranch berukuran lebih besar yang dikenal dengan nama Spanish dancer (Hexabranchus sanguineus). Sesuai namanya, penari spanyol ini dapat berenang bebas di kolom air dengan gerakan bergelombang yang anggun menyerupai kibasan gaun seorang penari.
Selama ini, pembicaraan mengenai kehidupan bawah laut selalu didominasi oleh megafauna seperti penyu, pari, atau hiu. Padahal, lautan kita ditopang oleh makhluk-makhluk kecil yang tidak kalah menarik dan memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Dari nudibranch, saya belajar bahwa keindahan samudra tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Kadang, justru makhluk-makhluk kecil yang berukuran beberapa sentimeter inilah yang mampu menghadirkan rasa takjub paling mendalam bagi kita yang hidup di atas daratan. (*)
Editor : Kimda Farida