Oleh: dr. Gemilang Khusnurrokhman, Sp.P(K), AIFO-K
Dokter Spesialis Paru, Konsultan Pulmonologi Intervensional dan Gawat Darurat Napas
RSUD Provinsi NTB/Siloam Hospitals Mataram
Di poli paru, ada satu cerita yang terus berulang. Seorang pasien datang dengan batuk yang sudah berbulan-bulan. Sempat dianggap batuk biasa atau diduga tuberkulosis. Ketika akhirnya diperiksa secara menyeluruh, kanker paru ternyata sudah berada pada stadium lanjut.
Tidak jarang pasien itu bukan perokok atau sudah lama berhenti merokok. Setelah diagnosis ditegakkan, kalimat yang saya dengar biasanya sama: seandainya diperiksa lebih awal.
Bulan Agustus membuat saya kerap teringat pada pasien-pasien itu. Tanggal 17 Agustus tentu kita rayakan sebagai Hari Kemerdekaan. Namun, ada momentum lain yang jarang mendapat perhatian: 1 Agustus diperingati sebagai Hari Kanker Paru Sedunia.
Saya tidak sedang memaksakan hubungan antara keduanya. Namun, setiap kali menghadapi pasien yang datang terlambat, kata “merdeka” terasa memiliki makna lebih luas daripada sekadar bendera dan upacara.
Kanker paru bukan penyakit yang layak diremehkan. Di dunia, penyakit ini merenggut sekitar 1,8 juta nyawa setiap tahun dan menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker.
Baca Juga: Toko Terdampak Proyek SPALDT Mataram Dapat Ganti Rugi, Ini Syarat dan Mekanismenya
Di Indonesia, kanker paru juga menjadi persoalan kesehatan serius, terutama pada laki-laki. Bebannya diperkirakan terus meningkat apabila tidak terjadi perubahan dalam pola hidup, pencegahan, dan deteksi dini.
Musuh yang Bekerja dalam Senyap
Persoalan terbesar kanker paru adalah kemunculannya yang nyaris tanpa suara.
Paru-paru termasuk organ yang relatif toleran. Tumor dapat tumbuh berbulan-bulan tanpa nyeri atau tanda yang jelas. Keluhan sering kali baru muncul setelah penyakit berkembang lebih jauh. Pada tahap itu, pilihan pengobatan pun semakin terbatas.
Itulah sebabnya banyak pasien yang saya temui sudah berada pada stadium lanjut sejak kunjungan pertama. Ada sejumlah tanda yang sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika berlangsung lebih dari dua hingga tiga minggu: batuk yang tak kunjung sembuh atau semakin berat; batuk berdarah, sekalipun hanya berupa bercak; sesak napas atau napas berbunyi; nyeri dada, bahu, atau punggung yang menetap; suara serak berkepanjangan; berat badan turun tanpa sebab yang jelas disertai mudah lelah; serta pembesaran kelenjar getah bening, misalnya di leher atau belakang telinga.
Perlu ditegaskan, tanda-tanda tersebut tidak otomatis berarti kanker. Penyebabnya bisa berupa infeksi atau penyakit paru lainnya. Namun, justru di situlah jebakannya. Karena gejalanya samar dan menyerupai penyakit sehari-hari, batuk berkepanjangan kerap dibiarkan atau buru-buru dianggap tuberkulosis tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Padahal, pemeriksaan lebih dini dapat membuat perbedaan besar terhadap pilihan pengobatan yang tersedia.
Bukan Sekadar Urusan Perokok
Dalam soal penyebab, rokok masih menjadi faktor risiko utama. Perokok memiliki risiko kanker paru jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak merokok. Yang sering luput diperhitungkan adalah orang-orang di sekitar perokok yang ikut menanggung risikonya. Perokok pasif juga menghirup asap yang mengandung berbagai zat berbahaya.
Namun, menyalahkan rokok saja tidak cukup. Sebagian pasien saya bahkan tidak pernah merokok sepanjang hidupnya.
Pada kelompok ini, faktor risiko dapat berasal dari udara yang kita hirup setiap hari: partikel halus PM2.5, asap dapur pada rumah dengan ventilasi buruk, gas radon dari tanah dan bangunan, paparan asbes di tempat kerja, riwayat kanker paru dalam keluarga, hingga riwayat penyakit paru menahun.
Karena itu, memperbaiki kualitas udara di sekitar kita bukan perkara yang dapat dinomorduakan.
Merebut Kembali Napas yang Lega
Kabar baiknya, sebagian faktor risiko tersebut dapat kita kendalikan. Berhenti merokok merupakan salah satu langkah paling penting. Ketergantungan nikotin bukan hanya persoalan kesehatan, melainkan juga menguras pengeluaran rumah tangga dan perlahan merampas kualitas hidup.
Tidak pernah terlambat untuk berhenti. Setelah berhenti merokok, tubuh mulai melakukan proses pemulihan dan risiko berbagai penyakit secara bertahap menurun.
Upaya lain dapat dilakukan dengan mengurangi paparan polusi, menggunakan masker ketika kualitas udara buruk, memperbaiki ventilasi rumah, menjaga pola makan, serta tetap aktif bergerak.
Selain mencegah, kini kita juga memiliki peluang untuk mendeteksi kanker paru lebih dini. Salah satu metode yang digunakan adalah low-dose computed tomography (LDCT), yakni CT scan dada dengan dosis radiasi rendah. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi kelainan berukuran kecil bahkan sebelum muncul keluhan.
Pada kelompok tertentu yang berisiko tinggi, skrining LDCT dapat membantu menemukan kanker paru pada tahap lebih dini. Namun, keputusan menjalani skrining perlu disesuaikan dengan usia, riwayat merokok, faktor risiko lain, serta rekomendasi dokter.
Bagi mereka yang tidak merokok, skrining rutin tidak serta-merta diperlukan. Risiko dan manfaat pemeriksaan sebaiknya didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter sesuai kondisi masing-masing.
Terdiagnosis Bukan Akhir Segalanya
Kalaupun diagnosis akhirnya menunjukkan kanker paru, hal itu tidak lagi selalu menjadi akhir cerita seperti dahulu. Dalam beberapa tahun terakhir, cara kami mendiagnosis dan mengobati kanker paru berkembang pesat.
Melalui bronkoskopi dan teknik biopsi yang semakin maju, dokter tidak hanya dapat memastikan jenis kanker, tetapi juga mempelajari karakteristik molekulernya. Informasi tersebut memungkinkan pengobatan disesuaikan dengan kondisi setiap pasien.
Pilihan terapi pun tidak lagi terbatas pada pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi. Kini tersedia terapi target dan imunoterapi yang pada pasien tertentu dapat memberikan hasil lebih baik dan efek samping yang lebih terarah.
Saya menyaksikan sendiri pasien yang dahulu mungkin hanya memiliki harapan hidup dalam hitungan bulan, kini dapat hidup lebih lama dengan kualitas hidup yang jauh lebih baik. Namun, peluang keberhasilan tetap sangat dipengaruhi oleh jenis dan stadium kanker, kondisi pasien, serta seberapa dini penyakit ditemukan.
Maka, setiap Agustus, ketika bendera dikibarkan dan lagu kebangsaan dinyanyikan, diam-diam saya berharap kita dapat memaknai kemerdekaan secara lebih pribadi.
Bukan hanya merdeka sebagai bangsa, tetapi juga merdeka menjaga tubuh dan kesehatan kita sendiri.
Untuk itu, kita tidak membutuhkan bambu runcing. Yang dibutuhkan jauh lebih sederhana: keberanian berhenti merokok, kepedulian menjaga udara di rumah dan lingkungan, serta kemauan untuk tidak menyepelekan batuk yang tak kunjung reda.
Sebab, kemerdekaan yang saya harapkan bagi setiap pembaca sesungguhnya sederhana: dapat menarik napas panjang dengan lega, hari ini dan bertahun-tahun ke depan, tanpa terlambat menyadari ada sesuatu yang keliru. (*)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post