Mengisi Cangkir yang Kosong: Kontradiksi Budaya Kopi Melbourne-Mataram dan Rapuhnya Rumah Kita

Rury Anjas Andita • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 16:11 WIB
Danu Saputra, Guru MAN 1 Mataram
Danu Saputra, Guru MAN 1 Mataram

ADA sebuah anomali menarik ketika kita menyandingkan dua kebudayaan urban di dua belahan dunia yang berbeda. Saat berkunjung ke Melbourne di tengah musim dingin sepanjang Juni hingga Juli 2026, saya menyaksikan langsung fenomena ini. Di Melbourne, kota yang kerap ditasbihkan sebagai salah satu ibu kota kopi dunia, kedai-kedai kopi legendaris umumnya sudah menyeka meja dan menutup pintu mereka pada pukul lima sore. Sependek pengamatan saya, bagi masyarakat di sana, kopi adalah tentang ritual rasa, apresiasi terhadap kualitas biji, dan jeda singkat di tengah produktivitas harian.

Namun, pemandangan ini berbanding terbalik jika kita menengok tanah air, khususnya di Mataram, Lombok, tempat saya tinggal. Di sana, riuh rendah kedai kopi justru baru dimulai saat matahari terbenam, bahkan beberapa difasilitasi untuk terus menyala hingga 24 jam. Kopi di Mataram bukan lagi sekadar soal sensorik lidah, melainkan konsumsi visual untuk asupan media sosial, sekaligus penanda lahirnya sebuah lanskap struktur sosial baru bagi anak muda.

Mengapa fenomena ini terjadi? Mengapa anak muda kita begitu membutuhkan kedai kopi sebagai ruang hidup yang panjang, sementara di tempat yang ditasbihkan sebagai ibu kota kopi dunia, kopi hanyalah minuman pengantar hari? Bisa jadi jawabannya tidak terletak pada kafein, melainkan pada retaknya unit terkecil dalam struktur sosial kita, keluarga.

Rumah yang Kehilangan Kehangatan

Secara sosiologis, keluarga adalah benteng pertama tempat anak manusia membangun konsep diri, moralitas, dan mendapatkan rasa aman. Namun bagi banyak anak muda hari ini, rumah telah bergeser fungsi dari safe place menjadi ruang yang asing, atau bahkan mengancam. Tekanan ekspektasi, minimnya dialog, hingga konflik domestik membuat rumah terasa dingin.

Ketika rumah tidak lagi menyediakan dekapan emosional, anak muda dipaksa ke luar mencari "ruang ketiga". Di Mataram, mungkin juga di kota-kota lain, ruang alternatif itu menjelma dalam bentuk kedai kopi estetis. Kedai kopi hadir menawarkan apa yang gagal diberikan oleh rumah: penerimaan tanpa syarat, validasi, dan sebuah ekosistem sosial yang aman dan nyaman.

Ilusi Estetika dan Dampak Krisis Mental hingga Moral

Alih-alih menjadi solusi jangka panjang, pelarian ke kedai kopi ini membawa dampak negatif yang mengkhawatirkan, terutama pada dua ranah krusial, kesehatan mental dan moral.

Pertama, terjadilah apa yang disebut sebagai konsumsi visual. Anak muda berbondong-bondong mendatangi kafe bukan untuk menikmati keaslian rasa kopi, melainkan untuk memotret sudut-sudut estetis demi validasi di media sosial. Ini adalah topeng digital yang berbahaya. Di balik unggahan foto yang tampak bahagia dan "kekinian," tersimpan kerapuhan mental yang dalam. Eksistensi yang digantungkan pada jumlah likes dan komentar menciptakan kecemasan kronis (anxiety) dan rasa sepi yang akut ketika lampu kedai padam dan mereka harus kembali menghadapi kenyataan. Kedai kopi menjadi ruang eskapisme semu yang hanya menunda ledakan depresi.

Kedua, pergeseran kompas moral. Ketika anak muda menghabiskan sebagian besar waktu malam mereka di luar rumah dalam struktur sosial buatan yang tanpa pengawasan, internalisasi nilai-nilai moral menjadi bias. Nilai-nilai kelompok sebaya (peer group) yang belum matang sering kali menggantikan tuntunan moral yang seharusnya diturunkan oleh generasi dewasa. Tanpa sadar, batas-batas moralitas menjadi kabur akibat longgarnya kontrol sosial di ruang-ruang publik tersebut.

Solusi Utama: Hadirnya Kembali Orang Tua

Menjamurnya kedai kopi di Mataram yang kontras dengan Melbourne membuktikan bahwa anak muda kita sedang haus akan "tempat bernaung." Oleh karena itu, solusi atas fenomena ini tidak bisa diselesaikan dengan sekadar membatasi jam buka kedai kopi atau merazia anak muda yang nongkrong hingga larut malam.

Penyembuhan sosial ini harus dimulai dari hulu, yaitu hadirnya kembali orang tua secara utuh. Banyak orang tua merasa sudah menunaikan kewajibannya hanya dengan mencukupi kebutuhan materi atau memberikan uang jajan. Padahal, yang paling dibutuhkan oleh anak muda di masa transisi mereka yang rentan adalah kehadiran emosional (emotional presence). Orang tua harus meruntuhkan ego dan membangun kembali jembatan komunikasi di rumah. Rumah harus bertransformasi menjadi tempat yang lebih nyaman untuk bercerita daripada sudut kedai mana pun.

Ketika orang tua kembali hadir sebagai pendengar yang baik, pemberi validasi yang tulus, dan pemandu moral yang hangat, maka anak muda tidak perlu lagi "membeli" rasa aman di kedai kopi. Kopi akan kembali pada marwahnya yang sederhana, sebagai minuman yang disruput untuk dinikmati, bukan sebagai pelarian dari rumah yang mati suri. (*)


*Penulis: Danu Saputra, Guru MAN 1 Mataram

Editor : Rury Anjas Andita
rumah kita MAN 1 Mataram melbourne Mataram budaya kopi eropa