ACT Sarungan, Think ala Jerman

Kimda Farida • Dipublikasikan Kamis, 5 November 2026 | 09:05 WIB
Lalu Faqih Saiful Hadie
Lalu Faqih Saiful Hadie

 

L. Faqih Saiful Hadie

Aktivis dakwah, Penulis, Pemerhati Sosial, Seni dan Budaya NTB

 

Matahari sore merayap perlahan di balik pohon asam di belakang pondok, meninggalkan berkas cahaya keemasan yang menimpa tiang sekepat tempat saya biasa sowan kepada Tuan Guru Ishak, guru saya yang membina pondok ini. Sebagai alumni pondok, status saya sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi di salah satu Universitas Negeri terkemuka di daerah ini tidak pernah menjauhkan saya dari pondok ini. Saban minggu, di antara tumpukan tugas kuliah saya selalu menyempatkan diri kembali ke pondok untuk sowan mengikuti majelis sorogan langsung di hadapan beliau.

Beliau duduk bersila santai dengan sarung yang warnanya mulai pudar dan kopiah putih yang biasa beliau kenakan agak miring. Beliau baru saja selesai membacakan Syarah Ibn 'Aqil bab Marfu'atul Asma', tetapi pikiran saya justru tersangkut pada masalah yang jauh keluar dari konteks. Setelah santri-santri lain beringsut meninggalkan majelis itu, saya menyulut keberanian untuk meyampaikan kebingungan yang sudah lama mengendap di kepala.

"Abah, " saya membuka percakapan sambil membetulkan letak kacamata saya. "Saya punya pertanyaan yang agak krusial, bahkan mungkin sedikit provokatif. Mengapa umat Islam, yang memeluk agama paling luhur, teratas, dan ya'lu wala yu'la 'alaih (unggul dan tidak ada yang mengungguli) ini, justru secara peradaban hari ini tampaknya tertinggal jauh di belakang Bangsa Barat?"

Tuan Guru Ishak tidak langsung menjawab. Beliau meraih puntung rokoknya yang hampir padam, menghisap tembakau lokal itu dan menghembuskan asapnya perlahan, tampak beliau sangat menikmatinya. Beliau menatap saya dengan sorot mata agak jenaka. "Nanda, baru baca bukunya Samuel Huntington sama Arnold Toynbee sebentar saja, kepalamu sudah kelihatan berasap begitu. Pertanyaanmu itu latah, tampak sekali kalau Nanda ini tipikal mahasiswa semester akhir yang mabuk pemikiran Barat tapi lupa caranya tahlilan, hehehe..."

"Bukan begitu, Abah," sergah saya membela diri. "Ini fakta empiris. Tengoklah indikator kemajuan global seperti indeks pembangunan manusia, paten teknologi, eksplorasi antariksa, hingga dominasi sains modern, mayoritas dikuasai oleh mereka yang di luar Islam. Kita sering kali hanya jadi konsumen peradaban, bukan produsen. Di mana letak keluhuran itu jika dalam panggung sejarah modern kita justru seperti penonton di bangku belakang?"

Baca Juga: Tertinggal 67 Poin dari Marc Marquez, Bezzecchi Belum Menyerah Kejar Gelar MotoGP

Tuan Guru Ishak terkekeh pelan, mengusap janggutnya yang telah sebagian besar memutih. "Penonton bangku belakang, katamu? Coba kita bedah logika berpikirmu dulu. Kalau engkau mengukur 'kemajuan' hanya dari seberapa cepat manusia menciptakan alat destruktif, atau seberapa masif mengeksploitasi alam tanpa mempedulikan etika khilafah, maka diagnosamu pasti keliru. Kita ini tidak ketinggalan, Nanda. Kita ini hanya lebih berhati-hati."

"Berhati-hati bagaimana, Abah?" tanya saya, dengan dahi agak berkerut mendengar ucapan beliau yang terdengar agak apologis tersebut. "Ya berhati-hati!" tegas beliau sambil mengetuk lantai sekepat yang terbuat dari bilah-bilah bambu. "Umat Islam berjalan dalam lorong sejarah tidak cuma berbekal ambisi dan rasionalitas instrumental, tapi juga membawa beban amanah etis. Kita harus menimbang peraturan agama (syariat) dan aturan universal kemanusiaan (al-qiyam al-insaniyyah). Ibarat balapan mobil, Barat itu naik F1 di jalan tol tanpa rem etik, asal cepat sampai target kapitalistis. Sedangkan kita naik kendaraan yang remnya sangat pakem, sebab setiap kali mau menekan pedal gas, kita harus mengecek dulu ini nabrak hukum Tuhan atau tidak? Ini melanggar hak manusia lain atau tidak? Ini merusak ekosistem atau tidak?"

Saya tertegun sejenak, mencoba mencerna metafora otomotif yang beliau gunakan. "Tapi Abah, apakah kehati-hatian itu tidak malah menjadi rem cakram yang membuat kita stagnan? Apakah syariat justru menjadi beban akselerasi peradaban?" "Lho, itu kekeliruan fatal dalam berpikir!" potong beliau cepat. "Kaidah fiqih kita menyatakan, al-muhafazhatu 'alal qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah—memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Kehati-hati etis itu bukan penghambat, melainkan pengawal peradaban agar tidak bangkrut secara moral. Lagipula, siapa bilang kita tidak punya kontribusi kongkrit dalam sejarah maupun masa kini?"

"Di masa lalu mungkin kita punya Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi, Abah. Tapi bagaimana dengan hari ini?" kejar saya, belum sepenuhnya puas.

Beliau tersenyum, lalu menyandarkan tubuhnya ke tiang sekepat. "Jangan diskontinyu begitu dong dalam melihat sejarah, Nanda. Barat bisa melompat tinggi hari ini karena mereka berdiri di atas pundak raksasa peradaban Islam klasik. Tanpa Al-Jabar dari Al-Khawarizmi, tidak akan ada algoritma komputer hari ini. Tanpa metode eksperimental Ibn al-Haytham, sains modern kehilangan pijakan empirisnya. Islam tidak pernah tertinggal dalam memelopori ilmu pengetahuan, kita adalah inisiatornya."

"Lantas, bagaimana dengan kekinian, Abah?" tanya saya menagih bukti kontemporer.

"Di zaman kekinian pun, sumbangsih umat Islam sangat nyata, hanya saja sering kali tertutup oleh prasangka media," terang beliau seraya membetulkan kopiyahnya. "Lihat bagaimana teknologi vaksin mRNA yang menyelamatkan jutaan nyawa manusia saat pandemi lalu, itu dikembangkan oleh Ugur Sahin dan Ozlem Tureci, mereka itu ilmuwan Muslim. Lihat pula bagaimana Prof. BJ Habibie merumuskan teori keretakan pesawat (crack progression) yang dipakai seluruh industri penerbangan dunia hingga detik ini. Atau sumbangan pemikiran ekonomi syariah yang kini justru dilirik lembaga keuangan global karena terbukti paling tahan terhadap krisis finansial karena dalam sisyem ini spekulasi liar (gharar) itu haram."

Baca Juga: 1.290 Titik Kebakaran Terjadi di NTB, Kerugian Material Ditaksir Tembus Rp 75 Miliar

"Artinya," Beliau melanjutkan dengan nada suara yang lebih dalam, "potensi intelektual umat Islam itu luar biasa mutakhir. Bedanya, ketika Muslim berilmu dengan benar, ilmu itu digunakan untuk memakmurkan bumi ('imaratul ardh), bukan untuk menindas. Kita tidak tergiur oleh kemajuan yang tercerabut dari akar kemanusiaan. Kemajuan tanpa moralitas universal hanya akan melahirkan bom atom, krisis kemanusiaan dan lingkungan."

Saya mendengarkan penjelasan tersebut dengan seksama. Sepertinya beliau telah berhasil meredam kegelisahan saya dengan menyatukan kedalaman literatur pesantren dengan analisis kritis modern.

Saya menyadari bahwa kemunduran atau kemajuan suatu peradaban tidak bisa diukur hanya dari aspek materialistis semata, melainkan dari sejauh mana peradaban tersebut mampu menjaga martabat kemanusiaan di hadapan Sang Pencipta.

Rupanya matahari benar-benar telah tenggelam, digantikan oleh temaram lampu yang menyala otomatis.

Seorang santri terdengar mengumandangkan azan maghrib dari surau pondok. Tuan Guru Ishak berdiri dari duduknya, merapikan lipatan sarungnya yang sedikit kusut. Seperti biasa, beliau menepuk-nepuk bahu saya, tapi kali ini saya rasakan penuh penekanan. "Ingat baik-baik, Nanda," ujar beliau pelan namun menghujam. "Jangan pernah minder menjadi seorang santri dan jangan pernah silau oleh kilatan peradaban luar sampai engkau kehilangan identitasmu. Kau boleh sarungan, tapi otakmu harus seperti orang-orang Jerman! Ayo, kita salat Magrib!" (*)

Editor : Kimda Farida
Islam dan Peradaban Kemajuan Umat Islam Peradaban Islam Dunia Islam Santri Modern