LombokPost - Ferrari kembali masuk ke arena GT3 dengan pendekatan yang sama sekali berbeda. Kenalkan, Ferrari 296 GT3, suksesor dari 488 GT3 yang jadi tulang punggung kemenangan Ferrari di berbagai kejuaraan GT dalam satu dekade terakhir.
Tapi bukan Ferrari namanya kalau tidak berani keluar pakem. Kali ini, mereka tinggalkan mesin V8 dan masuk ke era baru: V6 twin-turbo 120 derajat, dipasang di tengah-belakang.
Mesin ini berbasis dari 296 GTB versi jalan raya, tapi tentu saja sudah dioprek total untuk kebutuhan balap.
Dan yang menarik, Ferrari akan membawa mobil ini ke GT World Challenge Asia 2025 di Sirkuit Mandalika 9-11 Mei mendatang, yang jadi salah satu highlight kalender balap di Asia Tenggara.
V6: Lebih Ringan, Lebih Efisien, Tapi Tetap Beringas
Secara teknis, layout V6 120° ini bukan cuma untuk keunikan. Sudut 120° memberikan ruang optimal untuk turbin turbocharger yang kini diletakkan di bagian tengah ‘V’ mesin.
Ini membuat pusat gravitasi lebih rendah dan distribusi bobot lebih baik. Karakter mesin ini juga diklaim lebih efisien secara termal dan konsumsi bahan bakar.
Mesin ini juga sudah dirancang untuk menggunakan biofuel, sesuai regulasi dan arah pengembangan balap masa depan.
Ini jadi salah satu aspek yang membedakan 296 GT3 dari 488 GT3—lebih siap menghadapi regulasi lingkungan ke depan.
Balap Siang Panas Mandalika? 296 GT3 Siap!
Balapan di Mandalika bukan perkara mudah. Cuaca panas, trek cepat, dan tikungan panjang jadi ujian fisik bagi mobil dan pembalap.
Tapi dari pengujian internal Ferrari, mobil ini sudah melalui simulasi dan ribuan kilometer pengujian—mulai dari terowongan angin, sirkuit Fiorano, hingga dyno endurance.
Ferrari juga merancang kabin mobil ini agar cocok untuk pembalap profesional maupun gentleman driver. Posisi duduk lebih sentral, visibilitas ditingkatkan, serta ergonomi kontrol yang lebih mudah dijangkau.
Ini penting karena GT3 adalah kelas di mana tim pabrikan dan tim privat punya peluang yang relatif setara.
Desain Baru, Warisan Tetap Kuat
Secara tampilan, 296 GT3 tetap membawa bahasa desain Ferrari yang agresif tapi tetap elegan. Siluet-nya lebih padat dibanding 488, dengan dimensi lebih kompak dan bodywork yang dioptimalkan untuk downforce dan pendinginan.
Yang menarik, meski modern, mobil ini tetap menyimpan DNA klasik. Beberapa garis bodi dan pendekatan desain aerodinamisnya disebut terinspirasi dari Ferrari 250 LM dan 246 SP—mobil balap legendaris era 60-an.
Ferrari 296 GT3 adalah evolusi yang berani. Peralihan dari V8 ke V6 mungkin terdengar kontroversial, tapi secara teknis bisa jadi ini langkah paling realistis. Terlebih dengan platform yang lebih ringan, pusat gravitasi rendah, dan efisiensi tinggi.
GtBaca Juga: Dampak Ekonomi GT World Challenge Asia 2025 Diharapkan Menyebar Luas di KEK Mandalika
Dan kita akan lihat performanya langsung di lintasan Mandalika—sirkuit yang tak hanya menantang dari sisi teknis, tapi juga menawarkan cuaca ekstrem dan atmosfer khas Indonesia. Ini bukan cuma pertarungan mesin dan aerodinamika, tapi juga soal daya tahan.
Apakah 296 GT3 mampu menandingi dominasi Mercedes-AMG GT3, Porsche 911 GT3 R, dan McLaren Artura GT4? Mari kita lihat di GT World Challenge Asia 2025. (***)
Editor : Alfian Yusni