LombokPost - Kendaraan yang kinclong dan terawat sempurna kini bukan lagi sekadar pemenuhan kebutuhan kebersihan. Namun menjadi bagian vital dari cara individu memproyeksikan citra diri dan kebanggaan.
Motor dan mobil yang terbebas dari debu dan noda telah menjelma menjadi simbol identitas sosial.
Menurut Agus Ibrahim, tenaga kesehatan (nakes) muda di Lombok Utara, kendaraan dianggap sebagai aset personal branding yang bergerak.
"Kendaraan yang bersih adalah representasi visual dari disiplin, kesuksesan, dan profesionalitas pemiliknya," jelas Agus.
Penampilan yang rapi dan modis bukan hanya sekadar feysen di tubuh saja, tapi juga aksesoris pendukung lainnya. Kendaraan baik motor maupun mobil merupakan salah satu aksesoris penting yang mendukung penampilan modis.
"Kendaraan yang terawat sempurna adalah harga diri di jalanan, masak sudah baju rapi dan modis tapi kendaraan kotor apalagi kucel, kan malu-maluin," jelasnya.
Sebab itu, Agus menilai sangat penting untuk memperhatikan perawatan kendaraan. Perawatan kendaraan telah menjadi ritual penting yang mencerminkan karakter disiplin. Agus sendiri melakukan beberapa praktik perawatan harian terhadap kendaraan yang dimilikinya.
“Ada beberapa perawatan yang dilakukan, baik itu saya lakukan sendiri di rumah, tapi kadang juga di luar,” bebernya.
Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Agus rutin melakukan inspeksi singkat. Jika terlihat noda sedikit pun, terutama noda yang sulit dihilangkan seperti getah pohon atau kotoran burung, akan segera dibersihkan.
Proses pembersihannya pun tidak sembarang. Ia cukup selektif memilih produk perawatan khusus. Contohnya seperti sampo khusus mobil, quick detailer spray untuk kilau instan, atau bahkan cairan khusus anti-jamur kaca.
“Perawatannya harus benar-benar diperhatikan, tidak boleh sembarangan, supaya cat dan komponen lainnya tidak rusak,” jelasnya.
Meski rutin melakukan perawatan sendiri, namun kata Agus, hal itu hanya perawatan basic saja. Untuk perawatan yang menyeluruh, biasanya dia rutin membawa kendaraannya ke tempat pencucian kendaraan. “Saya cukup rutin untuk melakukan pembersihan menyeluruh, kayak sekali dua pekan, tapi kalau musim hujan bisa sekali sepekan,” katanya.
Menurutnya, membersihkan kendaraan khususnya mobil di luar memang tidak seintens motor. Sebab biaya yang dikeluarkan juga cukup besar, bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Namun hal itu kata Agus, tidak menjadi pemberat dirinya untuk memastikan mobilnya selalu kinclong setiap harinya.
Tingkatkan Kepercayaan Diri
Bagi Kadek Puspita Dewi, pegawai swasta di Mataram, kendaraan kinclong bisa meningkatkan rasa percaya diri. Menurut wanita 31 tahun tersebut, kendaraan bersih bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal kenyamanan dan kesehatan selama berkendara.
Tidak hanya faktor pribadi, lingkungan kerja juga memengaruhi kebiasaan Kadek. Ia menyebut bahwa ketika mobil diparkir bersama rekan kerja, rasa malu muncul jika kendaraannya kotor. “Kalau parkir bersama rekan kerja dan mobil kotor sendiri, rasanya nggak nyaman,” ujarnya.
Hal ini menunjukkan bagaimana norma sosial di lingkungan profesional dapat mendorong seseorang untuk lebih rajin merawat kendaraannya. Selain itu, media sosial juga memberikan pengaruh, meskipun tidak dominan.
Kadek mengatakan bahwa konten otomotif atau car detailing di media sosial membantu mendapatkan informasi mengenai produk-produk perawatan kendaraan. “Lumayan berpengaruh, jadi bisa mendapat informasi produk-produk kebersihan untuk mobil,” kata dia.
Namun, ia menekankan rekomendasi teman lebih dipercaya dibanding sekadar mengikuti tren online. Dalam hal frekuensi, Kadek menyesuaikan kebiasaannya dengan kondisi kendaraan.
Jika mobil sering dibawa bepergian, ia mencuci satu kali seminggu. Namun, jika jarang digunakan, frekuensinya bisa meningkat menjadi dua kali seminggu.
Musim hujan tidak menghentikan rutinitas mencucinya, meski frekuensi kadang menurun. “Kalau sudah cuci mobil tapi hujan, mobil akan kembali kotor karena terkena cipratan genangan air. Jadi biasanya agak jarang saat hujan,” jelas Kadek.
Dalam hal biaya, Kadek menyiapkan sekitar Rp 70–100 ribu per minggu untuk perawatan kendaraannya. Bagi Kadek, biaya ini bukan sekadar pengeluaran gaya hidup, tetapi merupakan kebutuhan rutin untuk menjaga mobil tetap nyaman dan aman digunakan.
Kadek mengaku mobil yang terawat dan bersih membuatnya lebih nyaman saat berkendara maupun saat bertemu orang. “Sangat meningkatkan kepercayaan diri,” ujarnya.
Bukan Sekadar Kenyamanan
Hal senada diungkapkan Marianto, warga Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Menurut dia, kendaraan bersih merupakan cerminan identitas diri dan profesionalitas.
Marianto sendiri mengaku, intensitas mencuci kendaraan rata-rata setiap dua hari. Sementara jika hujan, dia berusaha mencuci mobilnya sekali sehari. Ini di luar aktivitas mencuci mandiri yang dilakukannya setiap hari di waktu luangnya.
“Karena nggak suka lihat kotor. Suka kerapian dan kebersihan. Kendaraan kotor itu rentan bermasalah kalau tidak dirawat,” tambahnya.
Baginya, kendaraan bersih bukan sekadar kenyamanan. Tetapi juga menunjang mobilitas dan profesinya sebagai advokat yang tengah menempuh studi S-2 Hukum di Universitas Mataram. “Kendaraan merepresentasikan kualitas diri. Kalau motor urak-urakan, orangnya juga akan begitu,” ujarnya.
Marianto mengatakan, aktivitasnya yang lebih banyak di Mataram, membuat dirinya kerap memilih carwash di Mataram. Terutama pada pagi hari. "Namun ketika pulang ke Lombok Utara, saya tetap berusaha mencuci mobil di KLU meski fasilitas yang ada masih seadanya," katanya.
Karena minimnya pilihan, Marianto akhirnya membeli sendiri peralatan cuci kendaraan untuk keperluan harian. Namun menurutnya, tetap ada perbedaan signifikan dibanding layanan profesional. “Carwash itu detail. Kalau mandiri, hanya bodi saja,” tutupnya. (fer/yun/bib/r3)
Editor : Marthadi