Gangguan teknis tersebut membuat siswa kesulitan login. Ketika sudah ada yang berhasil login, siswa kesulitan mengirim hasilnya. ”Karena loading itu tadi,” imbuhnya.
Sedikitnya, 46 SMP negeri dan swasta di Mataram melaksanakannya. Terbagi dalam dua pola, yakni daring dan semi daring. Pelaksanaannya kemudian dibagi menjadi dua gelombang.
Sekolah diperbolehkan memilih melaksanakan pada gelombang satu atau dua. Sebab sesuai petunjuk teknis Kemendikbud Ristek, setiap siswa terpilih harus mengikuti AN selama dua hari.
AN SMP berlangsung dari 4-7 Oktober. Gelombang pertama diikuti 23 SMP di Mataram, sisanya melaksanakan AN gelombang kedua. ”Jadi gelombang satu berlangsung tanggal 4 dan 5 Oktober, sedangkan gelombang kedua, SMP melaksanakannya di tanggal 6 dan 7 Oktober,” terangnya.
Ada dua jenis asesmen yang harus diisi. Hari pertama terkait Literasi Membaca dan Survei Karakter. Hari kedua, ada Numerasi dan Survei Lingkungan Belajar. ”Jadi karena ada gangguan itu, ya siswa tidak tuntas mengisi surveinya,” kata Syarafudin.
Atas gangguan tersebut, Kemendikbud Ristek langsung merilis pengumuman resmi. Sekolah-sekolah yang gagal melaksanakan pada gelombang pertama, dapat mengikuti AN kembali pada gelombang kedua.
Atau penjadwalan ulang pada 11-14 Oktober. Semua mekanisme ada pada laman ANBK. Disdik Mataram pun langsung mengumumkan kepada seluruh kepala SMP yang melaksanakan AN hari pertama. Merekap semua kendala, termasuk berapa siswa yang berhasil menyelesaikan survei dan tidak.
”Nanti kita buat laporan ke pusat, kami akan usulkan untuk penjadwalan ulang,” pungkasnya.
Sekretaris Panitia AN 2021 Dinas Dikbud NTB Purni Susanto menegaskan, kendala jaringan terjadi di hampir seluruh SMP. ”Bukan hanya sekolah yang berada di bawah naungan dinas pendidikan, MTs pun sama ada yang mengalami gangguan,” jelasnya.
Kejadian ini tentu saja merepotkan sekolah. Mereka sudah cukup lama menyiapkan diri, namun ketika hari H malah gagal. Sehingga persiapan yang cukup lama itu menjadi buyar.
”Belum lagi gagalnya pelaksanaan ANBK ini menyebabkan tingkat ketegangan dan tekanan mental baik guru maupun siswa. Ibaratnya mereka merasa belum plong,” ujarnya.
Hal itu sejalan yang dialami Kepala SMPN 9 Mataram Imam Purwanto. Kondisi siswa di masing-masing sekolah tentu berbeda. Siswa yang terpilih mengikuti AN, ada yang antusias dan sebaliknya.
”Ketika ini gagal, kami kembali kerja ekstra untuk memotivasi lagi anak-anak didik kami,” jelasnya. (yun/r9) Editor : Wahyu Prihadi