Hal itu diungkapkan pria kelahiran Singapura ini, saat jumpa media. Dilakukan usai dialog virtual dengan seluruh kepala SD dan TK/PAUD se-NTB, di SDN Dasan Baru, Lombok Tengah, Kamis (7/10). ”Agar tidak meningkat lagi jumlah yang nikah usia dini, pertama yang harus dilakukan adalah PTM, karena semua ini disebabkan oleh PJJ (pembelajaran jarak jauh, Red),” tegasnya.
Upaya kedua, dirinya mengimbau sekolah mau menerima kembali siswa yang kadung menikah. ”Jadi jangan sampai ada stigma, ketika mereka ingin kembali bersekolah,” ujarnya.
Pandemi yang berakibat diterapkannya belajar dari rumah (BDR) secara daring. Hal ini mempengaruhi pemikiran bahkan pandangan sejumlah orang tua. Ada yang merasa bila anaknya terus menerus menjalani BDR daring, sekolah menjadi percuma sehingga mengizinkan anaknya menikah muda.
PTM terbatas juga mencegah risiko lain yang lebih berbahaya. Yakni kekerasan domestik atau kekerasan yang terjadi di lingkungan keluarga. Meski Menteri Nadiem tidak menyebut angka pasti, namun kejadian tersebut terus meningkat selama penerapan BDR.
Belum lagi, BDR juga mempengaruhi kondisi psikologis anak yang merasa terpukul. Termasuk kesepian, depresi, kecanduan gawai, dan masih banyak lagi dampak buruknya. ”PTM ini harus terakselerasi,” tandas pria yang akrab disapa mas menteri ini.
Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan mengatakan pemerintah juga memikirkan opsi selain memperkuat penerapan PTM terbatas. Bagi siswa yang putus sekolah karena alasan menikah, pemda telah menyiapkan sekolah pendidikan kesetaraan. Dilakukan melalui SMA Terbuka.
”Kami punya 18 SMA negeri di NTB mendapat mandat menyelenggarakan SMA Terbuka dan sekarang mereka sudah bisa memulai belajar,” jelasnya.
SMA Terbuka sesuai tujuannya, mengakomodir lebih banyak anak-anak NTB yang putus sekolah karena berbagai faktor. Seperti putus sekolah lantaran bekerja sampai dengan alasan menikah.
”Ini upaya kami, memberikan kesempatan kepada anak-anak usia SMA sederajat, yang putus sekolah karena sejumlah faktor tersebut,” jelasnya. (yun/r9) Editor : Wahyu Prihadi