”Kami memilih pelatihan ini didasari kondisi sebagian besar guru SD di Gugus III Gunungsari belum memanfaatkan alat peraga matematika dalam pembelajaran,” kata Laila Hayati, salah satu tim dosen.
Para dosen lain yang tergabung dalam tim ini adalah Sri Subarinah, Baidowi, Arjudin, dan Nani Kurniati. Metode pengabdian yang dilaksanakan meliputi penyajian materi, demonstrasi, pembuatan alat peraga, presentasi, evaluasi, dan tindak lanjut.
Alat peraga digunakan untuk mempermudah menjelaskan konsep matematika. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media seperti gambar, ilustrasi, atau model-model konkrit efektif membantu meningkatkan daya ingat tentang konsep yang dipelajari.
Para ahli mengemukakan beberapa manfaat alat peraga matematika dalam pembelajaran. Yaitu menambah kegiatan belajar siswa, menghemat waktu belajar, hasil belajar lebih permanen atau menetap. Membantu anak-anak yang ketinggalan dalam pelajarannya, membangkitkan minat dan motivasi serta aktivitas siswa. Termasuk memberikan pemahaman yang lebih tepat dan jelas.
”Namun, penggunaan alat peraga matematika dalam pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan. Tetapi mempunyai fungsi tersendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang efektif,” jelasnya.
Para peserta pelatihan berasal dari guru-guru di Gugus III Gunungsari. Masing-masing sekolah mengirimkan dua guru. Selain dari SDN 1 Midang, ada juga dari SDN 2 Midang, SDN 3 Midang, SDN 1 Kekeri, dan SDN 2 Kekeri.
Penyajian materi dalam kegiatan pengabdian menggunakan metode ceramah dan demonstrasi. Materi yang disampaikan adalah konsep-konsep volume bangun ruang, pembelajaran konsep-konsep volume bangun ruang, beberapa alat peraganya yang dapat digunakan di kelas, dan demonstrasi cara menggunakannya.
Peserta pengabdian diberikan kesempatan untuk bertanya dan mencoba langsung ke depan. Sehingga pemahaman dan penggunaan alat peraga tentang konsep-konsep volume bangun ruang dapat meningkat.
Menurut Laila, pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dapat terlaksana dengan baik karena adanya komunikasi dan kerja sama yang baik antara tim pengabdian dengan pihak-pihak terkait. Terutama kepala SDN 1 Midang sebagai tempat/lokasi kegiatan pengabdian pada masyarakat.
”Selain itu, dukungan dan kerja sama yang baik dari guru-guru matematika Gugus III Gunungsari. Peserta pengabdian bertanya dan sangat aktif mengikuti kegiatan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, guru memperoleh pengetahuan dan kemampuan dalam membuat dan menggunakan alat peraga matematika konsep volume bangun ruang.
Selain faktor pendukung, terdapat pula faktor penghambat kegiatan pengabdian. Karena dilakukan dalam keadaan pandemi, peserta harus dibatasi dengan ketentuan hanya diikuti dua guru perwakilan masing-masing sekolah. Hal ini berdampak juga pada alokasi waktu yang terbatas, yang menyebabkan praktik penggunaan alat peraga oleh masing-masing peserta pengabdian diwakili oleh kelompok. (ida/r9)
Editor : Baiq Farida