Program ini diinisiasi Kemendikbudristek, yang saat ini baru memasuki tahun pertama. Sasaran program GSMS ini melibatkan 20 sekolah di Lobar. Mencakup 400 siswa, dan 20 seniman, dalam 16 kali pertemuan.
Melalui GSMS, pihak sekolah dan seniman bersinergi melakukan pelatihan seni dan budaya bagi generasi muda. Menurutnya, dalam kesenian terdapat banyak nilai luhur. Diantaranya, rasa percaya diri dan toleransi.
”Jadi, teman-teman seniman dari cabang seni apa pun bisa menularkan ilmunya pada anak-anak didik,” jelas dia.
Menurutnya, pelestarian seni budaya sebagai upaya membangun pendidikan karakter anak bangsa. Kesenian dan kebudayaan yang diwariskan nenek moyang diharapkan tidak punah.
Disamping itu, program ini juga bisa menumbuhkan rasa cinta peserta didik terhadap kesenian daerah. ”Dari sini akan ada generasi penerus,” tegas Panca.
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu kendala, karena terbatasnya kegiatan tatap muka langsung di sekolah. Ketersediaan sarana juga menjadi kendala lain yang harus diatasi. Misalnya gendang beleq, pihaknya sekolah tentu membutuhkannya. Kendati demikian, semuanya masih bisa dilakukan penyesuaian. ”Karena ini baru tahun pertama, kita laksanakan sambil kita sempurnakan mana yang masih kekurangan,” jelasnya.
Harapannya, jika program ini usai, sekolah bisa menjadikan kegiatan yang sudah dilakukan berkesinambungan. ”Sekolah bisa memasukkan program ini, ke program ekstrakurikuler,” tandas Panca.
Kepala SMPN 2 Kuripan H Karnaen mengatakan, ada beberapa jenis seni dan budaya yang masuk pada program GSMS ini, seperti penulisan lontar dan pepausan. ”Kita bangkitkan kembali seni dan budaya daerah agar tidak punah,” ujarnya.
Ia pun berkomitmen untuk memasukkan program ini, menjadi ekstrakurikuler. Lantaran, GSMS bisa dijadikan sekolah untuk menggali potensi siswa. ”Luar biasa perkembangan siswa. Mereka sudah bisa menulis, di daun lontar, dan sebagai pembanyun. Dengan program ini siswa tahu budaya nenek moyangnya,” tandas kepala sekolah. (yun/r9)
Editor : Wahyu Prihadi