Ia merupakan doktor ke-161 di lingkungan FIB Unud dan doktor ke-202 di lingkungan Prodi S3 Linguistik. Selama ujian terbuka, dirinya menjelaskan tentang verba tindakan bahasa Bima.
Bahasa Bima sebagaimana bahasa daerah lainnya memiliki keunikan dan potensi. Verba dalam bahasa Bima masih banyak menyimpan khazanah linguistik, termasuk fitur semantik yang perlu dikaji dan dikembangkan dengan berbagai macam teori.
”Verba bahasa Bima merupakan salah satu kelas utama yang bersifat sentral dan kompleks, karena secara semantis, verba bahasa Bima selalu hadir dalam tuturan,” terang Rabiyatul.
Penelitiannya memperlihatkan adanya perilaku sintaktis verba bahasa Bima. Serta kekhasan dan keunikan dalam bahasa Bima. Yang dimaksud adalah verba transitif dan verba intransitif.
Verba intransitif banyak didominasi awalan ka, ma, na, ta, da, di, ra, dan akhiran ku, mu, na, ta, ja, si, ro, ra, du, ni, pu, mpa. Pembentukan kata dalam bahasa Bima tidak mengenal sisipan.
Keunikan lain dalam bahasa Bima adalah setiap konsonan akhir pada sebuah kata dihilangkan. ”Terdapat dua buah konsonan laminobilabial dan laminobilabial implosif yang berbeda dengan b dan d,” jelasnya.
Prof I Nengah Sudipa selaku promotor mengucapkan selamat atas capaian itu. Penelitian terhadap bahasa daerah, merupakan penelitian yang sangat penting dilakukan.
Hal ini mengingat Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah dan belum semua mendapat porsi penelitian yang baik. ”Sehingga potensi besar yang tersimpan dalam khazanah bahasa-bahasa daerah tersebut belum terungkap dengan maksimal,” jelasnya.
Penelitian ini telah membuka perspektif baru dalam dunia penelitian meta bahasa semantik alami, khususnya pada bahasa daerah. Kajian pada penelitian ini telah mensinergikan beberapa teori modern. Sehingga hasilnya merupakan sebuah temuan perspektif yang segar. (yun/r9/*) Editor : Administrator