”Ada 20 orang yang diambil sumpahnya. Mereka ini yang sudah lulus uji kompetensi bidan,” kata Ketua STIKES Hamzar H Muhammad Nagib, kemarin.
Para lulusan STIKES Hamzar diharapkan bisa memberi manfaat bagi masyarakat. Selain itu, kata Nagib, penting juga bagi wisudawan untuk membantu program kebijakan dan program kesehatan dari Pemprov NTB. Khususnya menurunkan angka kematian ibu secara signifikan.
Secara kebetulan, Lombok Timur, yang juga merupakan lokasi Kampus STIKES Hamzar, merupakan kabupaten tertinggi angka kematian ibu. Sehingga menjadi penting bagi seluruh lulusan kebidanan dari STIKES Hamzar untuk turut serta membantu pemerintah menurunkan kasus kematian ibu.
”Lulusan-lulusan dari STIKES Hamzar tentu merupakan orang-orang terbaik. Harapannya memang bisa ikut membantu program pemprov juga,” harap dia.
Pengambilan sumpah profesi bidan di STIKES Hamzar merupakan yang kali kedua. Nagib menerangkan, sebelum resmi berprofesi bidang, mahasiswi harus mengikuti dan lulus dalam uji kompetensi. Dikenal dengan istilah exit exam.
Uji kompetensi ini berdasarkan standar nasional. Artinya, bidan-bidan yang lulus dari STIKES Hamzar, keilmuan serta kemampuannya setara dengan bidan yang berada di kota-kota besar, seperti Jakarta maupun Surabaya.
Uji kompetensi diadakan dua kali dalam satu tahun, di April dan Agustus. Ke-20 orang yang diambil sumpahnya kemarin telah lulus uji kompetensi pada April lalu. ”Sudah resmi mereka jadi tenaga profesi bidan,” jelas Nagib.
Pendidikan profesi bidan merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana kebidanan. Untuk di NTB, STIKES Hamzar yang pertama kali membuka pendidikan sarjana kebidanan plus pendidikan profesi bidan.
Nagib menerangkan, profesi bidan harus kuat secara akademik, yang diperoleh dari pendidikan sarjana kebidanan. Ditambah dengan afektif dan psikomotorik, yang sangat berpengaruh ketika menerapkan ilmu melalui praktik kebidanan.
Untuk membantu lulusan pendidikan profesi bidan, STIKES Hamzar telah menjalin kerja sama dengan seluruh rumah sakit di Pulau Lombok. ”Jadi untuk praktiknya mereka lebih mudah,” sebut Nagib.
Ketua Dewan Yayasan Maraqitta’limat TGH Hazmi Hamzar mengatakan, mahasiswa yang telah menjadi sarjana harus meningkat juga pola dan kematangan berpikirnya. Harus berbeda dengan mereka yang lulus SMA.
”Sarjana itu sudah punya dasar ilmu, kematangan berpikir. Soal nasib nanti akan tergantung pada bagaimana mereka bergaul,” kata Hazmi.
Dia sangat berharap mahasiswa yang telah menjadi sarjana terus meningkatkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Meski langkah ini akan sangat bergantung pada ikhtiar pribadi serta kesempatan yang diberikan orang tua. (jlo) Editor : Administrator