“Kami buat dan cetak sendiri,” terangnya, pada Lombok Post Kamis (15/9).
Dalam hal produksi buku anak, pihaknya bekerja sama dengan INOVASI NTB, menggelar mini workshop terkait dengan penulisan buku anak, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu.
“Teman-teman relawan kami beri motivasi dan semangat, agar bisa menulis buku untuk menjawab kelangkaan buku anak ini, dan karyanya sudah ada, bahkan sudah kami tunjukkan di pameran,” terangnya.
Kelangkaan buku anak tidak bisa dibiarkan terjadi berlarut-larut. Pihaknya tidak bisa dengan hanya mengandalkan perhatian dari pemerintah, yang dinilai masih sangat minim. Contohnya, kurang ada dukungan anggaran dalam pengadaan buku.
“Maka kami bergerak, dan saya terus mengajak teman-teman di komunitas, untuk membuat karya dan karya-karyanya kita buatkan big book, ini sebagai bahan kami untuk belajar,” sambung Yuyun.
Buku anak yang diproduksi Forum Relawan Literasi NTB, memiliki tema yang sangat dekat dengan anak-anak. Dengan visualisasi yang diharapkan dapat menarik minat baca anak.
“Buku anak itu, nggak harus buku yang wow, yang penting anak-anak mau tertarik membaca buku, itu yang kami berikan pemahaman ke teman-teman relawan,” ujarnya.
Selama ini, buku yang ada dan diberikan ke anak-anak masih belum tepat. Misalnya di perpustakaan umum, banyak ditemukan buku dengan tema bahasan yang sangat berat, misalnya tentang politik hukum, ekonomi dan lainnya.
“Jadi itu sama sekali nggak dekat dengan anak. Jadi buku-buku yang kebanyakan temannya tentang hal-hal umum,” tegasnya.
Memang di kondisi tertentu, pihaknya juga tidak bisa mengabaikan pembaca dewasa, tetapi mereka punya banyak pilihan bacaan. “Sementara kondisi seperti ini jarang sekali ada untuk dinikmati oleh anak-anak,” kata dia.
Yuyun menganggap, buku anak sangat penting penting. Bahan bacaan yang sesuai usia mereka, sebagai pondasi untuk masa depan. Kebiasaan membaca dapat dimulai sejak usia dini, karena memiliki begitu banyak keistimewaan.
“Pada masa ini anak-anak sedang berada di tahap perkembangan fisik dan psikologis yang sangat pesat,” jelasnya.
Manfaat lain yang didapatkan anak dari membaca sejak dini, dapat memperkaya kosa kata, meningkatkan kecepatan membaca, meningkatkan pemahaman mengenai makna, struktur kata, dan semacamnya.
Karena itu, anak-anak harus disediakan bahan bacaan, sehingga mereka punya pengalaman dalam membaca. “Oh ternyata membaca itu se asyik itu dan semenyenangkan itu, kebahagian inilah yang diinginkan oleh anak-anak,” pungkasnya.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) NTB Tri Budi Prayitno mengapresiasi upaya yang dilakukan, oleh Forum Relawan Literasi dan komunitas literasi lainnya. “Tantangan ini harus kita pecahkan bersama, melalui berbagai kolaborasi dan sinergi,” ujarnya. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida