“Kepala madrasah itu mesti menjadi penggerak kemajuan di lembaga yang kita pimpin dan harus ada perubahan,” jelasnya.
Sebagai seorang pemimpin di lembaga pendidikannya, kepala madrasah dituntut memberikan sumbangsih pemikiran dan perubahan. Melakukan inovasi yang signifikan.
“Jangan sampai dari tahun ke tahun itu-itu saja. Tidak ada perubahan yang mendasar,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, kepala madrasah harus memiliki karakter ikhlas, yang bekerja dengan cerdas, dalam menentukan arah, serta pro aktif mengikutsertakan peserta didiknya agar mengikuti berbagai event-event peningkatan akademik dan non akademik.
“Pro aktif mendorong peserta didik dan guru untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat pengembangan mutu akademik,” jelasnya.
“Seperti KSM (Kompetisi Sains Madrasah, Red), olimpiade mata pelajaran dan lain sebagainya, sehingga kedepannya ini harus jadi antensi untuk kita harus tingkatkan partisipasi,” sambungnya.
Tentu, tujuannya ini demi memajukan pendidikan madrasah di Loteng menjadi lebih baik. Untuk mewujudkan semua itu, tentu tidak bisa dilakukan, harus ada sinergi dan kolaborasi.
“Saya mengajak kita semua, meningkatkan kebersamaan dalam memajukan pendidikan madrasah di Loteng ini,” tandas Jaelani.
Ketua Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah NTB Ikmal berharap, adanya peningkatan mutu pelayanan dan pembinaan di madrasah terhadap civitas akademika serta program-program yang sesuai kompetensi guru dan kepala madrasah.
“Madrasah mesti konsentrasi dalam pembinaan kepada guru dan siswa,” ujarnya.
Kepala MAN 1 Loteng Lalu Syahdi mengungkapkan, kegiatan pembinaan tersebut digelar atas inisiatif pengurus KKM, sekaligus mengenalkan kepala MA di lingkup KKM MA di tujuh kecamatan, kepada kepala Kantor Kemenag Loteng yang baru.
“KKM adalah forum kepala madrasah untuk meningkatkan kompetensi kepala madrasah, juga media silaturrahim, pusat informasi dan berbagi keilmuan dan kelembagaan,” jelasnya. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida