Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Unram Gelar Pelatihan Pengolahan Kentang Industri Sembalun

Baiq Farida • Rabu, 2 November 2022 | 18:05 WIB
BERMANFAAT UNTUK MASYARAKAT: Pemateri dan peserta pelatihan dan pendampingan pengolahan kentang industri Sembalun yang digagas Unram, pekan lalu. (Unram for Lombom Post)
BERMANFAAT UNTUK MASYARAKAT: Pemateri dan peserta pelatihan dan pendampingan pengolahan kentang industri Sembalun yang digagas Unram, pekan lalu. (Unram for Lombom Post)
SELONG--Tahun ini, Tim Unram mendapatkan dana penelitian skema Matching Fund Kedaireka dengan melaksanakan diseminasi teknologi perbenihan, budi daya dan pengolahan kentang industri. Kentang yang dibudidayakan petani Sembalun menjadi pokok penelitian, yakni jenis kentang sayur yang berwarna kekuningan, dan kentang industri yang berwarna putih.

”Khusus kegiatan pengolahan kentang ini, melibatkan kelompok wanita tani pelaku UMKM, untuk pengolahan umbi kentang yang mutunya tidak terserap industri. dan membangun wirausaha lokal,” jelas Ketua Tim Matching Fund Unram Aluh Nikmatullah.

Pelatihan tersebut dipandu anggota Tim Matching Fund Unram Ihlana Nairfana. Dia merupakan dosen Teknologi Pangan Universitas Teknologi Sumbawa (UTS).

Dua Kelompok Wanita Tani (KWT) yaitu KWT Segara Muncar asal Desa Sajang dan KWT Sembalun mengikuti kegiatan pendampingan. Berlangsung lima hari, 23-27 Oktober, di Sembalun Agro Hotel dan Resto.

Data menunjukkan, hampir 30 persen hasil panen kentang tidak dapat diserap industri. Disebabkan oleh berbagai faktor semisal ukuran yang terlalu besar, terlalu kecil atau terkena goresan cangkul saat pemanenan. Sehingga perlu dilakukan pengolahan menjadi berbagai macam produk. ”Kegiatan pendampingan pengolahan kentang industri, menjadi berbagai macam produk di antaranya roti kentang, kriuk kentang, stik kentang, donat bomboloni dan kentang panggang,” jelasnya.

Salah satu peserta dari KWT Segara Muncar Hulpa Andriani mengatakan, ia bersama rekan-rekannya, sangat senang mendapatkan pelatihan seperti ini. ”Sebelumnya kami hanya pernah mengolah kentang menjadi keripik, tidak pernah terpikir dapat diolah menjadi banyak macam produk,” terangnya.

Aneka macam produk olahan direncanakan, untuk menjadi oleh-oleh khas Sembalun. Tentu saja agar dapat dipasarkan lebih luas, peserta perlu dibekali dengan keterampilan tata cara pengolahan pangan yang baik. Juga perizinan layak edar produk dan perhitungan analisis bisnis.

Pemateri pelatihan Ihlana Nairfana menyampaikan, prospek pengembangan produk olahan kentang untuk pasar Indonesia. Turut dijelaskan mengenai karakteristik bahan baku kentang, dan nutrisi yang dikandung di dalamnya. ”Termasuk penanganan bahan baku dan bahan pembantu, metode pengolahan dan contoh jenis produk olahan yang dapat dibuat,” kata dia.

Perwakilan Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Timur Heru Biantara mengatakan, peserta juga dibekali pelatihan mengenai Cara Pengolahan Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPB-IRT), dan Prosedur Pengajuan Perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). ”Spek dalam CPPB-IRT, ruang lingkup pemeriksaan sarana produksi, memberikan contoh praktek pengolahan yang baik dan tidak baik, serta memaparkan persyaratan pengusulan PIRT,” jelasnya.

Sebagai output dari pelatihan ini, semua peserta mendapatkan sertifikat penyuluhan keamanan pangan. Ini nantinya digunakan sebagai salah satu persyaratan mutlak untuk mendaftarkan izin PIRT.

Pemateri dari Balai Kemasan Produk Daerah, Dinas Perindustrian NTB Heldy Sardianto mengatakan, peserta pelatihan diberikan penjelasan mengenai fungsi dan jenis kemasan dan peraturan pelabelan dan pemberian merek dagang. ”Di kesempatan itu, kami juga memaparkan regulasi kemasan pangan, konsep packaging dan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pengemasan, khususnya pengemasan produk kentang,” terangnya.

Dia turut memberikan demonstrasi penggunaan mesin vacuum sealer kepada peserta. Catatanya, peserta harus membuat merek dagang dengan nama yang unik dan khas. ”Merek dagang yang akan dibuat harus unik dan baru, belum terdaftar di DJKI,” jelasnya.

Pemateri Dosen Bisnis Digital UTS Tomy Dwi Cahyono menyampaikan materi terkait analisis kelayakan usaha. Di kesempatan ini, ia membuatkan aplikasi digital dengan nama ”DigiSembalun”. Fungsinya untuk pencatatan harian usaha, sehingga nantinya UMKM ini tidak perlu mencatat penjualan harian secara manual.

Melalui aplikasi ini peserta dapat menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP). Termasuk proyeksi keuntungan hanya dalam hitungan menit. ”Dengan begitu, UMKM dapat memprediksikan harga jual produk setelah mempertimbangkan seluruh biaya dan penyusutan. Aplikasi ini telah diserahterimakan untuk dipergunakan peserta membangun bisnis barunya,” tegasnya. (yun/r9)

  Editor : Baiq Farida
#Kentang Sembalun #Matching Fund Keadaireka #Universitas Mataram