Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

DRPKM ITB Latih Mahasiswa Poltekpar Lombok Buat Film dan Video Promosikan Desa Wisata

Ali Rojai • Minggu, 25 Agustus 2024 | 19:30 WIB
PROMOSIKAN DESA WISATA: Dosen ITB, Poltekpar Lombok, SMKN 1 Tasikmalaya, dan mahasiswa Poltekpar Lombok di sela-sela workshop pembuatan film dan video untuk mempromosikan desa wisata.
PROMOSIKAN DESA WISATA: Dosen ITB, Poltekpar Lombok, SMKN 1 Tasikmalaya, dan mahasiswa Poltekpar Lombok di sela-sela workshop pembuatan film dan video untuk mempromosikan desa wisata.

LombokPost-Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRPKM) Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan penelitian, pengabdian masyarakat, dan inovasi (PPMI).

Kali ini, pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan mengadakan workshop pemanfaatan digital teknologi dalam industri kreatif yang pesertanya mahasiswa Poltekpar Lombok.

Workshop yang dilaksanakan di Mataram, Jumat (23/8) mengangkat tema ”Peran Film dan Video dalam Mempromosikan Desa Wisata”.

Ketua Pengabdian Masyarakat DRPKM ITB Hari Febriansyah mengatakan, sosial media (sosmed) adalah contoh nyata perkembangan teknologi digital.

Dampaknya, bisa dilihat, baik secara mikro maupun makro.

Bahkan, kebijakan nasional dan regional juga pengaruhnya dari sosmed. Salah satu contohnya Arab Spring. ”Jadi sosmed bukan hanya jogged saja, namun pengaruhnya besar,” ucapnya.

Kini, sosmed bukan hanya isinya teks saja, namun ada video pendek. Ini terjadi sesuai generasi Z. Karena kemudahan teknologi sangat instan mendapatkan informasi.

Oleh karena itu, perguruan tinggi (PT) memanfaatkan sosmed untuk hal positif dalam pembelajaran. Salah satunya promosi desa wisata.

”Kalau anak dulu kita tanya ingin jadi astronot, pilot, tentara. Tapi kalau anak sekarang ingin jadi konten kreator dan youtuber,” ujarnya.

Pihaknya melihat perkembangan zaman dan pendekatan mendidik mahasiswa. Diyakini ini salah satu bentuk kekinian mengikuti perkembangan zaman.

”Sekarang kita tidak bisa mendidik anak kita gaya dulu. Kalau zaman kita dulu bisa kita duduk tiga jam untuk mendengarkan. Kalau anak sekarang baru 15 menit  sudah mau kemana-mana,” terang Hari.

Begitu juga dengan informasi promosi desa wisata tidak lagi membuat film 30 menit. Tapi bagaimana membuat video pendek dan padatnya konten.

”Anak-anak sekarang jarang mau belajar dari buku, tapi langsung turun ke lapangan,” paparnya.

Selama workshop ini kata dia, para mahasiswa Poltekpar Lombok akan diajarkan secara teknis pengambilan video. Juga mindset usaha dengan memanfaatkan gadget.

Untuk mindset usaha ada tim dari SMKN 1 Tasikmalaya yang akan membantu. Sehingga, warga desa terbuka terkait potensi yang akan dikembangkan.

”Jangan sampai masyarakat menjadi penghambat perubahan. Cuma jangan sampai perubahan mudaratnya lebih banyak dari manfaatnya,” pungkasnya.

Dr Nuning Yanti Damayanti, dosen ITB mengatakan, kegiatan ini sesuai proposal yang diajukan untuk mempromosikan desa wisata.

”Ini program terbaru ITB untuk membangun desa wisata,” tuturnya.

Ia menilai Lombok tersisih dengan Bali.

Namun jika melihat potensinya Lombok itu seperti Bali.

Kini, masyarakat yang ingin wisata untuk menenangkan diri dan mendapat pengalaman spiritual akan datang ke Lombok.

”Ini yang membuat kami memilih Pulau Lombok untuk pengabdian kepada masyarakat. Mudah-mudahan dengan cara promosi yang beda dengan teknologi baru ini bisa menjadi penyeimbang dengan Bali,” urainya.

”Dunia ini dalam genggaman. Kebetulan ITB fokusnya pada sains dan teknologi. Lombok ini value-nya tinggi. Jadi anak-anak harus menguasai teknologi,” ujarnya.

Ia ingin mahasiswa merealisasikan idenya. Apalagi mereka banyak tahu cerita rakyat. Seperti Putri Mandalika, Dewi Anjani, dan sebagainya.

Waka Kurikulum SMKN 1 Tasikmalaya Heri Darliana mengatakan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan ITB dengan menggandeng Poltekpar Lombok adalah kegiatan yang kedua kalinya.

”Kami di sekolah merintis usaha yang memasarkan produk,” ujarnya.

Ia ingin apa yang diterapkan di sekolah bisa dilakukan masyarakat di desa wisata dengan membentuk tim, aplikasi, dan support. ”Kita saja yang usahanya tidak ada produk omzetnya mencapai miliaran,” ujarnya.

Ia membeberkan, di SMKN 1 Tasikmalaya ada 300 UMKM yang dipasarkan produknya. Bahkan wali Kota Tasikmalaya menyerahkan produk ini untuk dipasarkan ke sekolah. (jay/r9/*)

Editor : Kimda Farida
#ITB