LombokPost-Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Karangasem, Bali melakukan studi tiru ke SDN 19 Cakranegara.
Kedatangan rombongan untuk belajar pengelolaan sampah di sekolah yang meraih penghargaan kategori sekolah dengan implementasi kampanye sekolah sehat terbaik di NTB.
”Kok bisa sekolah sebesar ini tidak ada sampah,” kata Kordinator Studi Tiru K3S Kecamatan Karangasem Made Wesyartha Pande.
Pihaknya ingin melakukan studi tiru terkait pengelolaan sampah organik yang dijadikan pupuk cair dan padat.
”Ini yang menjadi daya tarik sehingga kami berkunjung ke SDN 19 Cakranegara,” tuturnya.
Di samping itu, ia tercengang melihat ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang fasilitasnya cukup lengkap. Bahkan, pengelola UKS langsung ditangani tenaga kesehatan, bukan guru. ”Di Karangasem baru digaungkan gerakan sekolah sehat,” cetusnya.
Apa yang didapatkan di SDN 19 Cakranegara akan coba diadopsi. Baik itu pengelolaan sampah organik maupun UKS. ”Sekarang sekolah lagi menyesuaikan anggaran,” ujarnya.
Ia akan membuat sumur dengan kedalaman sekitar enam meter untuk dijadikan tempat pembuangan sampah organik di sejumlah sekolah di Kecamatan Karangasem. Lubang ini nantinya sekaligus sebagai tempat fermentasi pupuk organik.
”Kami akan terus melakukan komunikasi dengan SDN 19 Cakranegara terkait pengelolaan sampah organik menjadi pupuk. Kalau sampahnya sudah full akan kita komunikasi lagi. Tidak putus sampai kunjungan sekarang ini,” urainya.
Ia juga berterima kasih kepada kepala dan guru SDN 19 Cakranegara atas sambutan yang luar biasa.
Memberikan kesempatan bagi rombongan melihat program yang diterapkan di SDN 19 Cakranegara.
”Mulai tahun depan kami akan coba terapkan pengelolaan sampah organik yang kami adopsi di sekolah ini,” pungkasnya.
Kepala SDN 19 Cakranegara Sri Hartini menuturkan, pengelolaan sampah dilakukan di sekolah atas kerja sama semua stakeholder. Murid, guru, pegawai, komite, dan orang tua.
Bahkan pihaknya mendatangkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram.
”Kami diberikan bimbingan dari DLH bagaimana mengolah sampah organik menjadi pupuk,” ucap Sri.
Ia menambahkan, pupuk cair dan padat dari sampah organik dimanfaatkan untuk merawat tanaman di sekolah.
”Jadi kami tidak beli pupuk untuk merawat tanaman di sekolah,” pungkasnya. (jay/r9)
Editor : Kimda Farida