LombokPost - Pada 2 Mei lalu Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang merupakan hari bersejarah dan bermakna bagi perjalanan dunia pendidikan Indonesia.
Perayaan dilakukan dengan menggelar upacara dan berbagai kegiatan lainnya yang menggambarkan semangat membangun pendidikan Indonesia.
Namun di balik perayaan tersebut ada sejumlah harapan ide, dan gagasan dari para guru tentang masa depan pendidikan di Indonesia.
Seperti yang diutarakan guru-guru SDN 33 Mataram usai merayakan Hardiknas Jumat lalu (2/5).
Abdurrahman, guru mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) SDN 33 Mataram menuturkan, pendidikan tidak semata-mata hanya berbicara tentang interaksi pembelajaran antar guru dan murid di sekolah.
Namun pendidikan juga merupakan instrumen penting untuk mencapai spiritualitas ketakwaan seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Salah satu nilai yang paling penting dari sebuah pendidikan adalah ketika mampu berperan menjadi instrumen penting dalam menguatkan spiritualitas seseorang dalam hubungannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya.
Menurutnya, ada dua hal yang menjadikan sebuah pendidikan itu dapat dinilai berkualitas dan berhasil.
Yakni, ketika pendidikan itu mampu mengantarkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menjadikan manusia yang beradab dan barakhlak mulia.
“Tolok ukur penting dalam keberhasilan sebuah pendidikan adalah ketika manusia itu taat pada ajaran Tuhannya dan berakhlak mulia dalam interaksi sosialnya,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kelas VI SDN 33 Mataram Lalu Dimas Dicky Iskandar mengatakan, pendidikan adalah usaha sadar seseorang menemukan potensi dan kemampuan serta jati diri yang ada pada diri setiap manusia.
Kemudian melalui proses ini memperbaiki hal-hal yang buruk menjadi lebih baik.
“Sehingga dalam pendidikan penting sebagai seorang guru untuk memberikan teladan dan sikap yang baik terhadap anak agar tercipta pendidikan yang lebih bermakna,” ucap Dimas.
Menurutnya, keteladanan merupakan hal utama dalam proses pendidikan.
Karena murid seringkali lalai dalam mendengarkan nasehat namun sangat peka dalam menirukan perilaku gurunya.
“Satu tindakan yang baik lebih penting dibandingkan seribu kata-kata nasihat,” ucapnya.
Beda halnya dengan Jannatul Uzmi, guru kelas III-A.
Menurutnya pembelajaran di sekolah harus mengutamakan minat dan bakat masing-masing murid dengan nilai-nilai keadilan, keberagaman.
Nilai kehidupan yang universal lebih utama dari sekadar nilai berupa angka-angka dalam ujian.
“Guru harus mampu menjadikan sekolah sebagai tempat dimana keadilan dan keberagaman diberikan ruang untuk berpotensi dan berkembang sesuai bakat dan minat masing-masing anak untuk menjadi siswa yang kebih baik,” pungkasnya. (jay/r2)
Editor : Kimda Farida