LombokPost- Di tengah hiruk pikuk pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), harapan tak biasa datang dari SMPN 1 Mataram (Spensa). Pihak sekolah justru berharap kuota penerimaan siswa baru tahun ini tidak terpenuhi sepenuhnya.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Sekolah menginginkan kenyamanan dan efektivitas proses pembelajaran tetap terjaga.
Kepala SMPN 1 Mataram Saptadi Akbar, Selasa (1/7), berharap kuota SPMB tahun ini tidak terpenuhi. Sehingga siswa lebih nyaman belajar karena daya tampung di setiap rombongan belajar tidak sampai 45 siswa.
“Mudah-mudahan sih kuota SPMB ini tidak terpenuhi semuanya agar siswa nyaman belajar,” harap Akbar.
Diketahui, pada SPMB tahun ini, kuota penerimaan siswa baru di sekolah yang berlokasi di Jalan Pejanggik itu sebanyak 495 siswa, terbagi dalam 11 rombongan belajar (rombel). Masing-masing rombel dirancang menampung 45 siswa.
Namun hingga kemarin, pendaftar jalur domisili baru mencapai 121 siswa dari total kuota 247 orang. Begitu pula dengan jalur afirmasi yang belum terpenuhi.
“Tadi (kemarin, Red) ada 15 yang daftar jalur domisili,” ucap Akbar.
Ia menegaskan, keinginan agar kuota tidak terpenuhi sepenuhnya bukan berarti sekolah menolak siswa. Tapi semata demi menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.
“Ini bukan berarti kami menolak siswa, namun lebih kepada upaya menjaga kualitas pembelajaran,” ujar Akbar.
Menurut Akbar, jumlah siswa yang tidak terlalu padat dalam satu kelas memungkinkan guru memberi perhatian lebih kepada setiap siswa. Interaksi antara guru dan siswa pun diharapkan lebih intensif.
Suasana kelas juga dinilai akan lebih nyaman, tidak sumpek, dan membuat kegiatan belajar mengajar berjalan lebih efektif.
“Kami ingin setiap siswa mendapatkan pengalaman belajar terbaik di sini. Dengan jumlah yang lebih ideal, fasilitas yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal, dan proses kegiatan belajar mengajar akan jauh lebih efektif,” tambahnya.
Fenomena ini cukup menarik di tengah kondisi banyak sekolah yang berlomba-lomba agar kuota SPMB mereka terpenuhi. Spensa justru mengambil langkah berbeda, memprioritaskan kualitas dan kenyamanan belajar dibanding sekadar mengejar jumlah.
Editor : Siti Aeny Maryam