Kegiatan ini diikuti pesantren di Lombok dengan semangat menjaga tradisi intelektual keilmuan Islam.
Dalam forum perdana ini, isu yang diangkat adalah fenomena hiburan masyarakat yang kini tengah marak, yaitu mancing cross.
Rais Syuriah PCNU Lombok Tengah TGH Ma’arif Makmun, dalam sambutannya menegaskan manfaat besar dari Bahtsul Masail bagi kalangan pesantren maupun masyarakat luas.
Menurutnya, Bahtsul Masail bukan hanya forum diskusi hukum, tetapi juga sarana untuk mempertajam pemikiran dan menjaga keutuhan akidah umat.
“Manfaat berbahtsul masail adalah mengasah kemampuan untuk mencounter paham-paham sesat yang kian menyebar di tengah masyarakat," kata Tuan Guru Ma'arif.
Selain itu, forum ini juga berfungsi untuk menjawab dan meluruskan pemahaman yang sudah mengakar namun keliru..
Sementara itu, tuan rumah sekaligus pengasuh Pondok Pesantren At-Tamimy, TGH Lalu Tamim Khairi Adnan, menekankan pentingnya menjaga warisan keilmuan para ulama, khususnya Nahdlatul Ulama (NU).
“Dalam forum ini kita belajar untuk sepakat dalam ittifaq, dan juga sepakat untuk ikhtilaf atau berbeda pendapat,” jelasnya.
Ketua FBM Pesantren se Pulau Lombok Ustad Ahmad Fiqhul Fahmi menambahkan, bahwa forum ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat akan solusi hukum yang aktual.
Bahtsul masail, kata dia, merupakan ruang bersama untuk merumuskan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan syar’i.
“Forum bahtsul masail pesantren ini menjadi wadah untuk menggali masalah yang berkembang di tengah masyarakat. Jangan sampai masyarakat merasa benar dalam kesalahan," kata Fiqhul.
Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarpesantren se-Pulau Lombok. Di samping itu, menjadi rangkaian haul ke-8 Almarhum TGH Lalu Ahmad Khairi Adnan.
Bahtsul Masail diakhiri doa bersama dan harapan agar kegiatan serupa bisa terus dilaksanakan secara berkesinambungan.
FBM memang mengagendakan digelar secara rutin. Rencananya dilaksanakan 1 kali dalam 3 bulan.
Editor : Siti Aeny Maryam