Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dosen Bumigora Ubah Nasib KWT Melati Putih: Produksi Mie Talas Melejit, Pemasaran Go Digital!

Kimda Farida • Kamis, 18 September 2025 | 16:39 WIB
Tim dosen Universitas Bumigora (UBG) bantu KWT Melati Putih di desa 3T Lombok Utara genjot produksi mie & keripik talas dan kuasai pemasaran digital.
Tim dosen Universitas Bumigora (UBG) bantu KWT Melati Putih di desa 3T Lombok Utara genjot produksi mie & keripik talas dan kuasai pemasaran digital.

LombokPost--Tim dosen Universitas Bumigora (UBG) Mataram sukses mengangkat derajat Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati Putih di Desa Sambik Bangkol, Lombok Utara.

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), tim multidisiplin yang terdiri dari Wira Hendri (Manajemen), Syamsur Rijal (Sastra Inggris), dan Heroe Santoso (Rekayasa Perangkat Lunak) ini membantu kelompok tani di desa 3T tersebut untuk melakukan transformasi bisnis secara digital.

KWT Melati Putih yang mengolah umbi talas menjadi mie sehat dan keripik talas sebelumnya hanya memproduksi dalam jumlah terbatas dengan peralatan sederhana.

Permasalahan klasik seperti pemasaran yang masih tradisional dan keterbatasan varian produk membuat penghasilan kelompok tidak menentu.

“Kami hadir untuk memberikan solusi tepat guna, fokus pada peningkatan kuantitas, kualitas, dan yang paling penting, pemasaran digital,” ujar Wira Hendri, ketua tim PKM.

Intervensi yang dilakukan berupa pelatihan produksi dengan alat yang lebih modern dan higienis, diversifikasi rasa, serta pelatihan intensif digital marketing.

Anggota KWT yang awalnya gagap teknologi, kini dibimbing untuk menguasai pembuatan konten promosi, mengelola akun Instagram, Facebook, dan TikTok, serta membangun branding yang kuat.

Hasilnya sangat nyata.

Produksi keripik talas melesat dari 8 kg menjadi 16 kg per hari.

Sementara produksi mie talas sehat juga naik dua kali lipat, dari 10 kg menjadi 20 kg per hari.

Tidak hanya itu, pemasaran yang sebelumnya hanya mengandalkan pasar lokal, kini sudah merambah ke ranah digital dan menerima pesanan dari luar daerah.

“Sekarang kami punya keberanian untuk menjual lebih luas. Ilmu dari dosen Universitas Bumigora sangat bermanfaat,” tutur salah satu anggota KWT dengan antusias.

Keberhasilan program PKM Universitas Bumigora ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara dunia kampus dan masyarakat, terutama di desa 3T, dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Editor : Kimda Farida
#Universitas Bumigora (UBG) #KWT Melati Putih