Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Penutupan PKKMB, Rektor UBG Ajak Mahasiswa Baru Bersama Cegah Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus

Kimda Farida • Senin, 22 September 2025 | 09:16 WIB
Penyuluhan jajaran DP3A Kota Mataram, tentang tindak pencegahan kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus pada PKKMB Universitas Bumigora, Sabtu (20/9).
Penyuluhan jajaran DP3A Kota Mataram, tentang tindak pencegahan kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus pada PKKMB Universitas Bumigora, Sabtu (20/9).

LombokPost--Implementasi masa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di lingkungan Universitas Bumigora resmi ditutup pada Sabtu (20/9) di kampus setempat.

Ribuan mahasiswa baru yang mengikuti kegiatan PKKMB itu kini telah siap memulai kehidupan pembelajaran kampus berdampak berkurikulum OBE (Outcome Based Education) di Kampus Jalan Ismail Marzuki Kota Mataram ini.

Rangkaian acara penutupan dimulai dengan sambutan oleh rektor, diikuti dengan pengenalan berbagai UKM mahasiswa dan show performance dari masing-masing perwakilan prodi yang ada di UBG.

Juga, atraksi kesenian berciri budaya kedaerahan, baik dari NTB maupun NTT.

Selain itu, acara juga diselingi dengan materi sosialisasi dari Dinas DP3A Kota Mataram, yang mengusung materi pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus. Dan sosialiasi materi anti narkoba oleh BNN Kota Mataram.

Rektor UBG, Prof. Anthony Anggrawan, mengatakan bahwa dengan ditutupnya masa PKKMB di UBG, secara resmi turut mengukuhkan para pesertanya menjadi mahasiswa di lingkungan civitas akademika Universitas Bumigora.

Pose bersama civitas akademika UBG dan mahasiswa baru, beserta pihak sponsor dan perwakilan intansi pemerintah terkait.
Pose bersama civitas akademika UBG dan mahasiswa baru, beserta pihak sponsor dan perwakilan intansi pemerintah terkait.

Dia berpesan agar para mahasiswa dapat menjadi pilar kebangsaan dengan kekuatan karakter yang dimiliki.

Selaras dengan materi pembekalan dalam PKKMB.

Terkait dengan materi sosialisasi yang menyasar pada kekerasan seksual yang berpotensi terjadi di lingkungan mahasiswa.

Baik saat interaksi antar sesama mahasiswa maupun dengan civitas dosen saat proses perkuliahan.

Prof. Anthony, selaku Rektor turut menghimbau agar mahasiswa memiliki keberanian dalam bersikap, bersuara maupun melaporkan tindakan tersebut.

Jika dirasa terdapat unsur pelecehan didalamnya.

Menurutnya, hal tersebut memang tidak dapat dipungkiri bisa terjadi.

Lantaran selama berkegiatan di kampus, proses interaksi berlawanan jenis individu memang sering terjadi.

Oleh sebab itu, demi menjaga nama baik kampus, khususnya dari potensi pelanggaran hukum demikian dan tercipta lingkungan kampus yang aman dan bebas dari kekerasan seksual, pihak kampus UBG telah membentuk unit Satuan Tugas Pencegahan Dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT).

Satgas tersebut dibentuk, berdasarkan peraturan dari Permendikbudristek No.55 Tahun 2024, yang tugas utamanya melakukan edukasi dan sosialisasi, penerimaan dan penanganan laporan kasus, pendampingan korban dan pemantauan pelaksanaan kebijakan.

“Kami di Universitas Bumigora cukup tegas ya, kepada pelaku tindakan pelecehan maupun kekerasan jenis ini. Apalagi jika terbukti bersalah, terindikasi melakukan tindakan saja, beberapa dosen yang sempat mengajar di sini (UBG, red.) bahkan langsung kami keluarkan,” tegas Rektor Anthony.

Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram, Yunia Arini, mengatakan bahwa sepanjang tahun 2024 ada 976 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di NTB.

Bahkan beberapa kasus diantaranya yang viral malah terjadi di institusi pendidikan tinggi.

Untuk itu, dirinya berpesan kepada mahasiswa baru UBG saat acara PKKMB itu, bahwa mencegah kekerasan adalah tanggung jawab kita bersama.

Karena itu, jika mahasiswa merasa mendapat perlakukan yang tidak nyaman atau pelecehan, supaya segera melaporkan kepada pihak satgas di kampus setempat, agar mendapat respon secepatnya.

“Karena kan, ketika Kita lebih cepat memutus mata rantai (kekerasan) itu, akan lebih cepat kita tangani (kasusnya, red.). Kalau kita biarkan, si korban itu akan stres biasanya, karena tidak tau harus bicara kemana,” tuturnya.

Untuk itu, selaku Plt. Kadis, Arini bersama seluruh jajarannya di DP3A Kota Mataram, menggiatkan sosialisasi ini sebagai langkah pencegahan.

Secara masif kepada masyarakat, utamanya menyasar lingkungan pendidikan tinggi.

“Wujudkan ruang aman mulai dari diri kita. Jadilah individu yang berani bersuara dan peduli pada sesama. Mari kita ciptakan lingkungan kampus dan masyarakat yang bebas dari kekerasan,” pesannya. 

 

Editor : Kimda Farida
#Universitas Bumigora (UBG)